Belajar Perikanan Lestari dari Lembata

Ketika pemerintahan baru Jokowi-Jusuf Kalla sibuk memerangi pencurian ikan dan melarang penggunaan pukat harimau (trawl), jauh-jauh hari nelayan di Kabupaten Lembata memiliki kearifan lokal dalam melestarikan kekayaan laut. Seperti apa?

PAPARAN data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lembata dan penelusuran yang saya lakukan memberi gambaran lansung bahwa sumber daya laut Lembata masih terjaga kelestariannya. Hal ini tidak semata-mata karena dikelola oleh usaha perikanan yang berskala kecil, namun masyarakat Lembata ternyata juga memiliki tradisi luhur dalam menjaga kelestarian alam termasuk menjaga kelestarian alam pesisir dan laut.

Di hampir semua wilayah Kabupaten Lembata memiliki konsep sendiri-sendiri untuk menjaga kelestarian alam. Di Ile Ape misalnya, dikenal dengan nama badu atau muro, warga Lamalera mengenal konservasi lokal dengan nama leva nuang, wilayah Kedang disebut dengan poan kemer puru larang. Kendati dengan sebutan yang berbeda –sesuai bahasa setempat–, namun prinsipnya konsep kearifan lokal masyarakat Lembata ini memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga keseimbangan alam pesisir dan daratan, juga antara alam dan manusia.

Konsep badu sebagaimana yang diterapkan di Desa Watodiri, Kecamatan Ile Ape adalah ritual penutupan areal laut dari aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan yang berlaku untuk umum dan dipatuhi secara turun-temurun. Upacara penutupan areal laut atau badu dilakukan dengan menggelar ritual adat yang dipimpin oleh molan (dukun kampung). Untuk Desa Watodiri, molan biasanya dari keturunan suku Do Making.

Nelayan Lembata membawa pulang ikan hasil melaut. (Foto: FBC/Yogi Making)

Nelayan Lembata membawa pulang ikan hasil melaut. (Foto: FBC/Yogi Making)

 

Laut Desa Watodiri, laut yang di badu. Warga Desa Watodori, Damianus Dudeng belum lama ini menjelaskan, ritual buka badu dilakukan dua kali dalam setahun. Pun pada saat-saat tertentu yang dihitung berdasarkan kalender musim. Biasanya, buka badu bertepatan dengan musim laut surut.

“Dalam satu tahun buka badu dua kali, tetapi tidak tentu waktunya kapan karena di hitung berdasarkan kalender musim oleh orang-orang tertentu dalam desa. Biasanya bertepatan dengan musim laut surut besar, waktu bukanya pun hanya sampai akhir musim surut itu selesai atau diperkirakan satu minggu,” jelas Dudeng.

Dia menambahkan, ritual buka badu merupakan pesta penangkapan ikan yang ditunggu-tunggu oleh warga Watodiri juga warga di desa-desa sekitar. Sekali turun melaut, ratusan ikan berbagai jenis bisa dibawa pulang.

Saat buka badu, warga bebas menangkap ikan, termasuk ikan yang tersangkut di pukat yang sengaja dipasang sebelumnya. Menariknya, hasil tangkapan setiap warga yang turun melaut, wajib disumbangkan ke desa untuk dibagi kepada warga berkebutuhan khusus, seperti lumpuh, juga tuna netra.

“Ada petugas Linmas (perlindungan masyarakat) yang disiapkan di darat. Setiap warga yang ikut buka badu wajib memberi sumbangan ikan seikhlasnya yang diambil oleh petugas Linmas. Sumbangan itu akan dibagikan ke warga desa yang tidak  ikut melaut seperti orang lumpuh, dan buta,” ujar Dudeng. Sepanjang masa tutup badu, aktivitas nelayan baik dengan pukat atau pun memancing dilarang.

Seperti dijelaskan pada bagian terdahulu, badu sangat dipatuhi oleh warga, termasuk warga lain di luar Desa Watodiri. Tidak main-main, siapa pun warga yang berani melanggar badu entah karena ketidaktahuan atau pun dengan sengaja, dikenakan sanksi berupa denda sebesar Rp 1 juta yang dibayarkan ke kas desa. Uang denda dimanfaatkan untuk pembangunan desa. Di samping itu, warga percaya kalau melanggar badu berarti siap mengghadapi kesialan dalam hidup, seperti rezeki yang berkurang, bahkan sakit yang bisa menimbulkan kematian.

“Pantangan dan denda itu berlaku untuk umum. Jadi tidak peduli warga sendiri atau warga dari luar. Tetapi tidak pernah ada orang yang melanggar karena warga kita adalah warga yang patuh dengan hukum adat. Orang tidak takut dengan denda Rp 1 juta, tetapi orang lebih takut dengan bala yang akan menimpa mereka kelak. Risiko adat itu lebih berat dari sekedar sanksi uang atau hewan,” jelas Damianus.

Dudeng mengatakan, ketaatan warga terhadap pantangan, pelan-pelan membangun kesadaran untuk menjaga lingkungannya. Dengan tradisi badu, masyarakat belajar untuk saling peduli, tidak saja kepada alam, tetapi juga kepada sesama manusia. Konservasi lokal yang oleh masyarakat Ile Ape dan Ile Ape  Timur menyebutnya dengan badu atau muro  mirip dengan poan kemer puru larang yang diterapkan masyarakat Kedang.

Leva Nuang

Konservasi lokal juga di lakukan oleh nelayan pemburu ikan paus di Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni. Di Lamalera  budaya konservasi dikenal dengan leva nuang.

Leva nuang, merupakan musim perburuan paus secara tradisional oleh para nelayan Lamalera dengan menggunakan peledang (perahu tradisional) dan kafe (tempuling) untuk menikam paus. Ada pun jenis paus yang diburu oleh nelayan Lamalera adalah paus jenis sperm whale (kote klema), dan jenis paus pemburu yang dalam bahasa setempat disebut seguni. Musim perburuan paus di Lamalera berlangsung dari bulan Mei (2 Mei) hingga 30 Oktober setiap tahunnya. Tidak semua paus buruan dibunuh oleh nelayan Lamalera.

Sebagaimana sebuah tradisi, masyarakat adat Lamalera sebelum memasuki musim leva, terlebih dahulu melakukan beberapa rangakaian ritual. Di antaranya, ritual tobu nama fata atau ritual pertemuan antar-suku di Lamalera dengan suku tuan tanah di Desa Lamamanu, Kecamatan Wulandoni.

Dalam pertemuan ini, semua masalah yang terjadi di leva nuang tahun sebelumnya,  dibahas serta dicarikan jalan keluar. Orang Lamalera percaya, jika ada masalah terutama antara suku-suku di Lamalera dengan suku Lango Fujo sebagai suku tuan tanah tidak diselesaikan, maka musim leva akan gagal atau tidak mendapatkan paus.

Setelah ritual tobu nama fata, selanjutnya digelar upacara ie gerek atau upacara pemanggilan paus yang dilakukan di lokasi ritus batu paus yang terletak di Desa Lamamanu. Bagian akhir ritual sebelum masuk musim leva, terjadi pada tanggal 1 Mei yang di tandai dengan persembahan misa bagi arwah nelayan Lamalera yang meninggal akibat kecelakaan selama mencari paus, sekaligus memohon bantuan Allah sang pemberi hidup untuk melindungi setiap nelayan yang turun melaut.

 

Penjual ikan di Pasar Lewoleba menjajakan ikan segar. (Foto: FBC/Yogi Making)

Penjual ikan di Pasar Lewoleba menjajakan ikan segar. (Foto: FBC/Yogi Making)

Infomasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, nelayan Lamalera tidak sembarang membunuh paus. Paus betina yang hamil pantang dibunuh oleh nelayan Lamalera. Pelaut Lamalera juga paham betul, paus buruan mereka mau untuk dibunuh atau menolak untuk menjadi korban. Jika memaksa membunuh paus yang menolak untuk dibunuh, biasanya bala segera mendera mereka. Risiko terburuk adalah meninggal dunia akibat terkena sundulan kepala paus atau terkena kibasan ekor paus, bahkan banyak nelayan yang hilang entah ke mana. Di laut, orang Lamalera punya aturan sendiri, dan sangat dipatuhi oleh setiap nelayan Lamalera. Melanggar, sama artinya dengan mati.

Selaras

Kabupaten Lembata adalah salah satu dari sekian banyak daerah di Nusantara ini yang memiliki prospek usaha perikanan dan kelautan yang menjanjikan. Kendati demikian, antara pembangunan perikanan dan kelautan dengan pemberdayaan kearifan lokal, tampak belum berjalan secara selaras.

Banyak program dan kegiatan pembangunan yang melibatkan masyarakat pesisir dan nelayan, umumnya masih didesain dari atas (top down). Kearifan lokal dan tradisi serta aturan-aturan adat belum dilirik sebagai suatu yang dapat menjembatani suksesnya program kegiatan pembangunan.

Padahal di sisi lain, adanya pemberdayaan kerarifan lokal dan pelibatan masyarakat dalam keseluruhan proses dapat membangkitkan kesadaran, motivasi, keikhlasan dan kesungguhan hati. Sehingga masyarakat lokal ikut bertanggung jawab secara penuh terhadap suksesnya suatu program. Selanjutnya, perilaku positif yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya peisir akan mampu bertahan dan menjadi dasar filosofi dalam membangun kehidupan bersama dengan makhluk lain secara serasi, selaras, dan harmonis dengan lingkungan dalam satu komunitas ekologis. (*)

Penulis: Yogi Making

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Krisis Air Mendera Gera

Next Story »

Gua Batu Cermin, Firdaus di Jantung Kota

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *