Alundine & Uwi Ai Ndota

Pasangan nan Menggoda

alundine-04

Alundine sudah matang dan siap dihidangkan. (Foto: FBC/Ian)

Bila singgah di Ende jangan lupa mencicipi ‘alundine’ dan ‘uwi ai ndota’, makanan khas Ende dengan cita rasa nan menggoda

MEMAKAI bahan baku ubi Nuabosi, alundine dan uwi ai ndota menawarkan cita rasa yang berbeda. Jika ingin berkunjung ke Ende, anda dapat menemukan salah satu restoran lokal persis di simpang lima, Jalan Ahmad Yani, depan gerbang Bandara H. Aroeboesman-Ende. Restoran tersebut menyajikan segala jenis makanan lokal khas Ende dengan cara pengolahan makanan secara tradisional pula.

Riny Sahrani (40), adalah salah seorang warga Ende yang mahir mengolah alundine dan uwi ai ndota di Restoran Pangan Lokal. Ia mahir mengolah berbagai jenis makanan lokal termasuk dua jenis makanan khas tersebut, berkat ilmu yang didapat dari kedua orang tuanya. Ia belajar memasak kedua menu tersebut sejak berumur belasan tahun dengan sistem pengolahan secara lokal. “Saya belajar waktu masih kecil. Saya suka memasak makanan lokal seperti ini,”katanya.

Selain diminati warga Ende dan sekitarnya, alundine dan uwi ai ndota sangat disukai wisatawan yang berlibur ke Ende. Tidak heran jika restoran ini selalu dipadati pengunjung karena tawaran menu makan masih sangat lokal dan natural tanpa pewarna atau bumbu buatan pabrik lainnya. Selain kedua menu tersebut, di restoran ini juga disajikan ngeta (rumpa-rampe), nasi kacang, jagung mbose dan berbagai macam makanan lokal lainnya.

“Saya lebih senang mengolah makanan lokal dibandingkan dengan makanan jenis lain. Orang mungkin sudah bosan dengan makanan lain. Banyak yang berkunjung dan beli makanan ini. Rata-rata setiap hari meningkat. Wisatawan juga datang makan di sini dan mereka mengatakan senang dengan makanan lokal seperti ini. Ya, saya harapkan supaya masyarakat Ende kembali menghidupkan makanan-makanan khas, karena ini penting buat kita,”tambah Sahrani.

Bahan baku kedua jenis makanan ini menggunakan ubi Nuabosi. Ubi ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Ende. Jenis ubi yang hanya tumbuh di Flores ini juga dikenal secara nasional. Pengolahan sangat mudah dan sederhana tanpa menggunakan alat dan bahan yang sulit didapat.

Untuk mengolah Alundine dan Uwi Ai Ndota tentu mempersiapkan semua bahan dan alat. Bahan-bahannya adalah ubi Nuabosi, kelapa parut, gula merah atau pisang kepok setengah masak, minyak kelapa dan garam. Alat-alatnya ; wajan, dandang, irus, kain katun bersih tungku api serta tempat sajian. Pengolahan tidak butuh waktu yang lama karena ubi Nuabosi mudah masak.

Cara Memasak Alundine
Pertama kali ubi dikupas kulit luar lalu diparut. Setelah parut, ubi tadi dicincang halus kemudian ditaruh di kain katun bersih dan diperas. Ampas ubi disimpan dan dijadikan bahan baku pengolahan uwi ai ndota. Air ubi diendapkan beberapa jam hingga berbentuk tepung untuk dijadikan bahan baku pengolahan alundine.

Tepung dari air ubi tadi ditumbuk halus lalu dicampur dengan kelapa parut. Ditambahkan air sedikit lalu diaduk hingga rata. Nyalakan api kecil di tungku lalu panaskan wajan/kuali. Masukan minyak kelapa sedikit (1 sendok makan) ke wajan, lalu masukan adonan tepung ubi sebesar kepalan tangan. Adonan tadi diratakan tipis dengan menggunakan irus. Masukan sedikit pisang kepok setengah masak yang sudah dicincang atau gula merah di tengah. Lipatlah masakan tadi dari sisi kiri ke kanan atau sebaliknya untuk menutup pisang cincang atau gula merah. Setelah berwarna kecoklatan, lalu angkat dan alundine siap dihidangkan.

Pengolahan alundine bisa juga dengan cara bakar atau panggang. Adonan alundine dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Tungku api dipasang para-para besi atau alat sejenis untuk panggang ikan. Alundine dibakar dengan menggunakan bara api yang sedang. Lalu bolak-balik alundine tadi hingga matang. Alundine siap dihidangkan.

Perlu diperhatikan, pengolahan alundine dan uwi ai ndota harus benar-benar memiliki kekhasan lokal sehingga dapat menghasilkan makanan lokal yang sebenarnya. Tidak perlu masak di kompor minyak atau kompor gas sebab akan menghasilkan cita rasa berbeda.

Cara Memasak uwi ai ndota
Pengolahan menu uwi ai ndota lebih mudah dibandingkan dengan pengolahan alundine. Ampas ubi sisa pengolahan alundine tadi ditambahkan sedikit garam biji, dicampur hingga rata lalu dikukus. Setelah masak, angkat lalu hidangkan di tempat yang bebas udara sehingga sisa air kukusan cepat kering.

Dahulu para leluhur biasa mengolah uwi ai ndota dengan cara punga. Punga adalah memasak ubi cincang dengan menggunakan tempurung. Ubi yang sudah dicincang lantas diberi bumbu dengan bumbu-bumbu lokal dan dimasukan dalam tempurung kelapa lalu ditutup dengan daun pisang. Bagian dalam tempurung juga dialasi dengan daun pisang.

Cara memasaknya pun sangat sederhana. Kumpulkan abu dapur panas (tanpa bara api) lalu letakkan tempurung di tengah-tengahnya. Semua sisi tempurung harus dikenakan abu dapur sehingga ubi bisa matang atau masak seluruhnya. Tanda-tanda masak atau matang, dari pori-pori tempurung mengeluarkan uap beraroma. Setelah itu, angkat tempurung lalu ubi siap dihidangkan. Pola seperti itu tidak digunakan lagi karena dipengaruhi perkembangan zaman yang modern, sehingga cara pengolahan uwi ai ndota pun ikut berubah.

Cara Menghidangkan
Alundine dan uwi ai ndota dapat dihidangkan di mana dan kapan saja. Menurut masyarakat Ende, mengkonsumsi dua jenis makanan lokal ini sebenarnya dalam suasana sangat santai. Tidak dimakan dalam acara seremonial adat yang formal tetapi saat sedang istirahat atau situasi yang tidak begitu resmi. Misalnya, makan dalam acara jeda kegiatan-kegiatan ilmiah, atau diskusi dalam kelompok-kelompok adat, dan sebagainya. Pada intinya tidak dibatasi ruang dan waktu yang pasti untuk mengkonsumsinya.

Untuk lebih menikmati kedua jenis makanan ini sebaiknya makan perpasangan. Misalnya cicipi alundine dengan secangkir kopi atau teh hangat. Alundine lebih cocok berpasangan dengan minuman. Kalau uwi ai ndota lebih cocok dengan kuah ikan asam atau kuah ikan santan atau lebih nikmat dengan rumpa-rampe atau dalam bahasa Ende orang menyebutnya sebagai ngeta.

Ngeta adalah jenis sayur-sayuran yang terdiri dari daun ubi, daun pepaya, bunga pepaya, jantung pisang, dan jenis sayur lainnya, diolah secara bersama-sama. Ngeta ini bisa dikonsumsi dengan jenis makanan apa saja. Kalau ke daerah-daerah pelosok di Ende, masyarakat selalu meyajikan ngeta.

Alundine dan uwi ai ndota sebaiknya dikonsumsi saat masih panas, mumpung cita rasa dan aromannya masih terasa. Jika sudah dingin maka rasa dan aromanya pun hilang dengan sendirinya. Makanan lokal dengan cara memasak tradisional akan mengeluarkan aroma dan cita rasa yang alam dan natural, ketimbang makanan jenis lain dengan menggunakan bahan-bahan produk pabrik. (*)

Penulis : Ian Bala
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Melalui Reba Warga Bajawa Kembali ke ‘Jalan Benar’

Next Story »

Liang Bua Lambungkan Arkeolog Indonesia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *