Yang Gersang yang Jadi Peluang

Bagi sebagian orang, tanah tandus dan gersang menjadi hambatan untuk dijadikan lahan pertanian. Di Ile Ape, tandusnya lahan pertanian menjadi peluang bisnis pertanian organik. Seperti apa?

SIAPA pun yang mengenal Lembata dengan baik tentu akan menyebut Ile Ape adalah daerah dengan iklim panas dan gersang. Kendati begitu, masyarakat di sana umumnya bekerja sebagai petani. Daerah yang terletak persis di kepala Pulau Lembata itu hampir di pastikan, setiap tahunnya mengalami gagal panen.

Kecamatan Ile Ape terletak pada poisisi 08°16’15” Lintang Selatan (LS) dan 123°30’18” Bujur Timur (BT). Secara umum curah hujan tertinggi di Kabupaten Lembata tercatat sebesar 1.705 mm dengan hari hujan sebanyak 103 hari, sementara daerah dengan curah hujan tinggi terutama terdapat di Kecamatan Lebatukan, dan Atadei.

Badan Statistik Kabupaten Lembata mencatat, curah hujan terendah dan sering terjadi kekeringan di musim kemarau berada di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.  Lembata termasuk daerah beriklim tropis dengan musim kemarau yang panjang rata-rata 9-10 bulan dan musim hujan yang relatif singkat rata-rata 2-3 bulan.

Kondisi  alam Ile Ape yang demikian, membuat sebagian besar masyarakatnya tidak lagi menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian utama. Banyak orang Ile Ape terutama generasi mudanya mulai milirik sektor wiraswasta atau menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Sebagaian lagi bahkan memilih mencari pekerjaan di luar Lembata termasuk menjadi buruh migran mandiri ke beberapa negara tetangga di antaranya, Malaysia, Brunai Darussalam, juga Singapura.

Pondok Nugu Integrated Green Farming. (Foto: FBC/Yogi Making

Pondok Nugu Integrated Green Farming. (Foto: FBC/Yogi Making

Pilihan berbeda dilakukan oleh Yohakim Deke Koko Making dan Syamsul Bahri. Dua pria beda asal itu malah terobsesi untuk membangun usaha pertanian di Ile Ape. Tak mau takluk kepada alam Yohakim dan Syamsul berjibaku merubah lahan kritis menjadi lahan produktif. Kegersangan Ile Ape yang menjadi hambatan bagi sebagian besar orang, menjadi tantangan dan peluang bagi mereka berdua.

Hal ini bukan sekedar isapan jempol, bermodalkan lahan milik Yohakim Deke Koko Making seluas 1, 5 hektar, mereka membidik usaha pertanian terpadu dengan sistem organik. Beragam jenis tanaman yang ditanam di atas lahan yang mulanya kritis itu perlahan namun pasti mulai menunjukan tanda keberhasilan. Bahkan sampel buah dari hasil jerih payah mereka selama dua tahun sudah dikirim ke salah satu laboratorium pertanian di Jakarta untuk diteliti kadar kimianya. Jenis tanaman buah yang diusahakan pun adalah jenis tanaman pilihan, tidak sekedar bibit asli Indonesia. Banyak di antara adalah jenis tanaman impor.

Di atas lahan yang terletak di Nugu Desa Muruona, Kecamatan Ile Ape, selain mengusahakan tanaman buah, Deke dan Syamsul juga mengembangkan ikan budi daya jenis lele sangkuriang dan ternak sapi. Dari sapi-sapi yang baru dikembangkan mereka berharap dapat menghasilkan biogas sebagai sumber energi di lahan tempat usaha mereka.

Lahan yang terlihat kontras dengan kondisi alam sekitarnya itu membuat saya tercengang. Betapa tidak? Pohon mangga yang baru tumbuh setinggi dada orang dewasa itu tampak berbuah lebat. Buah mangga tampak ranum menggelantung hingga ke tanah. Demikian juga dengan pepaya, kelengkeng, dan beberapa jenis tanaman lain, semua tampak segar menyambut kedatangan setiap pengunjung.

Decak kagum saya tak ada hentinya kala Syamsul pria kelahiran Solo, Jawa Tengah ini, mengajak saya mengitari kebun, sembari menjelaskan jenis dan umur tanaman serta tata kerja di Nugu Terpadu. Dan menariknya, Syamsul juga Yohakim Deke sang pemilik lahan tidak berlatar belakang pertanian. Usaha itu dibangun hanya bermodalkan semangat dan kecintaan terhadap alam.

Yohakim Deke Kokomaking adalah putra asli Desa Muruona yang kini meniti karier sebagai dosen Bahasa Inggeris di President University, Cikarang, Bekasi. Sementara Syamsul adalah seorang tukang bangunan tamatan sebuah Sekolah Menengah Kejuruan. Sayang, tak berhasil menemui Yohakim saat bertandang. Menurut Syamsul, pemilik lahan itu hanya sesekali datang ke Lembata, terutama saat liburan. Seluruh manajemen usaha dikelola oleh Syamsul.

Pria Solo itu mengatakan, awal membangun usaha terasa berat bahkan sempat berpikir untuk pulang ke Bekasi, tempat tinggalnya. Dia menuturkan, selain melawan kondisi iklim yang ekstrim, mereka juga berhadapan dengan rasa pesimistis warga. Di samping itu lahan yang kini ditumbuhi berbagai jenis tanaman buah itu awalnya merupakan hutan gamal dan lamtoro.

“Pak Yohakim terus memotivasi saya, supaya sabar dan terus bekerja. Kalau tidak saya pulang. Bagaimana saat masuk awal, lahan ini dipenuhi dengan tanaman gamal dan lamtoro yang besar-besar. Kami harus kerja keras untuk tebang, apalagi kita nggak terbiasa dengan iklim yang panas. Saat sedang kerja, banyak warga di sini memandang kami seperti orang gila,” keluhnya.

Berkat ketabahannya itulah, kendati belum seluruhnya mencapai harapan, namun Yohakim dan Syamsul patut berbangga. Setidaknya, mereka mampu menunjukan kepada warga bahwa mereka yang dulunya dianggap “gila” kini mampu mengubah alam.

Tata Kelola Usaha
Agar usaha mencapai sukses, Nugu Integrated Green Farming memiliki tata kerja sebagai landasan usaha. “Ini usaha berskala industry, jadi kami punya landasan kerja. Nanti abang bisa lihat di pondok,” kata Syamsul sambil memetik beberapa buah pepaya ranum dan menyerahkan kepada saya sebagai oleh-oleh.

Sebagai gambaran, tepat di pintu masuk lahan, terdapat sebuah bangunan berbahan dasar bambu. Menurut Syamsul, bangunan klasik itu merupakan penginapan sekaligus pusat informasi tentang usaha Nugu Terpadu.

Syamsul yang terbiasa dengan keramaian kota, terpaksa hidup menyendiri ditemani tanaman dan ternak piaraannya. Nugu terletak kurang lebih dua kilometer dari Desa Muruona, atau empat kilometer dari pusat kota Lewoleba. Jarak yang terbilang dekat, namun lahan di sekitar Nugu merupakan lahan pertanian dan lahan gembala ternak sapi milik warga Muruona.

Setelah puas mengitari lahan, Syamsul mengajak saya ke pondok. Seperti janjinya, dia menggambarkan secara jelas landasan usaha Nugu Terpadu. Syamsul menjelaskan, Nugu Terpadu melirik pasar supermarket di wilayah perkotaan terutama kota besar di Jawa. Karena itu, karena usaha pertanian Nugu Terpadu dikelola dengan sistem pertanian organik, dibawah moto Multum In Profo (berbuat dari yang terkecil-Red) dengan merujuk pada prinsip-prinsip kerja di antaranya:

Berusaha merupakan wujud tanggung jawab manusia atas kepercayaan sebagai pengelola dan pemelihara alam yang dilimpahkan oleh Sang  Pencipta (bdk; Kitab Kejadian 2:15), bekerja berarti berdoa (laborere est orare), bekerja menghalau tiga hal yang membelenggu, rasa bosan, kejahatan, dan kemiskinan (Voltaire).

“Jadi kalau kita menjalankan semua prinsip kerja itu, kami meyakini kalau bekerja dengan suka cita, ketekunan, totalitas, bertujuan memuliakan diri, kesejahteraan niscaya hadir sebagai dampaknya,” kata Syamsul dengan senyum ceria.

Syamsul juga mengatakan, Nugu Integrated adalah murni usaha perorangan yang jauh dari intervensi pemerintah daerah. “Sepanjang kami berkarya sebagai petani dan pengelola usaha di sini, kami tidak pernah berhubungan dengan pemerintah, apalagi mendapat bantuan dana, bibit atau apa pun,” jelasnya.

Tata Kelola Lahan
Sebagaimana dalam ulasan terdahulu, lahan seluas 1,5 hektar itu kini ditumbuhi dengan berbagai jenis tanaman buah, tempat budidaya lele, dan ternak sapi. Semua usaha ini menjadi mustahil jika hanya berharap siraman hujan.

organik-02

Bak penampung air, sumber kehidupan bagi Nugu Integrated Green Farming. (Foto: FBC/Yogi Making)

Terkait dengan hal ini, Syamsul menunjuk sebuah bak air permanen berukuran 7 meter x 7 meter dengan tinggi 2 meter yang dibangun pada sisi Timur lahan. Air yang ditampung dalam bak ini bersumber dari sumur bor yang tak jauh dari Nugu Terpadu. Air dari bak inilah kemudian dialirkan melalui jaringan pipa yang sudah terbangun hingga ke pematang kebun untuk menyiram tanaman, juga sebagai air minum ternak.

Adapun jenis tanaman yang sedang dikembangkan dalam areal Nugu Terpadu ini antara lain, mangga 10 jenis (mangga cokanan, mangga irwin, mangga kiojay, emperor, uwen, apel india, okiong, gedung gincu, golden hidden), pepaya (jenis california dan read king), jeruk bali, jeruk malaysia, kelengkeng pingpong, belimbing dewa, dan nangka cempedak.

Untuk mewujudkan mimpi membangun energi biogas, pada lahan ini dikembangkan juga sapi bali yang hingga tahun kedua usaha sudah berkembang menjadi delapan ekor yang terdiri dari empat betina dan empat jantan.

“Selain itu ada lele sangkuriang, dan kami sudah uji panen sebanyak dua kali. Sekali panen kita dapat 50 ribu ekor, tapi kami belum jual. Kami ajak masyarakat untuk datang ke sini lalu kami masak rame-rame kemudian kami cicipi bersama,” katanya bangga. Cara ini, kata Syamsul, sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat dan pelan-pelan menularkan pengalaman usaha mereka kepada warga.

Pertanian Organik
Pertanian organik, menurut pengelola Nugu Integrated Green Farming merupakan solusi tepat bagi petani Lembata. Tak sekedar untuk mewujudkan label usaha dan mimpi menembus pasar di kota besar, Nugu juga memadu usaha peternakan di mana dua usaha ini akan saling mendukung.

“Kotoran hewan kita manfaatkan sebagai pupuk. Di samping itu tersedianya berbagai unsur tanaman yang berfungsi sebagai pupuk organik maupun pestisida nabati serta memungkinkan berkembangbiaknya musuh alami (predator) bagi pengendalian siklus hidup hama dan penyakit,” jelas Syamsul.

Lebih jauh terkait pertanian organik, Syamsul bapak dua anak itu mengatakan, pertanian organik memang tidak memberikan reaksi instan pada hasil-hasil pertanian, akan tetapi dengan pelaksanaan pertanian organik akan membawa pertanian berjangka panjang dan memberikan solusi bagi tersedianya bahan pangan yang sehat.

“Jadi ini usaha ramah lingkungan. Bahan kimia tidak saja berpengaruh terhadap kesehatan manusia tetapi akan merusak alam. Nah…kalau alam Lembata yang sudah kering dan panas seperti ini, apa kita tega membuatnya semakin rusak? Jadi ini cara kami untuk mencintai alam,” katanya.

Ternyata pria tamatan Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan Teknik Bangunan itu tak sekedar fasih membangun rumah, ternyata ahli membangun pertanian. “Saya ini sekolah STM jurusan bangunan, tetapi ilmu pertanian dan ternak ini saya belajar dari orang tua yang juga adalah petani. Di samping itu Pak Yohakim mengirim saya untuk magang di beberapa tempat usaha pertanian terpadu. Sedikit dasar itulah saya datang ke Lembata dan dipercaya Pak Yohakim untuk kelola usaha disini,” jelasnya lagi.

Pengakuan Masyarakat
Kendati sempat mendapat tanggapan tak sedap dari masyarakat, namun lambat laun usaha Nugu Terpadu mulai menarik perhatian warga. Salah satunya Arnoldus Pelira yang tak lain adalah Ketua BPD Desa Muruona.

organik-03

Pepaya di kebun dengan buah yang bergelantungan. (Foto: FBC/Yogi Making)

Ditemui di lahan pertaniannya yang tak jauh dari Nugu Terpadu dia mengatakan, usaha Nugu Terpadu yang dimotori oleh Yohakim Deke dan Syamsul Bahri kini mampu menarik perhatian warga. “Awalnya saya juga tidak yakin kalau usaha seperti itu. Apalagi dengan jenis tanaman impor bisa berhasil di tanah kita yang kering dan gersang ini. Tetapi lama kelamaan saya perhatikan mulai berkembang, bahkan sekarang banyak tanaman yang sudah berbuah. Terus terang saja, usaha itu mampu membangkitkan semangat saya untuk bertani, bahkan saya mau belajar dari mereka,” kata ketua BPD itu.

Dia mengatakan, hampir setiap hari dirinya menyinggahi kebun buah Nugi Terpadu, tak lain sekedar berdiskusi tentang cara bertani yang baik dengan pengelolanya. Dari sedikit ilmu yang dia dapat itu, Arnoldus Pelira pelan-pelan mengubah cara bertaninya.

Demikian juga dengan Mus Matarau. Pria yang satu ini malah memilih bergabung sebagai karyawan di kebun Nugu Terpadu. Dengan menjadi karyawan di kebun milik Yohakim Deke itu, dirinya bisa mendapat sedikit tambahan biaya untuk menghidupi keluarganya. (*)

Penulis: Yogi Making
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Kampung Bena Magnet Ekowisata

Next Story »

Membelah Hutan Bambu, Menyusuri Batu-Batu

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *