Gereja Tua Sikka

Perpaduan Arsitektur Eropa & Lokal

gereja-sikka01

Gereja tua Sikka yang dibangun tahun 1899 hampir setiap hari selalu dikunjungi wisatawan. (Foto: FBC/Ebed)

Gereja Santo Ignasius Loyola atau populer disebut gereja tua Sikka yang dibangun pemerintah kolonial Portugis memadukan langgam arsitektur Eropa dan lokal. Seperti apa?

HAMPIR sebagian besar gedung gereja yang dibangun setelah zaman kemerdekaan, menampilkan arsitektur bergaya modern. Unsur lokalitas nyaris tidak teraplikasi dalam bangunan. Padahal ketika masa kolonial semenjak Portugis maupun Belanda menduduki daratan Flores, corak arsitektur lokal tersua dalam bangunan-bangun publik seperti tempat ibadah, sekolah, dan kantor pemerintahan.

Perpaduan antara arsitektur Eropa dan lokal (Sikka) itu misalnya terepresentasi dalam gedung gereja tua Sikka yang berada di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, yang berjarak sekitar 28 kilometer ke Selatan kota Maumere. Memadukan motif tenun ikat Sikka yang dilukis di setiap sudut dinding gereja dengan lukisan kaca patri bergaya Eropa menjadikan gereja tua ini perpaduan dua budaya.Kerja sama yang dibangun antara Portugis dan Raja Sikka berwujud sebuah bangunan rumah ibadah yang indah, artistik, dan tentu saja tetap lestari di umurnya yang melebihi satu abad.

Gereja tua Sikka merupakan salah satu gereja Katolik di Indonesia yang bernilai historis. Gereja ini juga tetap mempertahankan keasliannya walau untuk itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Kaca jendela gedung misalnya, corak dan warnanya tidak diproduksi lagi di Indonesia sehingga untuk mengganti kaca yang rusak harus dipesan dari luar negeri. Kayu yang digunakan pun merupakan kayu jati berkualitas dan awet hingga ratusan tahun.

Gereja tua Sikka masuk dalam wilayah paroki St.Ignatius Loyola dengan jumlah umat sekitar 1.900 jiwa yang tersebar di enam lingkungan dan 29 Komunitas Basis ( Kombas ). Romo Felix Rongeytu Pr, pastor paroki gereja St.Ignatius Loyola Sikka menyebutkan, jumlah umat Katolik setiap tahun tidak mengalami peningkatan berarti. Hal ini, sebut Romo Felix, karena banyak orang Sikka yang merantau ke luar daerah mencari pekerjaan. Sebab jika bertahan di Sikka, tambahnya, mata pencaharian hanya sebagai nelayan saja karena tanah untuk pertanian hampir tidak ada.

Desa Sikka diapit pantai dan bukit di mana jarak dari bibir pantai hingga bukit hanya sekitar 50 meter saja. Dari penuturan pastor paroki dan buku tamu yang ada di gereja memperlihatkan, hampir tiap hari ada saja wisatawan lokal dan manca negara yang mengunjungi gereja tua Sikka. Baru-baru ini, sebut Romo Felix, ada rombongan pengendara motor besar dari luar daerah yang mayoritas beragama lain, mengunjungi gereja tua Sikka. Buku tamu di gereja juga memperlihatkan, dua hari dan seminggu sebelum kedatangan saya, gereja ini dikunjungi rombongan biarawati dari Larantuka dan beberapa turis dari Eropa.

Dibantu Raja
Orestis Parera (74) warga setempat mengatakan, gereja ini bukan merupakan bangunan yang dibangun saat awal masuknya agama Katolik di Sikka tahun 1607. Gereja awal, kata dia, dibangun oleh Raja Don Alesu bersama umat dan imam-imam Dominikan ( OP ) asal Portugal memakai kayu lokal. Gereja dengan pelindung Santa Lusia ini, selalu mengalami perbaikan karena kayu-kayunya tidak bertahan lama. Hingga akhirnya diputuskan untuk membangun sebuah gedung gereja permanen dan tahan lama.

Pada tahun 1896, urai Gregorius Tamela Karwayu (66) warga lainnya, Pater Yohanes Engbers bersama Raja Sikka Andreas Djati da Silva mulai melakukan pembangunan gereja tua Sikka. Gereja dirancang oleh Pater Dijkmans yang juga merancang bangunan Gereja Katedral Jakarta dengan arsiteknya Bruder Leuvenberg,SJ yang saat itu bertugas di Larantuka. Bruder Leuvenberg, sebut Goris-sapaan salah satu tokoh sejarah yang menetap di Sikka ini-, dibantu oleh Tiburtius Risi Parera selaku tukang batu serta tukang kayunya Moat Kensong da Cunha Solapung.

gereja-sikka03

Kayu – kayu penopang atap di bagian dalam membentuk kerucut, saling mengait dan menyilang. (Foto: FBC/Ebed)

“Kayu jati sebanyak 360 kubik untuk membangun gereja didatangkan dengan kapal besar dari Jawa. Karena kapal tersebut tidak dapat berlabuh di dekat pantai maka kayu-kayu tersebut dibuang ke laut dan ditarik oleh umat hingga ke darat, “ ujarnya

Selain kayu jati, semen dan besi beton juga didatangkan dari Jawa. Sementara pasir dan batu disumbang umat setempat. Dalam masa pembangunan gereja, urai Goris, Raja Andreas meninggal dunia sekitar tanggal 15 Juni 1898 sehingga kerja sama ini dilanjutkan penggantinya yakni Raja Yosef Mbako Ximenes da Silva. Pembangunan gereja pun rampung dan peresmiannya dilakukan lewat misa meriah pada malam Natal, 24 Desember 1899.

Tiga Kali Renovasi
Sejak dibangun, gereja tua Sikka yang berukuran panjang 47 meter dan lebar 12 meter ini sudah tiga kali mengalami renovasi. Menurut yang saya dengar dan saksikan, tutur Goris, atapnya pernah diganti tahun 1935. Pertama dibangun atap memakai seng yang tebal tapi karena uap air laut kadar garamnya sangat tinggi, maka diganti dengan seng yang lebih tebal lagi. Tapi upaya itu tidak bertahan lama, sehingga diganti pakai genteng tahun 1953 oleh Pater Nicholaus Beyer, SVD.

Ditambahkan Orestis, genteng tersebut dibawa oleh kapal motor Theresia dari Ende dan setelah dipakai masih kurang sehingga diproduksi lagi di Sikka. Kaca-kaca gereja yang pecah tidak bisa diganti karena menurut seorang ahli kaca di Sikka yang dididik Belanda bernama Domi Batafor, kaca tersebut tidak lagi diproduksi di Indonesia. Menjelang usia seabad, tahun 1999 silam gereja tua ini kembali dipugar. Genteng diturunkan, dicat ulang dengan warna senada dan dipasang kembali. Kayu-kayu penahannya yang sudah rusak diganti.

“Tiang kayunya masih seperti dulu hanya ada kayu bagian depan saja yang berada dekat pintu sekitar 2 meter sudah keropos dan diganti. Lantainya dipasang keramik dulunya lantainya semen. Bagian altarnya juga dulunya rata saja sekarang ditinggikan sedikit. Kaca yang rusak mau diganti tapi kurang begitu baik sehingga dibiarkan saja. Warna bangunan tetap seperti semula hanya di cat ulang saja,“ ungkap Orestis.

Bangunan gereja tua ini jika dilihat dari depan berbentuk kerucut dua susun. Pada bagian depan pintu dibangun sebuah atap kecil berbentuk sama hanya lebih pendek dengan ketinggian sekitar 3 meter. Atap tersebut ditopang dua buah kayu yang disatukan dengan sebuah kayu melintang di atasnya. Kayu berbentuk segi empat ini semunya selebar 15 sentimeter. Kayu penopang ini berdiri di atas landasan batu kali disusun setinggi 40 sentimeter.

Menara lonceng setinggi sekitar 15 meter terlihat menjulang dari kejauhan dengan sebuah salib besi berwarna putih di atasnya. Di dalam menara terdapat sebuah lonceng besi berdiameter 30 sentimeter dan terdapat sebuah besi bulat di tengahnya. Pada pangkalnya diikatkan sebuah tali yang menjulur hingga ke lantai. Jika tali di bagian bawah dihentakkan, maka lonceng tersebut bergerak ke kiri-kanan dan mengenai besi tersebut hingga menimbulkan bunyi. Bunyi lonceng biasanya dipakai untuk memberikan tanda atau memanggil umat untuk mengikuti perayaan ekaristi di gereja atau ada kegiatan lainnya.

Dinding Motif Tenun
Memasuki gereja selepas pintu depan, pengunjung disambut dua buah patung di kiri kanan. Bagian kanan terpampang patung St.Ignatius Loyola pendiri Ordo Serikat Yesus ( SJ ) dan pelindung gereja ini. Sementara sejajar di kirinya berdiri patung Santo Yosef. Persis di samping kiri dinding pintu masuk bagian dalam terdapat batu prasasti mengenang pastor pertama gereja ini yang asal Belanda. Di situ tertulis, R.P.C.J.F.Le Cocq D’Armandville,SJ, Natus 29 Mart 1846, Obiit 27 Maji 1896.

“Semua bangku di dalam gereja memakai kayu jati. Waktu selesai rehab pastoran banyak tersisa potongan kayu jati dan kayu utuh yang belum terpakai. Saya usulkan kepada Pastor Felik agar kayu tersebut dibuat bangku saja, “ ucap Goris.

Lukisan tenun ikat motif Gabar di sekeliling tembok altar.Motif ini biasa digunakan pada sarung para raja Sikka. (Foto: FBC/Ebed)
Motif Wenda yang dilukis pada sekeliling tembok bagian dalam gereja.Motif ini terdapat pada sarung yang biasa dikenakan masyarakat sehari – hari tetapi tidak untuk  ke pesta. (Foto: FBC/Ebed)
Gedung Pastoran

Kiri kanan bangunan bagian dalam gereja ditopang masing-masing 16 tiang kayu yang memanjang dari pintu depan hingga altar. Kayu-kayu tersebut dibentuk melengkung dan disambung membentuk atap kerucut. Kayu-kayu tersebut diikat dengan kayu-kayu berbentuk silang. Tiap-tiap sisi bangunan setelah tembok terpasang 36 jendela kayu yang dibiarkan terbuka. Sementara jendela atasnya di setiap sisinya terdapat 48 jendela kaca berwarna kuning kusam.

Sekeliling dinding gereja terlukis motif tenun ikat Sikka yang dilukis sejak awal gereja dibangun. Bagian altar dilukis motif Gabar motif tenunan khusus pakaian raja berbentuk belah ketupat. Sementara dinding lainnya dilukis dengan motif Wenda berbentuk buah kapas. Motif tenun ikat yang biasa dipakai masyarakat dalam keseharian tapi tidak dikenakan saat pesta.

“Lukisan motif ini ada sejak awal gereja dibangun. Warnanya pernah diperjelas lagi karena sudah kusam. Meski sedikit berbeda tapi motifnya tetap sama, “ ucap Goris.

Dua buah mimbar dari kayu jati berbentuk segi empat terlihat kokoh di kiri kanan altar. Empat buah kaca di belakang altar salah satu kaca di bagian kiri, setengah kacanya sudah pecah sehingga ditutup memakai triplek. Kuburan di sekililing gereja juga jadi satu kekhasan gereja ini sejak awal dibangun seperti terdapat di gereja – gereja tua di Eropa.

Bagian depan gereja bagian Utara terdapat Kapel Senhor sementara bagian selatan terdapat sumur tua yang selesai dikerjakan tanggal 1 Desember 1969 oleh Pater Musinski, Superior General (Supgen) Ordo SVD (Serikat Sabda Allah ).

Sementara itu, berhadapan dengan gereja tua, terdapat gedung pastoran. Bangunan berdinding kayu jati kaca jendelanya masih asli seperti saat awal dibangun. Hingga saat ini, dalam setiap perayaan Ekaristi di hari Natal dan Paskah di gereja ini masih mempergunakan bahasa Latin. Biasanya pemakaian bahasa saat misa dibagi dalam tiga bahasa yakni bahasa Sikka, Indonesia dan Latin. Pemakaian bahasa dalam misa ini dilakukan bergantian tiap minggunya. (*)

Penulis: Ebed de Rosary
Editor: EC. Pudjiachirusanto

‘Lepo Gete’ Istana Raja yang Merana

Next Story »

Liang Bua Lambungkan Arkeolog Indonesia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *