Uwi Ai Nuabosi, Makanan Lokal Khas Ende

ubi-hidangan

‘Ubi Cincang’ khas Ende disajikan lengkap dengan ikan bakar dan sambal tomat dapat ditemui di restoran khas Ende di Jalan Mawar, Ende. (Foto: FBC/EC. Pudjiachirusanto)

Struktur daging ubi tak berserat, lezat dan gurih adalah ciri khas uwi ai Nuabosi atau sering disebut ubi Nuabosi. Makanan lokal khas Ende ini, lebih cocok jika dihidangkan bersama secangkir teh hangat, apalagi ditambahkan dengan sambal tomat sedikit rasa pedas membawa kenikmatan sendiri.

UBI Nuabosi atau dalam Bahasa Ende sering disebutkan, uwi ai Nuabosi, terdapat di dataran Ndetundora-Nuabosi, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, NTT. Berlokasi kurang lebih 14 kilometer ke arah Utara dari Kota Ende, persis di belakang Gunung Wongge ditemukan Kampung Nuabosi. Dapat ditempuh dengan sepeda motor atau taksi selama satu jam lebih. Ubi Nuabosi juga biasa dijual di Pasar Mbongawani, tidak jauh dari pusat kota Ende.

Uwi ai Nuabosi merupakan salah satu makanan lokal khas Ende. Dengan struktur umbi tak berserat, lezat dan terasa gurih, itu adalah ciri khasnya. Uwi ai Nuabosi, memang berbeda dengan jenis ubi lainnya dengan cita rasa yang unik. Di setiap daerah di daratan Flores atau di daerah lainnya, terdapat juga tanaman ubi kayu namun, struktur daging umbi dan rasanya tidak sebanding dengan uwi ai Nuabosi. Mungkin saja dipengaruhi dengan struktur tanah yang baik sehingga Nuabosi menghasilkan ubi yang berbeda dengan daerah lain.

Uwi ai Nuabosi memang sudah dikenal luas bahkan sampai pada kelas Internasional. Ada juga beberapa daerah atau negara yang belum mengetahui tentang uwi ai Nuabosi. Tapi banyak pejabat, baik yang tinggal di Flores maupun di luar Flores, datang ke Nuabosi termasuk para wisatawan mancanegara untuk membeli ubi Nuabosi. Sampai saat ini, ubi Nuabosi terkenal luas sampai pelosok.

Ubi Nuabosi biasa dikonsumsi dalam suasana yang santai di rumah ataupun di tempat rekreasi. Masyarakat Kabupaten Ende biasa menghidangkan saat pesta misalkan pesta nikah, sambut baru, ataupun acara yang formal sekalipun. Lebih nikmat jika dihidangkan pada pagi atau sore hari, dibarengi dengan secangkir teh hangat dan sambal tomat. Cita rasa ubi Nuabosi terasa lembut di bibir.

Sejarah Ubi Nuabosi
Menurut cerita masyarakat setempat, ubi tersebut berasal dari negara Brasil yang diperkenalkan pada awal abad ke-16 oleh bangsa Portugis. Bukan saja ubi kayu tetapi beberapa jenis ubi lain juga diperkenalkan. Pada masa penjajahan Portugis, masyarakat Flores umumnya dan Ende khususnya, dilatih untuk menanam ubi termasuk dengan ubi kayu. Pada abad ke-19 telah ditanam dengan sistem komersial. Pasca penjajahan bangsa Portugis, masyarakat tidak membudidayakan lagi, entahlah mengapa, padahal waktu itu menghasilkan ubi yang cukup banyak.

Masyarakat Nuabosi kembali membudidayakan ubi kayu (singkong) sepuluh tahun kemudian setelah Kemerdekaan RI pada 1945 hingga saat ini. Beberapa jenis tanaman pangan lain seperti padi, jagung, dan sorgum menjadi makanan pokok pada masa itu. Saat ini, masyarakat terus mengembangkan ubi Nuabosi dibarengi dengan beberapa jenis tanaman umur panjang lainnya seperti cokelat, kopi, dan cengkeh.

Nama Nuabosi sebenarnya nama tempat atau kampung di Ndetundora yang tergabung dari tiga desa yakni Desa Ndetundora I, Ndetundora II dan Ndetundora III. Karena kualitas ubinya sangat baik, maka diberi nama ubi Nuabosi. Sampai saat ini orang sering menyebutkan ubi Nuabosi.

Jenis-Jenis Uwi Ai Nuabosi
Terdapat tiga jenis ubi Nuabosi. Pertama, ubi putih atau “uwi ai tuka bhara”. Ciri-ciri ubi ini, batangnya tinggi 3 meter lebih. Ukuran batang besar dan berwarna putih, tangkai lebih besar dari jenis ubi lain dan berwarna putih, daunya hijau keputih-putihan dan berjari-jari. Kulit umbi berwarna cokelat keputihan. Sementara umbinya besar dan pendek. Jenis uwi ai tuka bhara ini sama dengan ubi Bogor.

Penanaman jenis ubi ini dengan cara stek miring juga tegak lurus. Jarak penanaman panjang 1 meter dan lebar 1 meter. Jarak ini sesuai dengan ukuran umbi yang besar dan pendek. Dalam sepohon dapat menghasilkan 5 sampai 7 umbi, karena umbinya besar maka jumlah yang dihasilkan lebih sedikit.

Uwi ai tuka bhara ini biasa panen pada umur 10 bulan. Jika lebih dari umur itu, maka rasa ubinya sedikit lebih pahit. Apalagi jika ditanam bersamaan dengan tanaman jenis lain.

Rasa Uwi ai tuka bhara, sama dengan ubi jenis lainnya, itupun jika panen tepat pada waktunya. Umbinya berwarna putih dan tidak berserat dan rasanya sedikit pahit jika diolah tidak sesuai.

Kedua, jenis ubi merah atau “uwi ai tuka mera” atau “uwi ai dhesa” (sebutan masyarakat setempat). Batang ubi berwarna putih kemerahan dan sedikit lebih kecil dengan ubi putih. Tinggi 2 meter sampai 3 meter. Tangkai kecil berwarna hijau dan daunnya berwarna hijau berjari-jari. Kulit umbi berwarna cokelat kemerahan. Ubinya besar seperti pergelangan tangan orang dewasa, dengan panjang berkisar 20cm sampai 40cm.

Ubi ini ditaman secara stek miring juga tegak lurus dengan jarak panjang 1,5 meter dan lebar 1 meter karena umbinya lebih panjang dari jenis ubi putih. “Uwi ai tuka mera” atau “uwi ai dhesa” ini, biasa panen pada umur 10 bulan. Jika lebih dari umur itu, maka rasa ubi ini akan lebih enak. Berbeda dengan jenis ubi putih.

Masyarakat Nuabosi biasa panen pada umur 10 sampai 15 bulan karena umurnya cukup matang. Dalam sepohon, ubi merah dapat menghasilkan 10 sampai 15 umbi. Karena umbinya kecil dan panjang, maka jumlah yang dihasilkan lebih banyak. Umbinya berwarna putih dan tidak berserat dari pangkal sampai ujung umbi. Rasanya lezat dan gurih jika diolah dalam bentuk apapun.

Ketiga, Ubi jenis terigu. Jenis ubi ini banyak ditanam oleh masyarakat Nuabosi. Ciri-ciriya, batang berwarna putih sedikit kecokelatan dipangkal. Tinggi 2 sampai 3 meter. Tangkainya berwarna hijau sedikit lebih putih dan daunya berwarna hijau berjari-jari. Kulit umbi berwarna kecokelatan dan lebih tipis dibandingkan dengan kedua jenis ubi lain diatas.

Umbi jenis ubi terigu lebih panjang dari jenis ubi lain berkisar 30cm sampai 60cm. Dalam sepohon menghasilkan 13 hingga 16 umbi. Ukuran umbi sebesar sama dengan ubi jenis “Uwi ai tuka mera”, hanya lebih panjang. Umbi berwarna putih bersih dan tidak berserat.

Sistem penanaman ubi jenis terigu dengan sistem stek miring juga tegak lurus ke langit dengan ukuran batang stek 20cm sampai 30cm. Jaraknya penanaman 1,5×1,5 (panjang 1,5m dan lebar 1,5m).

Ubi terigu biasa panen umur 1 sampai 2 tahun. Lebih tepatnya panen umur 2 tahun, karena umbinya lebih besar, panjang dan lebih enak rasanya.

Harga ubi Nuabosi bervariasia tergantung besar kecilnya ubi. Jika kita beli di Pasar Mbongawani tentu harganya lebih mahal. Ubi per gandeng antara dengan jumlah 8, 12 dan 15 batang bergantung dengan besar kecilnya ubi. Di pasar Mbongawani pergandeng senilai Rp.20.000 hingga Rp. 50.000.

Harga di petani Nuabosi per gandeng Rp. 10.000 hingga Rp. 30.000. Harga per karung 20kg Rp.150.000 hingga , 50kg Rp. 250.000 dan 100kg Rp.500,000.(*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

‘Lepo Gete’ Istana Raja yang Merana

Next Story »

‘Dona Ines’ Merajut Masa Depan Tenun Sikka

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *