Yosef Palu

Padagang Kaki Lima Bergelar Insinyur

Yosef-Palu

Yosef Palu sedang menganyam wadah untuk menyimpan buah-buahan. (Foto: FBC/Kornelius)

Di saat banyak orang mengejar status sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau anggota Dewan, dia memilih menjadi pedagang kaki lima (PKL)

RAMBUT panjang keriting terurai menutupi wajahnya. Penampilannya tampak awut-awutan, tak berbeda dengan sesama pedagang kaki lima (PKL) lainnya. Namun, siapa sangka kalau sosok yang satu ini adalah seorang PKL berpendidikan tinggi bertitel insinyur pertanian jebolan Universitas Wangsa Manggala, Yogyakarta.

Dia adalah Yosef Palu (49), pria kelahiran Kampung Golo Ketak, Kecamatan Boleng Kabupaten Manggarai Barat. Di saat banyak orang berlomba-lomba mengejar status sosial sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau politisi di lembaga perwakilan rakyat, Om Yosef ­-demikian ia biasa disapa- justru memilih terjun di dunia penuh peluh dan persaingan yakni menjadi PKL. Saban hari bapak dua anak ini biasa mangkal di atas trotoar Kampung Ujung dalam bilangan Tempat Pendaratan Ikan (TPI), Labuan Bajo.

Saat saya temui baru-baru ini, Om Yos sedang galau. Hari itu, dia bersama puluhan PKL lainnya diusir oleh petugas pasar agar pindah ke lokasi lain. Para PKL bukannya tidak mau pindah, tapi mereka mengaku setiap hari dipungut retribusi pasar oleh petugas dan pungutan itu sendiri sudah berjalan hampir dua tahun.

“Kami disuruh pindah dari lokasi oleh petugas. Kami bukannya tidak mau, tapi setiap hari kami bayar retribusi pasar. Rata-rata membayar sebesar Rp 5.000 per orang. Bahkan ada pedagang yang sudah bayar uang muka,”keluh Yos sambil mengemas barang-barang dagangannya ke dalam sejumlah karung.

Penuh Liku
Perjalanan hidup Om Yos memang penuh liku, onak, dan duri. Berasal dari keluarga sederhana dengan delapan bersaudara bukan perkata mudah. Kehidupan ekonomi keluarga pun tentu saja pas-pasan. Namun, sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga, ia dituntut bekerja keras membantu orang tua dan saudara-saudaranya. Apalagi dua orang saudaranya lahir dengan kondisi fisik tak normal atau penyandang difabel. Saudara perempuan tertua menyandang tuna rungu sedangkan seorang adik lainnya adalah seorang tuna wicara.

Hidup sederhana dengan banyak saudara tidak membuat Om Yos patah arang. Ia tekun bersekolah dan rajin membantu orang tua. Setelah menamatkan sekolah dasar dan sekolah menengah atas di kampungnya, ia pun bertekad meneruskan cita-citanya ke perguruan tinggi. Pulau Jawa menjadi pilihannya. Ia merantau ke Jawa, tepatnya ke kota Yogyakarta. Tanpa hambatan berarti, ia berhasil masuk kuliah di Universitas Wangsa ManggaIa Yogyakarta dengan mengambil jurusan di fakultas pertanian. Bidang studi yang sejalan dengan cita-cita dan panggilannya jiwanya sejal kecil.

Sebagai anak dari keluarga petani Om Yos ingin menjadi petani yang berpendidikan dan bukan sekedar menjadi pegawai pertanian seperti orang kebanyakan. Masa-masa sulit selama di tanah rantauan ia lalui dengan tabah dan tawakal. Alhasil, ia pun berhasil menamatkan studinya dengan meraih gelar insinyur pertanian.

Usai diwisuda pada tahun 1994, Om Yos memilih pulang kampung. Di kampung, ia memulai hidup baru sebagai seorang petani. Ia membuka kebun dan menanam berbagai tanaman seperti cengkeh, coklat, kemiri, kelapa, pisang, nanas, rambutan, jangung, padi, kacang dan tanaman umur panjang lainnya. Setiap musim kemarau atau musim tanam, ia bersama warga bergotong royong membuka kebun, menanam atau memanen tanaman. Berkat kerja keras dan keluletan hasil panennya pun berlimpah.

Di tengah hasil panen yang melimpah, tantangan justru datang menghadang. Buruknya infrastruktur jalan dan jembatan menjadi hambatan utama bagi Om Yos dan warga kampung dalam memasarkan hasil komoditi mereka. Kondisi buruk tersebut tidak membuatnya putus harapan. Menjual hasil panen kepada warga sekampung adalah satu-satunya pilihan, meskipun harga relatif murah. “Kalau jalan bagus kan, petani tidak perlu ke pasar. Pembeli bisa datang dan beli langsung di kebun,”ujarnya.

Namun, harapan tinggal harapan. Infrastruktur yang memadai tidak kunjung dibangun. Kali ini tidak ada pilihan lain selain ia sendiri harus membawa hasil komoditinya ke pasar. Sejak dua tahun lalu, Om Yos harus menjalani dua profesi sekaligus. Sebagai petani dan pedagang. Pada musim hujan, ia bekerja di kebun dan menanam lalu pada musim panen, ia membawa hasil panenannya ke pasar untuk dijual.

Om Yos ternyata dikaruniai banyak keahlian. Selain berprofesi sebagai petani dan pedagang, ia juga pandai anyam-menganyam. Bakat menganyam merupakan warisan nenek moyangnya. Sejak kecil ia dilatih menganyam oleh orang tuanya. Berbagai ragam bentuk, jenis dan pola anyaman diajarkan oleh orang tuanya. Kemampuan menganyam tidak diragukan lagi. Berbagai jenis anyaman seperti topi, keranjang buah dan kerajinan tangan lainnya. Hasil karya tangannya mendapat respon positif pasar.

Tidak sedikit orang yang mau membeli hasil karyanya. Bukan cuma orang lokal tapi juga wisatawan manca negara. Banyak turis tertarik membeli hasil karya tangannya terutama topi. Beberapa wisatawan bahkan memesan topi buatannya dikirim ke manca negara.”Ada turis dari Prancis yang pesan topi. Saya kewalahan karena masih kekurangan bahan baku,”katanya bangga. Karya tangannya ia jual dengan harga bervariasi disesuaikan dengan jenis barang dan tingkat kesulitan pembuatannya. Harga topi misalnya, ia patok seharga Rp 20.000-Rp.50.000 per buah.

Suami dari Yohana Jemiman ini mengaku apa pun ia lakukan asalkan pekerjaan tersebut halal dan mendatangkan keuntungan. Ia mengaku senang menjalani hari-hari hidupnya sebagai pedagang kaki lima. Ia mengaku segala pekerjaan yang ia geluti selama ini termotivasi oleh kedua saudaranya yang penyandang cacat. ”Dua saudaraku yang cacat itu yang memotivasiku untuk terus berjuang dan berjuang. Saya tidak tega melihat hidup mereka tidak bahagia,”ujarnya datar.

Berkat keteladanan hidup yang dijalaninya, Om Yos pernah dipercaya menjadi kepala desa setempat, selama lebih dari satu periode. Selama menjabat kepala desa, ia membangun desanya hingga lebih baik. Beberapa ruas jalan dibuka dengan cara bergotong royong. Di tengah kesibukannya, ia tetap setia menjalankan profesinya sebagai petani. Kini, hari-hari hidupnya ia jalani dengan berdagang dan berkebun. Sambil tak lupa menganyam, sebagai tradisi nenek moyangnya. (*)

Penulis : Kornelius Rahalaka
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Bermimpi Penuhi Kebutuhan Sayur di Pulau Komodo

Next Story »

“Saya Diadili Media Massa”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *