Suku Welan Gelar 'Reka Ahink'

Usir Roh Jahat Kambing pun Disembelih

Reka ahink merupakan ritual adat yang digelar sebagai bentuk penghargaan kepada roh jahat dengan memberi sesajen berupa penyembelihan seekor kambing di ujung kampung. Dengan begitu, roh jahat pun tidak masuk ke kampung lagi

WARGA Desa Riangkamie, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur siang itu terlihat sangat sibuk. Sejak pagi hari warga suku Welan dan semua  suku yang tergabung dalam rumah adat yakni Koten, Kelen, Hurit dan Maran mulai menyiapkan diri menggelar ritual adat reka ahink.

Upacara adat reka ahink dilakukan dalam suatu rangkaian kegiatan pembangunan rumah adat (korke) suku Welan. Kepala Desa Riangkamie,Thomas Iryanto Lewar, di balai desa Riangkamie mengatakan, upacara adat yang berlangsung di ujung kampung tersebut melibatkan semua suku mulai dari Welan, Molan, Weking, Maran, hingga suku Kelen Nara Eban.

Suku Koten memegang kepala, Kelen memegang ekor, Hurit menyembelih sedangkan Maran yang membaca mantra saat penyembelihan hewan korban ( Foto: FBC/Wentho Eliando )

Suku Koten memegang kepala, Kelen memegang ekor, Hurit menyembelih sedangkan Maran yang membaca mantra saat penyembelihan hewan korban ( Foto: FBC/Wentho Eliando )

Dikisahkan Thomas, upacara adat dibuka dengan pembacaan doa dan mantra dalam bahasa adat oleh Simon Pati tokoh adat suku tersebut sementara para tetua adat suku lainnya duduk membentuk lingkaran. Setelah itu, seekor kambing yang akan disembelih dibawa ke tengah lingkaran. Perwakilan dari suku yang memegang peran Koten, Kelen, Hurit dan Maran pun maju dan melaksanakan tugasnya.

Dalam setiap ritual adat penyembelihan hewan korban, jelas Thomas, suku Koten bertugas memegang kepala, Kelen memegang ekor, Hurit menyembelih korban sementara Maran bertugas membaca mantra.

Kambing yang disembelih dimasak dan dimakan sampai habis di lokasi upacara dan tidak boleh dibawa pulang. Setiap orang yang berada di lokasi upacara wajib makan bersama.

Selepas hewan korban disembelih, lanjut Thomas, para tetua adat membaca doa dan mantra dan mengunyah sirih pinang bersama kemiri. Air liurnya ditampung di tempurung kelapa dan dipakai untuk memberi tanda atau memateraikan setiap orang yang hadir dalam upacara tersebut.

“ Saat seremonial adat, tokoh-tokoh adat akan makan sirih pinang dan kemiri dan hasil air liurnya ditampung. Setelah itu setiap orang yang hadir diberi tanda atau diistilahkan dengan dimaterai pada dahi dan leher memakai tampungan air liur tadi,”kata Thomas.

Kades yang ibunya berasal dari Pulau Semau ini menerangkan, materai  yang dilakukan di dahi sebagai tanda bahwa orang  diberikan kekuatan agar terhindar dari penyakit dan gangguan lainnya.

Tokoh adat suku Welan, Simon Pati menambahkan, upacara adat ini bagian tak terpisahkan dari pembangunan rumah adat suku Welan. Rangkaian upacara adat ini melibatkan semua suku yang tergabung dalam rumah adat di Riangkamie.

“ Upacara kami lakukan di ujung kampung dengan memberi sesajen berupa kambing sembelihan. Kami membuat upacara di ujung kampung dengan memberi makan atau memberi bagian kepada roh-roh jahat agar mereka tidak masuk kampung dan mengganggu apa yang akan kami lakukan, karena kami sudah beri mereka makan di tempat ini,“ jelas Simon.

Ritual adat reka ahink ini, tambah Simon, hanya awal dari digelarnya serangkaian ritual adat dimana semua suku dan anak suku terlibat sesuai perannya masing -masing. Upacara adat berlangsung saat awal pembangunan korke hingga berakhirnya proses pembangunannya.

Dikunjungi Wisatawan

Semua ritual adat yang digelar di Desa Riangkamie ini merupakan kekhasan adat dan budaya yang masih dipertahankan. Hampir setiap ada pembangunan atau renovasi rumah adat (korke) selalu digelar ritual adat. Selain itu, seperti dikatakan Kepala Desa Riangkamie Thomas Lewar kepada saya di rumah adat korke bale, di desa ini juga digelar berbagai ritual adat lainnya.

Hal ini membuat Desa Riangkamie sering dikunjungi wisatawan domestik dan wisatawan asing. Selain mengunjungi rumah adat, para wisatawan juga bisa menyaksikan warisan adat budaya lainnya seperti barang-barang di rumah adat misalnya gading pusaka dan aneka barang antik lainnya.

“Kami akan melibatkan pemerintah khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat agar ritual adat ini bisa dipromosikan sebagai objek wisata. Kami juga akan mengundang rekan-rekan media untuk membantu mempromosikan dan mendokumentasikan kekayaan adat dan budaya ini supaya tetap dikenang dan dilestarikan, “ tambah Thomas.

Hewan korban untuk sesajen yang akan disembelih saat ritual reka ahink ( Foto : Wentho Eliando )

Hewan korban untuk sesajen yang akan disembelih saat ritual reka ahink ( Foto : Wentho Eliando )

Setiap bulan Oktober, beber Thomas, Desa Riangkamie juga akan menggelar ritual adat secara besar-besaran dengan melibatkan semua suku yang ada di desa ini.

Di Desa Riangkamie menurutnya, terdapat delapan suku yakni Koten, Kelen, Hurit,  Maran, Mukin, Molan, Lian dan Beguir. Selain itu juga terdapat suku lainnya yang sudah menyatu di dalam ini seperti suku Lewar,Welan, Kelen Nara Ebang, Blemang serta Weking.

“ Ada satu orang bule bersama isteri yang sering ke sini meliput upacara adat. Kami sudah nobatkan dia menjadi anak suku di sini dengan menggelar ritual adat. Dia bersama isteri juga sudah diberi nama sehingga kami merasa dia sudah menjadi bagian dari keluarga besar suku kami. Pernah dia mau membangun pabrik pengolahan mente di sini bersama mitranya tapi tidak terealisasi. Kalau ada ritual adat besar di desa ini, dia selalu kami undang untuk hadir, “ pungkasnya. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Bermuaranya Suku-suku di Riangkemie

Next Story »

Jalan Gerabah Perempuan Wuu

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *