Sanggar Vincentia

Populerkan Gambus di Tanah Lamaholot

“Sungguh enak buah ata, tapi lebih enak buah bidara, sungguh enak bermain mata, tapi lebih enak kita duduk bicara

ITULAH pantun yang dilantunkan  Stefanus Dominggo da Silva (54), pimpinan Sanggar Vincentia, mengawali pembicaraannya di Larantuka, baru-baru ini. Sanggar musik dan tarian tradisional Vincentia  didirikan di Larantuka, Kabupaten Flores Timur pada 14 Juli 2001. Sampai saat ini, anggota sanggar sudah lebih dari 30 orang yang terdiri dari anggota senior dan yunior.

Gagasan pendirian Sanggar Vincentia ini, menurut Stefanus, karena dirinya adalah seorang pemain musik gambus dan merasa prihatin dengan musik tradisional yang saat ini  semakin terpuruk dan ditinggalkan. Dari keprihatinan itu, kemudian ia mulai  merangkul orang-orang di sekitarnya agar bisa mengembangkan bakat dan perhatian mereka terhadap perkembangan musik dan tarian daerah.

Menurutnya, bakat-bakat musik  yang dipunyai masyarakat dapat dikembangkan untuk mendatangkan nilai ekonomi, kalau diorganisasikan secara baik. “Saya ingin membantu masyarakat tradisional sekitar untuk menambah penghasilan karena kebanyakan dari mereka tidak mempunyai penghasilan tetap, sekalian mengembangkan budaya dan musik etnik Flores Timur,”kata Dominggo da Silva.

Formasi lengkap Sanggar Vincentia, Larantuka. (Foto: FBC/Emmanuel)

Formasi lengkap Sanggar Vincentia, Larantuka. (Foto: FBC/Emmanuel)

Walau dengan alat musik yang sangat terbatas, sanggar ini tetap berani untuk tampil dan eksis di tengah kemerosotan animo masyarakat terhadap perkembangan musik tradisional. “Kalau bukan kami putera daerah yang harus mewariskan budaya daerah kami, siapa lagi? Saya takut kalau suatu saat tradisi dan budaya Lamaholot akan hilang, ” ujarnya.

Semua lagu yang dibawakan Sanggar Vincentia dalam setiap acara umumnya merupakan gubahan dari Stefanus.  Ia tidak hanya pandai bermain musik tapi juga pandai pula  membuat pantun. Sanggar yang sering tampil pada acara penyambutan tamu dan resepsi pernikahan ini tidak menetapkan harga. Semuanya diserahkan pada pihak penyelenggara.

Ketika ditanya mengenai honor yang biasa diterima, Stefanus mengungkapkan, biasanya mereka menerima Rp. 400 ribu  – Rp. 700 ribu untuk sekali tampil di daerah sekitar Larantuka, dan hasil itu dibagi rata untuk semua personel yang terlibat.

Tampil di Jakarta

Sanggar yang rutin  mengadakan latihan dua kali dalam seminggu ini, juga pernah tampil di Kupang atas undangan dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dalam acara pentas musik etnik Flores Timur dan juga di Jakarta dalam acara resepsi pernikahan anak dari seorang mantan Bupati Flores Timur di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Selain itu juga pernah tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Menurut bapak tiga anak ini, sanggar-sanggar yang ada di Flores Timur ini kurang mendapat perhatian banyak pihak.  Oleh karena itu dia berharap pemerintah lebih memperhatikan sanggar-sanggar musik dan tarian tradisional yang ada khususnya di Flores Timur, sehingga budaya dan musik etnik tidak akan hilan

Dominggus da Silva, pimpinan Sanggar Vincentia.( Foto FBC/Emanuel)

Dominggo da Silva, pimpinan Sanggar Vincentia. (Foto FBC/Emanuel)

 

“Saya juga mengharapkan supaya muatan lokal di sekolah-sekolah dapat diisi dengan budaya dan musik etnik daerah sendiri daripada harus mempelajari budaya dari luar,” kata bapak yang sekarang menjabat sebagai kepala Seksi Pengembangan Seni Budaya pada Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Flores Timur.

Mengakhiri pembicaraan serius yang diiringi lantunan alat musik bajo beliau pun mengungkapkan sebuah pantun tradisional “Kata teta – teta batang, kata teta batang bedara, jao-jao po korang mau datang, mo tengo lia ana saudara.” (*)

 

Penulis: Emmanuel Fernandez

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Foka Roma, Bertahan di Tengah Gempuran Musik Pop

Next Story »

Tinding, Alat Musik Pelipur Lara

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *