Sa’o Nggua, Rumah Adat Etnis Lio

Menjadi pusat kegiatan ritual adat suku Lio, sa’o nggua tidak boleh ditinggali orang biasa. Mengapa?

UDARA hari itu terasa sejuk. Sebuah bangunan tua berdiri kokoh, persis di tengah-tengah kampung. Atapnya terlihat lebih tinggi di antara rumah-rumah warga lain yang dibangun mengitarinya. Bentuknya khas dan unik. Siapa saja yang memandangnya akan kagum dan terpesona. Itulah rumah adat suku Lio di Kabupaten Ende.

Oleh masyarakat setempat, bangunan tua dan klasik itu lazim disebut dengan istilah sa’o nggua. Secara sederhana, masyarakat adat suku bangsa Lio mengartikan sa’o nggua; (sa’o dalam bahasa daerah setempat berarti rumah dan nggua berarti ritus adat), sebagai tempat sentral atau pusat terselenggaranya seluruh ritual adat sesuai ritus dan kebiasaan yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat setempat.

Menurut keterangan Yohanes Lengi (73), Klemens Wangge (68) dan Yohanes Seso Renggo, tetua adat di Kampung Lise Lowobora, anak kampung Lise Detu, Kecamatan Wolowaru, umumnya struktur bangunan serta fungsi sa’o nggua suku bangsa Lio memiliki kesamaan yakni berbentuk ‘rumah panggung’ tanpa beralaskan fondasi sebagaimana dengan bangunan rumah modern. Rumah ini difungsikan sebagai pusat seluruh ritual adat.

Upacara adat digelar saat mendirikan sao nggua, rumah adat khas Ende. (Foto: FBC/Karolus Naga)

Upacara adat digelar saat mendirikan sa’o nggua, rumah adat khas etnis Lio. (Foto: FBC/Karolus Naga)

Membangun rumah adat ini pun penuh dengan upacara. Sebelum pemotongan kayu yang hendak digunakan sebagai bahan bangunan, terlebih dahulu dilaksanakan ritual adat khusus. Di Lise Detu dan Lowobora misalnya, seremoni tersebut dikenal dengan istilah rera mea dengan diiringi musik tradisional nggo-lamba (gong-gendang).

Sejak seremoni sebelum pemotongan kayu hingga proses pengerjaannya, hanya mereka yang termasuk dalam jajaran perangkat adat resmi (para  tetua adat/mosalaki) yang yang boleh membangun sa’o nggua, sementara masyarakat adat biasa (faiwalu anakalo) tidak dilibatkan secara langsung dalam proses itu.

Bentuk Bangunan

 Sa’o nggua rumah adat memiliki 12 tiang dengan bahannya terbuat dari kayu hutu. Terdapat satu tiang utama atau mangu yang ada di bagian tengah rumah yang langsung dihubungkan hingga ke bubungan atau atap. Sedangkan 11 tiang yang lainnya berfungsi sebagai penyangga. Bentuk atapnya terlihat unik yakni dibuat lebih tinggi (ghubu bewa) dari rumah biasa dengan bahan penutupnya dari ijuk, enau, atau alang-alang.

Bentuk atap yang tinggi itu ini dihubungkan dengan kewibawaan para mosalaki yang dalam struktur adat dianggap dan dipandang lebih tinggi dari masyarakat adat biasa (faiwalu anakalo). Pandangan itu masih bertahan hingga sekarang.

Sementara dinding rumah terbuat dari papan kayu oja. Untuk alas bawah yang dipakai sebagai tempat duduk, juga terbuat dari papan kayu oja atau hutu. Tangga untuk masuk ada yang terbuat dari kayu hutu atau juga dari batu ceper bersusun yang membentuk anak tangga. Seluruh bahan bangunan yang dipakai semata-mata bersifat alami dari batu dan kayu, juga tidak dilengkapi asesoris dan modifikasi.

Di balik semuanya, terkandung unsur keindahan alami, kekhasan, keaslian, daya magis yang tinggi. Manfaatnya juga bukan dalam waktu singkat, namun dapat bertahan hingga berabad-abad lamanya serta dapat diwariskan hingga ke beberapa generasi keturunan.

Yohanes Lengi menyimpulkan, bahwa keseluruhan bentuk bangunan rumah adat menyerupai bagian tubuh manusia. Tiang utama atau mangu diidentikkan dengan leher, kuda-kuda sebagai penopang bubungan ibarat kedua tangan, dinding ibarat rusuk, tiang penyangga ibarat kaki, sedangkan atap ibarat kepala.

Tidak semua orang bisa masuk atau tinggal dalam sa’o nggua, dan juga tidak setiap saat digunakan. Yang boleh masuk dan tinggal di dalam sa’o nggua hanya tetua adat (mosalaki) beserta anggota keluarganya. Hak ahli waris diturunkan secara turun-temurun kepada garis keturunan laki-laki (patriarkhi).

Masyarakat adat Lio pada umumnya meyakini daya magis dan kesakralan dari rumah adat itu sebagai warisan leluhur yang paling bernilai. Oleh karena itu, unsur kesakralan itu terus dijaga dan dipelihara hingga sekarang terutama pada setiap ritual adat yang diselenggarakan.

Selain sebagai pusat ritual adat, sa’o nggua juga melambangkan persekutuan dan persatuan yang menghimpun seluruh masyarakat adat (faiwalu anakalo) dalam setiap ritual adat. (*)

Penulis: Guche Montero

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Kini Gua Jepang Itu Disulap Jadi Wisata Rohani

Next Story »

Bermuaranya Suku-suku di Riangkemie

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *