Tinding, Alat Musik Pelipur Lara

Selain sebagai alat musik pelipur lara, tinding yang terbuat dari bambu ini semula merupakan alat pengusir kera yang menyerbu ladang warga Manggarai? Bagaimana kisahnya hingga bisa menjadi alat musik?

PERNAH mendengar alat musik bernama tinding? Kalau belum, inilah alat musik yang sering digunakan warga Manggarai di lading, sebagai musik pelipur lara usai bekerja. Tinding tergolong musik tradisional yang berasal dari bambu. Sudah sejak lama digunakan warga dan belum juga berubah bentuk hingga kini.

Menurut sejarah lisan, konon tinding sebelum dijadikan alat musik oleh masyarakat Manggarai tempo dulu, biasa digunakan sebagai reang kode, artinya alat untuk mengusir kera atau monyet dari ladang yang ingin  mencuri tanaman warga.

Tinding kita gunakan kudut reang kode one uma,” (tinding dahulu nenek moyang gunakan untuk mengusir kera yang datang ke ladang warga. Jika  kita melihat kera yang berbondong-bondong datang menuju ladang kita langsung memukul tinding dan kera langsung lari,” kata Domi Datut tokoh adat di Kelurahan Tenda, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai.

Menurut Domi, seiring dengan perkembangan zaman, karena lazimnya masyarakat menggunakan tinding di pondokan ladang,  akhirnya tinding  dijadikan alat musik pelipur lara. “Di kala petani melepaskan dahaga, seringkali mereka memainkan tinding sambil bernyanyi,” ujarnya.

Alat musik tinding yang terbuat dari bambu. (Foto: FBC/Hironimus)

Alat musik tinding yang terbuat dari bambu. (Foto: FBC/Hironimus)

Dia mengakui, alat musik ini tergolong sederhana, tapi dapat mendatangkan kegembiraan di ladang. ”Dulu waktu di ladang kita sering bermain alat musik tinding. Walaupun menghasilkan bunyi sederhana. rasanya seperti terhibur apalagi di saat kita lelah setelah bekerja,” katanya

Tinding memang alat musik sederhana, karena dibuat hanya dari bilahan bambu dan dianyam sedemikian rupa hingga membentuk suatu alat  musik  bernada.  Karena mudah, maka siapa saja dapat membuat alat musik ini.

Beri Perhatian

Cara pembuatannya, yakni menyiapakan tiga bilah bambu dengan ukuran yang berbeda. Kemudian menguliti bagian tengah bambu sehingga sedikit berlubang.  Untuk sampai dapat mengeluarkan tiga nada suara, dibutuhkan dua stik kayu kecil yang dialaskan karet mentah atau kain tebal.

Untuk menghasilkan suara, stik itu dipukul pada tiga bilah bambu yang sudah dikululiti  dan dilubang. Hasinya, akan terdengar tiga jenis nada. Nada suara yang didapat pun sangat tergantung besar kecilnya ukuran bambu. Ukuran bambu yang kecil akan menghasilkan nada tinggi. Sebaliknya, bilah bambu yang berukuran agak besar, akan menghasilkan nada rendah.

Saat ini ada beberapa sanggar seni yang berkembang di Manggarai, sudah mulai memberi perhatian pada alat musik ini. Bahkan sebagian sudah mulai berinisitif untuk melestarikannya.

Sanggar budaya di bawah naungan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Manggarai tetap berusaha melestarikan alat musik ini. Dalam beberapa pementasan, tinding dipadukan dengan alat musik lainya yang mempunyai melodi.

Di Manggarai, alat musik yang disebutkan terakhir itu, seperti sunding (seruling). Tinding dijadikan alat musik pengiring yang nyaring dan menghasilkan nada yang enak didengar apalagi kalau mengiringi lagu-lagu daerah Manggarai. “Para generasi penerus sebagian besar tidak mengenal tinding. Padahal  tinding  mempunyai sejarah penting dalam kehidupan budaya Manggarai, “tambahnya. (*)

Penulis: Hironimus Dale

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Populerkan Gambus di Tanah Lamaholot

Next Story »

Tenun Ikat Lio, Antara Motif dan Mitos

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *