Yulius Paru, Gagal Jadi PNS Sukses Sebagai Nelayan

Suratan hidup manusia hingga sekarang masih menjadi misteri Tuhan. Setelah dua kali gagal mengikuti tes CPNS, sarjana ini sukses sebagai nelayan. Bagaimana kisahnya?

MENJADI seorang nelayan pada awalnya tak ada dalam benak anak muda ini. Mata pencaharian sebagai nelayan bagi masyarakat kota  Larantuka dianggap profesi yang kurang menjanjikan dan dipandang sebelah mata.

Bagi Yulius A.B.Paru menjadi nelayan adalah takdir dan sudah menjadi garis tangannya. Dua kali gagal menjadi pegawai negeri sipil ( PNS ) di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Ende, tidak membuat hidup  jebolan Strata Satu ( S1 ) Universitas Gajayana, Malang, ini jadi ‘kiamat’. “Sempat frustasi saat gagal jadi PNS, tetapi hidup harus tetap berjalan. Manusia boleh berusaha, tapi Tuhan yang berkehendak, “ ujarnya.

Lius sapaan akrab lelaki pekerja keras ini, belum lama ini mengajak saya mengikutinya bekerja mengawasi dan mengatur pengisian bahan bakar minyak (BBM) di TPI ( tempat pelelangan ikan ) Amagarapati. Perbincangan dilanjutkan sambil menikmati pelayaran di atas kapalnya menempuh jarak 5 kilometer dari TPI Amagarapati hingga tempat penjualan ikan di perusahaan ikan Okhisin.

Yulius AB Paru (kaos merah) meski bertitel sarjana tidak malu menjadi nelayan, dan hidup berkecukupan. Foto: FBC/Ebed de Rosary

Yulius AB Paru (kaos merah) meski bertitel sarjana tidak malu menjadi nelayan, dan hidup berkecukupan. Foto: FBC/Ebed de Rosary

Bahkan saya ikut melihat proses pembongkaran ikan, memuat balok es sampai kapal kembali bertolak mengais rezeki di lautan. Dalam perjalanan pulang hingga berada di rumahnya pun saya terus manfaatkan waktu luangnya buat menggali informasi. Ceritera terus mengalir dari mulutnya. Kadang diucapkan penuh semangat, kadang harus menahan haru bila terbayang masa sulit dan pertentangan batin yang dulu dilaluinya.

Mengelola Kapal

Dikisahkan Luis, oleh sang kakak, Yohanes N.D Paru dirinya diberikan kekuatan dan kepercayaan mengelola kapal nelayan miliknya. Waktu bersekolah dirinya sering melihat kakaknya memancing dan mengelola kapal ikan Pole and Line penangkap cakalang. Hal inilah yang menumbuhkan jiwa nelayannya.

Tekad untuk sukses melakoni profesi nelayan membawanya mengarungi samudera, memancing bersama kapal milik kakaknya, pertengahan tahun 2007 lalu. Dirinya  diberi kesempatan belajar bagaimana memancing, membeli umpan, mengetahui tanda-tanda keberadaan ikan, membaca peta hingga kompas.  “Setelah enam bulan saya dipercaya kakak jadi kapten kapal ikan miliknya, “ sebut anak muda kelahiran 1 Juli 1975 ini.

Akibat krisis ekonomi, 5 hingga 6 kapal milik perusahaan KCBS ( Karya Cipta Buana Sentosa) yang bertonase 75 ton dibawa ke luar Provinsi Nusa Tenggara Timur. Karena kapal milik kakak ikut ditarik perusahaan, dirinya bersama para ABK ( anak buah kapal )  terpaksa menganggur. “ Sempat jadi ojek, akhirnya saya ikut kapal ikan milik nelayan di Kelurahan Pohon Sirih selama enam bulan,”tutur suami Maria Goreti Imaculata ini mengenang.

Di tahun 2008, pemerintah daerah Kabupaten Flores Timur (Flotim) melalui Dinas Perikanan mengeluarkan surat penertiban mengenai dana guliran dan seleksi ulang pembagian kapal nelayan. Banyak kapal Pole and Line bantuan buat nelayan yang tidak dipergunakan sesuai hak dan kewajiban dalam kontrak, ditarik Dinas Perikanan Flotim.

Momen ini menjadi pembuka jalan bagi anak muda yang bermukim di RT 06 RW 02 Kelurahan Amagarapati, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flotim ini, menawarkan diri ke Dinas Perikanan Flotim untuk mengelola sebuah kapal Pole and Line. “ Saya sebelumnya dua kali ajukan proposal yakni tahun 2005 dan tahun 2007. Setelah melakukan pendekatan, akhir tahun 2008 kapal ikan bertonase 22 gross ton dengan kapasitas tampung tangkapan 12 ton diserahkan pada saya, “ beber ayah tiga orang anak ini.

Minimal Rp 10 Juta

Setelah mendapatkan kapal, para nelayan dikumpulkan dan mulai mempersiapkan kapal serta  segala perlengkapan memancing. As mesin dan baling-baling diganti. Peralatan pancing dipersiapkan dan kapal dibersihkan. Satu bulan pengerjaan, kapal siap dioperasikan.

Akibat musim Barat, kondisi laut tak memungkinkan untuk berlayar, membuat mereka harus jeda dan menunggu hingga dirasakan aman untuk melaut. “Bulan Juli tahun 2009, kapal mulai aktif beroperasi. Kami menangkap ikan cakalang, tongkol, ekor kuning, dan tuna. Saya yang nahkodai sendiri,”tutur saudara dari Kristoforus Paru yang juga memiliki sebuah kapal sejenis.

Ikan cakalang, tuna ekor kuning menjadi tangkapan utama kapal milik Yoseph Paru. (Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Ikan cakalang, tuna ekor kuning menjadi tangkapan utama kapal milik Yulius Paru. (Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Dalam rentang waktu dua tahun, dirinya yang menahkodai kapal. Setelah para nelayan sudah bisa mengelolanya sendiri, dia memberikan kepercayaan kepada nahkoda sambil tetap memantau, mengurus, mengawasi, dan memberikan informasi bagi para nelayannya.

Dalam sebulan, saudara dari Aloysius Paru, ini bertugas melempar umpan (boi-boi) di kapal Pole and Line ini. Usaha ini bisa mendapatkan keuntungan bersih minimal Rp 10 juta setelah dipotong biaya cicilan kapal sebesar Rp 5 juta sebulan ke Dinas Perikanan,  biaya melaut, ganti peralatan pancing, perbaikan kapal, ganti mesin (temporer ) dan lainnya.

Tentunya ini tidak termasuk pemasukan dari bagan miliknya. Hasil yang didapat menjadi nelayan dan mengelola kapal ikan, dirinya bisa membeli bagan seharga Rp 65 juta, mobil pikap, tiga buah motor, membangun rumah bernilai ratusan juta rupiah serta ditabung di bank dan asuransi, membiayai sekolah anak, dan keperluan rumah tangga sehari – hari.

Seperti Bisnis

Suka duka menjadi nelayan tentunya dirasakan juga oleh adik dari Yohanes  N.D.Paru ini. Baginya, mengurus kapal ikan dengan 18 ABK yakni satu orang nahkoda, satu orang kepala kamar mesin, satu orang pelempar umpan (boi-boi), dua orang koki serta sisanya pemancing, tentu memerlukan kiat dan pendekatan tersendiri.

Jiwa sosial dan pendekatan kekeluargaan coba diterapkan. Sukanya, kata Lius, tentu tak bisa dipungkiri bahwa hasil dari nelayan, tingkat ekonomi menjadi lebih baik. Bisa memberikan kesempatan kerja kepada para nelayan dan bangga mereka bisa sukses dan menghidupi keluarga walaupun mereka hanya seorang nelayan, tutur lelaki energik ini.

Dukanya, kalau tidak ada umpan kami tidak bisa memancing, kapal mengalami kerusakan, dan juga musim Barat atau musim paceklik di akhir Desember  hingga Februari di mana kapal tak bisa beroperasi.

Kepada para nelayan Lius berpesan agar jangan malu melakoni pekerjaan ini. Ini adalah pekerjaan kita yang mulia, kata anak dari pasangan almarhum Paulus Penga Paru , purnawirawan Polri dan Lutgarda Riberu ini lagi.

Pengelola atau ketua kelompok harus menjalin hubungan baik dengan para ABK dan menumbuhkan rasa saling memiliki, kata Lius. Secara tidak langsung, pengelola sebutnya harus menciptakan kondisi sebagai pelaku usaha perikanan. Harus dibuat seperti bisnis sehingga ada keinginan dan pemikiran untuk maju dan berkembang. Dua belah pihak, baik pengelola maupun anak buah kapal harus ada rasa seperti itu “ pungkasnya. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Doa dan Berkat Uskup Menguatkan

Next Story »

“Saya Bangga Sebagai Orang Flores”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *