Melongok Kampung Garam Nangalekong (2-habis)

Tak Mampu Beli Kayu Bakar, Beralih Jadi ‘Papalele’

kampung-garam2-01

Kulit kelapa yang dipakai sebagai kayu bakar ditumpuk di dekat tungku dalam pondok tempat memasak garam. ( Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Dihadapkan pada mahalnya harga kayu bakar, kaum ibu di Kampung Garam Nangalekong memutar haluan untuk menjadi ‘papalele’ (penjual garam)

MAHALNYA biaya untuk membeli kayu bakar membuat satu per satu petani garam Nangalekong tidak lagi berkutat dengan kesibukan di pondok pemasakan garam. Kaum ibu di kampung itu, kini beralih profesi sebagai penjual garam. Warga Nangalekong biasa membahasakan mereka dengan sebutan papalele, orang yang membeli garam dari pemasak garam dan menjualnya lagi dengan harga yang lebih mahal.

Selestina Maria (52) menuturkan, dirinya sudah sejak tahun 2011 tidak memasak garam lagi. Pekerjaan ini dia hentikan sejak suaminya meninggal dunia karena tidak ada orang yang mencari kayu bakar. Anak-anaknya lebih memilih kerja di toko daripada membantu ibunya memasak garam.

Menurut Petrus Blasius (34) Ketua RT 013 RW 04 Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Kampung Nangalekong dihuni 35 kepala keluarga (KK) dengan jumlah jiwa sebanyak 167 orang. Dari jumlah tersebut, dulunya semuanya bergelut dengan air asin guna menghasilkan garam. Sejak beberapa tahun belakangan ini, kata Petrus, banyak keluarga yang sudah tidak memasak garam lagi dan jumlahnya terus bertambah setiap tahun. Pada tahun 2014, dari 15 keluarga atau pondok yang masak garam, hanya delapan pondok saja yang saban hari aktif memasak garam.

“Generasi muda banyak yang lebih memilih cari pekerjaan lain yang tidak terlalu menguras tenaga. Hanya para wanita saja yang meneruskan pekerjaan orang tua mereka, “ ujarnya.

Pernyataan Petrus itu diamini Selestina Maria yang menjadi petani garam sejak tahun 1970-an. Perempuan yang cuma tamat sekolah dasar ini diajarkan mamanya memasak garam. Sejak tahun 2011, dirinya tidak masak garam lagi dan lebih memilih menjadi papalele.

“Saya ambil garam di orang kampung sini Rp 130 ribu atau Rp 150 ribu untuk ukuran 50 kilogram terus saya jual ke Pasar Alok. Kalau satu karung bisa dua tiga hari laku dan untung Rp 40 ribu saja. Saya jual sendiri saja. Sekali bawa satu karung, kalau ada uang beli dua atau tiga karung, “ sebutnya.

Dikatakan Selestina, dirinya tidak mau masak garam lagi karena sudah tua. Cari kayu juga susah. Untuk mendapatkannya harus beli. Garam halus, menurutnya, lebih cepat laku dibandingkan garam kasar. “Daripada duduk di rumah saja lebih baik dirinya menjual garam di pasar walau dapat untung sedikit saja,” ujarnya.

Selain dirinya, beberapa warga kampung yang dulu memasak garam, sekarang alih profesi jadi papalele. Selain tidak sibuk cari kayu bakar di pantai atau beli kayu bakar, mereka juga tidak perlu bangun pagi buta untuk memulai rutinitas memasak garam. Garam yang diproduksi warga Nangalekong banyak yang membelinya. Rata-rata penjual di pasar sudah terbiasa dan mengetahui kualitas garam yang dihasilkan warga Nangalekong sehingga tidak khawatir untuk menjualnya kembali.

Diajari Orang Tua
Linda (22) anak dari Mama Pito (50) mengaku memasak garam sejak tahun 2011. Dikatakan Linda, karena mamanya memasak garam, dirinya pun diajak ikut serta dan akhirnya mulai memasak garam sendiri. Sebelum memasak garam, mereka harus mengambil tanah di tambak garam di pantai dekat rumah terus dimasukkan ke tempat penyaringan (oha). Air laut disiram di atas tanah tersebut dan disaring sampai dua kali hingga bersih terus dimasukan di wadah untuk memasak garam. Dalam sehari dirinya bisa dua kali masak garam,

“Kalau kering cepat saya masak lagi. Mulai masak garam jam 5 pagi sampai jam 11 siang dan lanjut lagi sampai sore jam 5. Dalam sehari masak bisa dapat dua karung garam ukuran 50 kilogram, “ sebut perempuan beranak satu ini.

kampung-garam2-02

Veronika Nika (75) tetap menggeluti pekerjaan memasak garam walaupun penglihatannya sudah rabun. (Foto: FBC/ Ebed de Rosary)

Hal senada juga disampaikan Veronika Nika (70) kepada saya yang menemuinya di pondok pemasakan garam miliknya. Perempuan renta yang baru usai memasak garam ini menyebutkan, sudah sejak muda dirinya menekuni profesi ini.

Dalam sehari Veronika cuma menghasilkan satu karung garam halus ukuran 50 kilogram. Untuk memasak garam halus, dirinya lebih memilih memakai garam kasar ketimbang mengambil tanah ditambak. Garam kasar dimasukan ke ohe dan disiram pakai air laut. Garam kasar dibelinya di pasar seharga Rp 80 ribu untuk ukuran 50 kilogram. Kalau garam kasar satu karung, garam halus yang dihasilkan pun sama.

“Garam tersebut saya jual Rp 150 ribu untuk ukuran 50 kilogram ke papalele. Paling cuma dapat untung satu dua kilogram saja, hanya cukup buat beli beras. Kalau masak jam 4 atau jam 5 pagi bisa selesai jam 2 atau jam 3 sore. Saya sudah kurang lihat, mata rabun, jadi paling anak yang masak dan saya bantu-bantu saja. Kami susah tapi harus masak garam,t idak ada kerja lain lagi jadi cuma masak garam saja,“ tutur mama Vero penuh semangat.

Beli Kulit kelapa
Untuk memasak garam, baik Linda maupun petani garam lainnya, lebih memilih memakai kulit kelapa. Kelapa yang dibelah dua dan isinya sudah diambil untuk membuat kopra ini dibeli Linda seharga Rp 250 ribu satu truknya. Untuk sewa truk, Linda harus merogoh kocek lagi Rp 150 ribu. Kulit kelapa itu dibeli di Wailiti, Koting, Nangahure, atau di Waiara.

“Dulu kami biasa cari kayu bakar di pantai, di hutan bakau atau beli kayu bakar. Tapi sekarang kayu sudah susah dan mahal sehingga kami beli kelapa saja sebab harganya lebih murah, “ papar Linda.

Mahalnya harga kayu, tambah Veronika, membuat dirinya kadang tidak rutin memasak garam setiap hari. Kalau ada uang buat membeli kulit kelapa baru dirinya memasak garam. Lima enam tahun lalu kulit kelapa tidak dijual. Mereka hanya memberi uang seadanya kepada pemiliknya, karena tumpukan kelapa tersebut dibiarkan saja setelah diambil isinya untuk dijadikan kopra.

Garam yang dimasak sebut Linda maupun Veronika kadang dijual sendiri ke pasar atau diborong papalele.Untuk 50 kilogram garam halus yang dihasilkan, mereka mendapat untung bersih Rp 70 ribu. Keuntungan ini jika dilihat memang tidak seberapa besar untuk kerja dari jam 5 pagi hingga jam 4 sampai 5 sore. Namun, pekerjaan ini tetap mereka tekuni karena hanya ini yang mereka mampu lakoni demi menyambung hidup. (habis)

Penulis: Ebed de Rosary
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Mereka Yang Terusir dari Tanah Sendiri

Next Story »

Dana Bantuan Itu Tidak Semua Dibagikan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *