Semoga Ada Pertobatan Raya di Negeri Ini

bung-Sila-mengajar-anak-anak

Mengajar anak-anak SDN Kloangpopot, Kec.Doreng, Kabupaten Sikka, saat peresmian Kampung Pancasila ( Foto: FBC/Dok. Pribadi )

PANCASILA sebagai dasar negara Republik Indonesia hendaknya diamalkan dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kelima silanya semakin hari semakin pudar dirongrong, terutama oleh perilaku aparat negara. Masyarakat pun terjebak dalam rutinitas pelanggaran nilai-nilai luhur ini, karena faktor pathernalistik—mencontoh perilaku elit masyarakat.

Demi membumikan Pancasila dan membuka memori masyarakat tentang hal ini, baru-baru ini, FBC berkesempatan mewawancarai Liberius Langsinus yang melakukan perjalanan keliling Indonesia, untuk membawa misi tersebut. Bagi lelaki kelahiran Kloangpopot, Sikka, 12 Desember 1975 ini, meninggalkan pekerjaan mapan dan mengendarai motor tua keliling Indonesia membawa misi Pancasila Sakti jauh lebih mulia. Bung Sila, demikian pria ini biasa disapa, membeberkan pengalamannya keliling Nusantara demi niat mulia, membumikan Pancasila. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Bung Sila mau melakukan perjalanan ini, alasan dan motivasinya?
Ada beberapa pengalaman pahit yang melandasi perjalanan misi Pancasila Sakti Keliling Nusantara. Pada pertengahan April 2007, saya berjuang menguburkan seorang warga miskin Alm. Siprianus Mulasi (52) yang terkesan dibiarkan warga setempat dengan pakaian tidak layak pakai. Lalu saya memberi pakaian saya seadanya. Namun ada satu hal yang tetap menjadi beban buat saya sampai sekarang, yakni masih hutang keranda mayat seharga Rp 400 ribu. Di Kampung  Oelnunuh juga saya berjuang menyelamatkan 47 jiwa anak dari wabah diare. Tidak ada petugas kesehatan di Kampung Oelnunuh maupun desa-desa sekitar.

Untuk mengatasi musibah wabah diare dan ancaman kelaparan, saya membentuk kelompok tani yang diberi nama KASDAM (Kelompok Bina Sadar Mandiri). Keanggotaan KASDAM melalui proses pendidikan mulai dari latihan membaca, menulis, berhitung dan kemampuan berbahasa Indonesia. Proses pembinaan saya tempa pola semi militer. Setiap anggota KASDAM wajib memiliki WC sehat. Model WC sehat ini, konstruksi jambannya berbahan baku lokal yakni bambu petung agar setiap anggota KASDAM memiliki WC sehat tanpa biaya.

Lalu untuk meningkatkan ketersediaan dan ketahanan pangan desa, kami mengadakan lomba panen jagung. Bagi petani yang berhasil mengumpulkan panen jagung lebih banyak akan mendapat hadiah berupa piala. Dengan cara ini, para petani berlomba-lomba menanam jagung. Alhasil, jagung menjadi sangat melimpah. Stok pangan lokal sudah cukup untuk mengatasi ancaman kelaparan yang sering menimpa kampung ini. Kedaulatan pangan dan martabat petani Kampung Oelnunuh mulai terangkat sejak kami bersama menghimpun diri dalam kelompok Bina Sadar Mandari (KASDAM).

Tetapi perjuangan membela dan hidup bersama kaum tani ternyata dinilai sebagai ancaman oleh pemerintahan dan gereja setempat. Pihak pemerintahan desa dan kecamatan setempat menuduh saya membentuk kelompok liar semacam PKI. Saya diseret ke Polsek Polen bersama anggota KASDAM atas tuduhan sebagai provokator dan membentuk kelompok tani ilegal oleh camat Polen, Albert Fay S.Sos dan Sekcam Albert Boimau, SH serta kepala desa Oelnunuh, Antonius Sobai.

Selain itu, saya juga berjuang menyelamatkan 180 kepala keluarga, warga transmigran Uluwae Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada, yang terancam kelaparan. Hendrik Kaju, salah seorang warga transmigran Uluwae mengatakan: “Kami mencari umbi hutan dan berebutan dengan babi hutan.” Semua tanaman kering tidak bisa panen karena kemarau panjang. Sebagai orang tua kami berjuang mencari makanan alternatif agar anak-anak kami bertahan hidup. Sedih rasanya mendengar jeritan hati mereka. Sangat tidak masuk akal Pemda Ngada membiarkan rakyat Uluwae menderita kelaparan, padahal laporan dari masyarakat sudah empat bulan sebelumnya, kata Petrus Nau, pejabat sementara UPT Uluawae.

Pada tanggal 28 September 2011, saya menangani masalah krisis air bersih di Dusun Wolomude di mana warga mengkonsumsi air minum dari batang pisang. Dusun Wolomude termasuk wilayah Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. Berjarak 10 km dari kota Maumere. Total dana yang terhimpun sebanyak Rp 2.884.000. Dana ini terdiri dari Rp 2.650.000 diambil dari sumbangan krisis emergency Uluwae yang disetujui Kons Pi perwakilan Uluwae yang hadir dan sisanya dari sanak famili. Semua wujud dukungan langsung diserahkan kepada Laurentius Vensi, Kepala Desa Teka Iku dan disaksikan saudara Vitalis Wolo dan Kapospol Polsek Nebe. Uluran kepedulian sudah dikonversi dalam bentuk 12 tangki air dan disalurkan kepada warga Wolomude.

Saya mulai merenung dan menganalisa tentang realita kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia dikaitkan dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Bahwa haluan negara sudah menyimpang dari spirit Pancasila.Wibawa bangsa menjadi pudar dan menjadi tontonan di berbagai media dengan kasus korupsi, hukum yang tak adil, kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, penganiayaan TKW di luar negeri, kerusuhan berbau SARA, kecelakaan transportasi, bencana alam, sarang terorisme, HIV/AIDS, narkoba, merosotnya mutu pendidikan, dan buruknya layanan publik. Sebuah kenyataan yang sangat kontradiktif dengan budaya bangsa. Akankah suatu saat rakyat menjadi ’liar’? Apa yang harus segera kita lakukan jika rakyat masih terus menderita, perilaku anak bangsa masih dan terus melanggar dan merusak nilai-nilai luhur Pancasila, kekayaan alam terus dieksploitasi tanpa batas, agama dipolitisasi, wilayah NKRI digusur dan digugat, dan ideologi Pancasila terus dikhianati.

Kondisi carut marut bangsa ini melahirkan sebuah tekad untuk mengobarkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila, agar kita kembali kepada jati diri bangsa. Kini bukan saatnya lagi mencari dan menuduh siapa dan apa yang salah karena pada akhirnya kita terlarut pada pengklaiman kebenaran. Karena saat ini kita berhadapan dengan persoalan-persoalan yang aktual dan konkret yang menuntut jawaban dan keberpihakan yang jelas.

Indonesia adalah negara kepulauan, artinya masing-masing daerah memiliki isu dan permasalahan yang berbeda. Jika kita hanya berteriak di lembah-lembah desa maka sangat sulit membangkitkan solidaritas sesama warga bangsa Indonesia kecuali bencana alam. Tidak akan terjadi perasaan senasib dan sepenanggungan. Sehingga dengan permenungan yang mendalam dan rasa tanggung jawab sebagai anak bangsa yang lahir di bumi pertiwi, saya mengambil sikap melakukan misi Kampanye Pancasila Sakti keliling Nusantara secara sukarela. Perjalanan ini saya menyebutnya Misi Pancasila Sakti Keliling Nusantara:

Sejak kapan mulai berkeliling Indonesia dan berapa biaya yang dikeluarkan selama ini ?
Perjalanan Misi Pancasila Sakti dilepas oleh Bupati Ende, Drs. Don Bosco Wangge dan Dandim 1602 Ende, Letkol Frans Thomas di Lapangan Pancasila, Ende, pada 1 Oktober 2011. Modal yang digunakan selama perjalanan: sepeda Motor Honda Supra X, dan uang Rp 400 ribu, tidak ada dokumen surat perjalanan dari Polres Sikka, dan memang sudah di minta tetapi tidak diberikan. Hanya dengan modal Rp 400 ribu saya bisa berkeliling di 33 provinsi di seluruh Indonesia dan  sampai kembali ke titik nol di Ende, 1 Oktober 2012. Uang Rp 400 ribu utuh. Jadi lama perjalanan 1 tahun.

Selama perjalanan keliling Indonesia berapa daerah yang dikunjungi?
Seluruhnya 33 provinsi di Indonesia yang dikunjungi, dan empat titik terluar, Sabang, Miangas, Merauke dan Ndana-Rote. Di masing-masing titik terluar ini, saya menanam pohon sukun. Mengingkatan kepada warga bangsa bahwa Bung Karno  mendapatkan ilham Pancasila ketika merenung di bawah pohon sukun di Ende,

Kejadian-kejadian yang berkesan selama perjalanan?
Pengalaman lucu, saya dicegat provost saat masuk di Kodam IX/Udayana karena salah masuk di pintu protokoler. Motor masuk jalan tol di Cirebon, Jawa Barat dan nyaris kena pukul dari orang gila ketika menanyakan rute  menuju Serang, Banten.

Pengalaman mendebarkan terjadi saat motor saya hanyut di Sungai Angkai, Kalimantan Barat. Kapal Fery nyaris tenggelam dalam pelayaran Balikpapan menuju Mamuju serta waktu masuk kota Jayapura sedang terjadi kerusuhan dan penembakan gelap.

Sambutan yang paling berkesan: penerimaan di Aceh sangat luar biasa, baik warga masyrakat, pemuda dan pemerintahan daerah. Padahal di daerah ini berlaku hukum Syariat Islam. Begitu pula sambutan luar biasa dari warga Poso, Sulawesi Tengah. Ada acara penjemputan oleh kaum Muslim Poso dan diarak masuk kota Poso. Padahal daerah Poso terkenal dengan kasus  Tibo Cs.

Sambutan yang tidak berkesan terjadi saat saya berkunjung ke KWI Jakarta ditolak dan diusir. Minta tempat beristirahat di Katedral, Ketapang, (Kalbar) dan biara OFM Jayapura, ditolak. Bahkan pernah tidur di gereja  di Tanah Merah Papua, diminta harus bayar. Begitu pula ketika masuk di Kabupaten Sikka, dan mengantar dokumen laporan perjalanan di Kantor Bupati Sikka, diabaikan karena mereka tidak membutuhkan. ( Lebih lengkapnya bisa baca di Buku “Pancasila Dikhianati” ).

Apa yang dilakukan selama perjalanan dan menyinggahi berbagai daerah?
Misi ini bukan touring, hanya jalan sekedar melepaskan hobi. Tetapi bagaimana saya mendapatkan riilnya kehidupan setiap warga bangsa di daerah masing – masing jika dikaitkan dengan konteks nilai – nilai luhur Pancasila. Saya berkunjung ke daerah perbatasan dan daerah konflik, serta daerah – daerah sasaran transmigrasi. Begitu pula standar pelayanan publik yang dijalankan masing – masing daerah oleh pemda setempat. Selain itu saya juga membumikan Pancasila di sekolah – sekolah, kampus, komunitas pemuda dan masyarakat.

Apa yang melatarbelakangi Bung Sila menerbitkan buku?
Ini sebenarnya data reportase perjalanan,Tanpa menuliskan semua pengalaman perjalanan ini dalam sebuah buku, maka tak akan ada nilai yang akan kita bagikan  kepada generasi nantinya.

Kenapa punya keinginan mencanangkan Kampung Pancasila?
Misi utama mencanangkan Kampung Pancasila di wilayah Dala Elat, Desa Kloangpopot Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka 15 november 2014 adalah merebut orang – orang baik di kampung untuk membangun negeri ini. Kita tak  bisa membiarkan kejahatan merajalela dan menguasai Nusantara. Masalah moralitas di kampung-kampung sudah pada titik kritis, kita tidak mungkin datang mengungkit lagi masalah-masalah sosial tersebut. Tetapi bagaimana mengalihkan perhatian dengan menciptakan atau memberi ruang kegiatan-kegiatan produktif. Sehingga perlu membangun orang kampung berwawasan kebangsaan.

Di tempat ini ada batu meteor (bahasa lokal Dala artinya bintang). Batu meteor ini dijaga atau diapit oleh dua tempat keramat, yakni Piren Gete dan Piren Ketik. Jika dikaitkan dengan konteks Pancasila, bahwa simbol atau lambang sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Bintang (Dala). dan di Pulau Flores, tempat jatuhnya Dala (Bintang) hanya di Dala Elat (Bintang Jatuh), Kloangpopot. Di tempat ini pula lahirlah seorang anak kampung mengemban Misi Pancasila Sakti Keliling Nusantara yang kemudian diberi nama Bung Sila. Selain meteor, Piren Gete dan Piren Ketik, ada juga Nitu Wair.

Nah di Nitu Wair ini adalah tempat khusus untuk permandian bagi para leluhur (pejuang). Ada batu berbentuk kursi dan ada juga tempat sabun dari batu. Daerah ini juga sebagai produsen roset (ubi talas). Salah satu pangan lokal yang perlu digalakkan lagi. Rasa nasionalisme dan ideologi bangsa kini mulai pudar dan diguncang oleh gerakan – gerakan ekstrimis yang dipelihara oleh negara. Rakyat perlu disadarkan dan digerakan secara aktif untuk menjaga keutuhan NKRI. dan salah satunya adalah memasyarakatan nilai – nilai luhur Pancasila versi masyarakat.

Gerakan ‘Ayo Jadi Guru Bangsa’ adalah salah satu program dari Kampung Pancasila, di mana setiap wrga bangsa baik diminta maupun tanpa diminta wajib membagikan pengalaman – pengalaman kepada siswa entah apa saja, terbaik untuk genersi bangsa. Di Kampung Pancasila juga dibentuk RT Bung karno dan RT Bung Hatta.

Apa yang ingin Bung Sila sampaikan kepada anak-anak Flores dan  Indonesia, para pejabat dan masyarakat?
Kepada segenap generasi bangsa, marilah kita memberikan apa yang terbaik untuk bangsa dan tanah air kita, dengan jati diri kita sebagai bangsa yang beradab, yakni spirit keteladanan.

Pengalaman selama perjalanan selain dibukukan, dibagikan atau disebarkan dengan cara apa?
Biasanya lebih banyak di media cetak, seperti Kompas, Jawa Pos, Tribun News dan harian lokal di setiap daerah yang dikunjungi. Selain itu, lewat radio, MetroTV dan TVRI serta media online. Dan sekarang Pemkot Yogyakarta melalui Kesbangpol sering mengundang saya untuk membumikan Pancasila baik kepada mahasiswa maupun pelajar sekota Yogja. Begitu pula di kampus ternama di Yogja, seperti UGM, UMY, IUN Sunan Kalijaga, UST, dan STIKES Surya Global sering diundang menjadi penceramah.

Selain memperkenalkan Pancasila, aktivitas apa saja yang dilakukan, baik selama berkeliling Indonesia maupun saat menetap di Yogya?
Sebenarnya konteksnya bukan pada memperkenalkan Pancasila, melainkan memperjuangkan penegakan nilai-nilai luhur Pancasila itu harus diwujudnyatakan dalam tatanan riil kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Jadi di mana pun saya menemukan hal-hal yang bertentangan dengan Pancasila, dalam lingkup NRKI pasti saya  mengambil sikap. Tentunya bukan dengan cara-cara brutal atau preman tetapi kita orang tahu adat pasti ada etikanya.

Setiap kesulitan apa pun yang dialami oleh warga, pasti saya berusaha dengan cara apa pun untuk menolongnya. Di mana pun saya berada, seperti, aksi donor darah di Jakarta, menolong korban banjir di Desa Jeruksari Pekalongan, membantu evakuasi korban tanah longsor di Banjarnegara, membantu krisis air bersih di Kulonprogo dan penghijauan di Wonosari.

Keinginan terbesar apa yang bagi Bung Sila belum terwujud?
Semoga ada ‘Pertobatan Raya’ di negeri ini. Kembali ke jati diri bangsa Pancasila, agar bangsa ini diselamatkan. Karena yang merusak bangsa ini adalah kaum berdasi (eksekutif, legislatif dan yudikatif). Mereka inilah ‘setannya’ bangsa ini.

Apa yang ingin Bung Sila sampaikan kepada anak-anak Flores dan Indonesia, para pejabat dan masyarakat?
Kepada segenap generasi bangsa, marilah kita memberikan apa yang terbaik untuk bangsa dan tanah air kita, dengan jati diri kita sebagai bangsa yang beradab, yakni spirit keteladanan.

Siapa orang yang memberi motivasi atau yang menginspirasi Bung Sila dalam melakukan hal mulia ini?
Sumber inspirasi dan sponsor utama Misi Pancasila Sakti ini adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. (*)

Pewawancara: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Ketika Nyawa Manusia Tak Berarti di Lembata

Next Story »

Lembor, Lumbung Padi yang Terancam Alih Fungsi Lahan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *