Tarian Rangkuk Alu, Ajang Kaum Muda Mencari Jodoh

rangkuk-alu1

Seorang wisatawan mancanegara ikut tarian rangkuk alu. (Foto: FBC/Kornelius)

Tarian Rangkuk Alu atau Tetek Alu dikenal warga Manggarai sebagai ajang kaum muda mencari jodoh. Kini, tarian tradisional ini semakin jarang dipentaskan. Mengapa?

EMBUN pagi di suatu akhir tahun lalu masih belum kering. Namun puluhan warga sudah memadati halaman seluas sekitar 25 meter persegi di Kampung Melo, Desa Liang Dara, Kecamatan Mbeliling. Hari itu, kampung mungil nan asri yang berlokasi sekitar 30 kilometer dari kota Labuan Bajo ini diliputi derai tawa para warga yang menyaksikan berbagai atraksi budaya dalam acara penyambutan sejumlah wisatawan mancanegara.

Berpakaian songket dilengkapi asesoris khas Manggarai, dua perempuan muda berjingkrak-jingkrak melompati sela-sela bambu yang dimainkan oleh empat perempuan muda lainnya. Dengan ritme teratur sambil menyanyikan syair lagu khas Manggarai diiringi musik gong gendang bertalu-talu.

Tiba-tiba kaki seorang penari terjepit di sela-sela bambu. Rupanya penari itu terlambat mengangkat kakinya. Mungkin ia kurang lincah dan cekatan menghindari ‘tebasan’ batang bambu. Penonton serempak menyoraki si penari yang mereka nilai kurang lihai menari.

Suasana kian semarak ketika sejumlah turis spontan ikut menari. Seorang turis berambut putih berjingkrak-jingkrak lincah di atas bambu. Sesekali ia berhenti menarik napas sebelum memulai lagi lompatan. Ia tampak agak gugup, namun ia kelihatan sangat menikmati tarian itu meskipun sesekali kakinya ‘terjebak’ di antara sela-sela bambu.

Ratusan pasang mata terus bersorak sorai menghibur para tamu dan undangan yang hadir. Mereka bertepuk tangan, menyanyi dan bergembira hingga akhir atraksi.

Mencari Jodoh
Menurut ceritra, pada zaman dulu, tarian rangkuk alu atau tetek alu (bamboo dance) merupakan wadah bagi anak-anak muda untuk mencari jodoh. Tarian ini biasa dipentaskan pada acara usai panen raya dan dilakukan pada malam hari, saat bulan purnama.

Rangkuk alu dipentaskan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan dilakukan dalam suasana penuh kegembiraan dan persaudaraan. Pada umumnya, rangkuk alu biasa dipentaskan oleh kaum muda terutama oleh mereka yang masih lajang atau belum menikah. “Tarian rangkuk alu biasanya dijadikan ajang untuk mencari jodoh atau pasangan hidup oleh anak-anak muda. Pada umumnya melibatkan kaum muda dan dilakukan dalam suasana gembira ria,”ujar Konradus Jeladu, budayawan setempat.

Kreasi tarian rangkuk alu diiringi nyanyian atau lagu-lagu khas daerah Manggarai mengandung pesan-pesan magis-spiritual atau rayuan gombal. Pada masa lalu, tarian ini sangat digandrungi oleh kalangan kaum muda dan orang tua. Tarian ini membutuhkan keterampilan yakni kelincahan dan kecekatan karena seorang penari dituntut untuk mampu menghindari diri terutama kaki penari dari jepitan.

Sementara itu, jumlah bambu yang digunakan biasanya berkisar antara 6 batang-8 batang bambu dengan panjang sekitar 4 meter. Dua bambu sebagai alas bagi 4 atau 6 bambu lainnya yang digunakan untuk tarian.

Tarian rangkuk alu merupakan tarian rekreatif atau menghibur sehingga sangat diminati oleh masyarakat. Menurut penuturan sejumlah warga tarian ini masih sangat disukai terutama oleh wisatawan mancanegara. Meskipun demikian, belakangan ini, tarian rangkuk alu kian jarang dipentaskan oleh masyarakat Manggarai lantaran adanya pergeseran zaman melalui kehadiran kebudayaan asing atau kebudayaan modern. Bagi wisatawan mancanegara, tarian rangkuk alu sangat diminati dan diharapkan tetap dipertahankan dan dilestarikan dari masa ke masa. (*)

Penulis : Kornelius Rahalaka

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Bermula Kayu Terapung, Jadilah Musik Kampung

Next Story »

‘Lepo Gete’ Istana Raja yang Merana

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *