Teluk Jontona nan Memesona

Teluk Jontana

Pemandangan Pantai Teluk Jontona. (Foto: dok, Dinas Budpar Lembata)

Memiliki panorama bawah laut yang menakjubkan, Teluk Jontona merupakan surga tersembunyi di ujung Timur daratan Flores

JONTONA merupakan kampung yang berlokasi di Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Kampung ini termasyur, salah satunya karena ritual werung lolon (pesta kacang). Pesona lain yang menjadi magnet kampung ini adalah wisata tracking pengunungan, panorama pantai, dan keindahan alam bawah lautnya.

Terdapat terumbu karang jenis meja yang diperkirakan sudah mencapai umur ratusan tahun dan beberapa jenis ikan. Dan, yang menggetarkan adalah keberadaan rumah hiu. Bisa jadi, alam bawah laut Teluk Jontona tidak dimiliki daerah tujuan wisata lainnya di daratan Flores dan Lembata.

“Saat kami survei dengan melakukan snorkeling di beberapa tempat, tim menemukan keindahan yang tiada duanya di laut Teluk Jontona,” kata Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Lembata, Longginus Lega kepada FBC, baru-baru ini.

Longginus juga mengatakan, hamparan terumbu karang di Jontona semestinya tersebar hingga ke Pantai Nuhanera, Kecamatan Lebatukan, tetapi sayangnya hamparan karang di Nuhanera banyak yang rusak akibat ulah nelayan nakal. “Kalau di Nuhanera, tim bilang banyak yang sudah rusak karena bom ikan. Semua hasil survei itu terekam dengan kamera dan kita punya filmnya,” kata Longginus.

Kemolekan alam bawah laut Teluk Jontona bukan sekedar isapan jempol. Adalah Aren (26 tahun), pria berkebangsaan Jerman yang datang ke Indonesia sebagai seorang relawan di Yayasan Eco Flores membuktikan kebenaran informasi ini. Septermber 2014 silam, Aren berkesempatan datang ke Jontona dan menyaksikan secara langsung keindahan bawah laut.

Kepada FBC lulusan Universitas West England ini mengungkapkan kekagumannya. Dia mengatakan, terumbu karang di Teluk Jontona merupakan terumbu karang terbaik yang pernah dia temukan selama melakukan snorkeling di beberapa tempat di daratan Flores.

“Sangat indah, saya tidak pernah menemukannya di tempat lain di daratan Flores. Menurut saya itu karang terbaik, dengan ikan-ikan yang indah. Sayang, saya tidak punya kamera bawah laut, sehingga tidak bisa memotret. Tetapi saya janji untuk mempromosikan Jontona karena belum banyak yang tahu,” kata Aren bangga.

Upaya Pemiliharaan

Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat sensitive. Berbagai data yang pernah saya baca menyebutkan, kehidupan terumbu karang  didasari oleh hubungan saling tergantung antara ribuan makhluk. Rantai makanan adalah salah satu dari bentuk hubungan tersebut. Tidak cuma itu, proses terciptanya pun tidak mudah. Terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun hingga dapat tercipta secara utuh dan indah.

Karena itulah, keutuhan dan keindahan eskosistim bawah laut ini harus dijaga. Merujuk pada informasi di atas, maka jangankan dirusak, diambil satu saja, rusaklah keutuhannya. Terkait dengan upaya pelestarian, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Lembata Longginus Lega menjelaskan, mengingat area hamparan terumbu karang di Pantai Teluk Jontona merupakan lokasi memancing nelayan setempat, maka pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata, akan membangun jangkar-jangkar permanen.

“Jangkar permanen itu tidak dilepas dari permukaan air, tetapi penyelam akan membawa turun jangkar lalu diletakan pada areal yang kosong. Jangkar akan kita sambung tali dan pelampung, kita buat dalam jumlah banyak dan dilepas di sepanjang area itu. Jadi nelayan tinggal tambatkan mereka punya sampan di tali yang sudah kita siapkan. Karena kalau buang jangkar, kita khawatirkan akan merusak terumbu karang,” jelas Longginus.

Sementara, Aren menghimbau agar usaha mutiara di Teluk Jontona sebaiknya dipindahkan. Menurutnya, jika sektor pariwisata lebih didorong, hal lain yang dipandang sebagai faktor penghambat sedapat mungkin dihindari. “Mutiara harus pindah, karena jangkarnya bisa merusak karang. Lalu bagaimana kita mau snorkeling, kalau ada penghambat,” usul pria Jerman ini.

Dia yang datang ke Lembata ditemani Emily Mc Daniel sang istri ini juga menghimbau masyarakat nelayan untuk melestarikannya dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan.

Kendati kagum, Aren mengaku belum melihat hal yang bisa membuat seorang wisatawan selalu punya kerinduan untuk datang dua kali. Tidak saja ke Jontona tetapi ke destinasi wisata lainnya di Kabupaten Lembata. Menurutnya, alam Lembata punya daya tarik yang menawan dan harus di dukung oleh industri pariwisata yang baik, termasuk menyiapkan faslitas pendukung.

Menggapai Jontona
Untuk mencapai Jontona yang berjarak sekitar 20-an kilometer ke arah Timur dari pusat kota Lewoleba. dapat ditempuh menggunakan sepeda motor atau mobil. Jika pilihannya menggunakan jasa ojek, untuk sekali jalan wisatawan cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp. 20 ribu sampai Rp. 30 ribu tergantung kepiawaian menawar harga.

Bagi pengunjung yang ingin mengisi waktu liburan dan ingin berlama-lama, tak perlu khawatir dengan tempat tinggal. Setidaknya kampung asli Masyarakat Adat Lewohala ini, ada tiga rumah penduduk yang biasa dijadikan sebagai homestay. Tentu dengan harga yang bisa dinegosiasi. Sebuah pilihan yang menarik untuk berlibur di akhir tahun. (*)

Penulis: Yogi Making

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Next Story »

Menaklukkan Keangkuhan Ile Lewotolok

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *