Nikmatnya Bersauna di Wae Bana

kawah-wae-bana-01

Batu berwarna-warni di dasar kolam Wae Bana. (Foto: FBC/Ian Bala)

Kolam air panas ini memendarkan uap aneka warna yang tidak saja menyegarkan badan tetapi sekaligus penglihatan. Dikelilingi bebatuan yang terus mengeluarkan air, Wae Bana menyimpan sejuta cerita

PAGI di awal Januari itu udara di Desa Nio Lewa, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, terasa segar setelah semalaman hujan mengguyur. Embun pagi di ujung daun berbinar-binar diterpa mentari yang menerobos rimbunnya hutan. Diiringi kicau burung, akhirnya tiba juga saya di Kampung Nio, yang tersohor karena keberadaan Wae Bena, kawah air panas yang berjarak sekitar 3 kilometer dari kampung.

Ditemani Dedy Nage (28) warga asal Desa Nio Lewa, saya menelusuri perbukitan untuk mencapai lokasi dengan jalan menurun dan menanjak tajam. Untuk mencapai Wae Bana dari jalan ke arah Jerebu’u, belok ke kanan, setelah sekitar 100 meter ‘menikmati’ jalan licin tanpa aspal akan ketemu. “Kawah air panas memang tersembunyi dan tidak dapat dilihat jika wisatawan melalui jalur Jerebu’u- Nio-Seso. Harus banyak bertanya kalau ingin berwisata ke kawah air panas. Seperti pepatah, malu bertanya sesat di jalan,” ungkap Dedy sambil tertawa.

Memandang jauh ke kawah air panas di sisi Timur dari arah pintu masuk terlihat uap asap mengepul dari permukaan tanah. Menengok ke sebelah kanan terlihat aliran sungai air panas yang begitu deras. Air itu akan terus mengalir ke Waebela-Aimere, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada.

Dari batu satu ke batu yang lain, perlahan langkah kaki kami terus menelusuri sebuah kawah yang luas. Sejenak langkah berhenti di tempat mandi warga setempat. Tempat yang masih alamiah itu berada di bagian tepi sungai. Air panas yang mengalir tenang di atas talang bambu berukuran 2 meter itu, mengahasilkan air yang cukup hangat. Debitnya kecil membawa kenikmatan tersendiri. Percikan air sebesar biji jagung itu jatuh di batu yang satu  lalu pecah berantakan membasahi batu-batu lain. Jika kita mandi, badan kita terasa hangat dan ringan seperti usai mandi sauna.

“Tempat ini biasanya untuk mandi. Kami tidak mandi di mata air panas karena suhunya sangat panas dan kalau kita mandi, kulit bisa melepuh.  Kalau disini, airnya tidak terlalu panas dan badan kita terasa ringan,”kata Dedy lagi.

Selain air panas, terdapat juga batu berwarna-warni. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, putih dan hitam. Batu-batu berukuran besar, sedang dan kecil itu melekat kuat di sisi tanah merah. Tanpa campur tangan manusia, batu warna alam itu menutupi tempat mandi seperti dinding penutup, namun sedikit terbuka. Warna-warni batu menarik perhatian wisatawan.

Bukan saja batu berwarna, tetapi tanah cadas juga turut mendukung keindahan tempat mandi. Berbagai jenis warna pun terdapat di permukaan tanah. Batu dan tanah cadas seolah berlomba  memamerkan penampilan cantik kepada pengunjung. Seketika memandang beberapa jenis batu warna, saat itu pula tanah cadas menampilkan kecantikan alamnya. Perlombahan tersembunyi itu membuat pengunjung sulit meninggalkan tempat mandi alam.

Bunga Hias Alam
Perjalanan dilanjutkan ke pusat mata air panas. Di sekitanya tersua beberapa jenis rumput dan bunga cadas alam yang melekap pada batu-batu dan permukaan tanah. Ketertarikan rumput alam itu memanjakan mata untuk terus memandang. Berbagi jenis rumput dengan warnanya masing-masing juga terdapat disana. Posisi tumbuh di celah batu seolah menunjukan dan mempromosikan postur tubuh batang, daun, dan bunganya.

Suhu di area kawah Wae Bana yang seluas sekitar 5 hektar itu  kian memanas. Ditambah dengan panas terik matahari membuat suhu tubuh mulai naik. Kami mulai menggeser posisi di atas batu, namun rasa panas terus terasa. Rasa ingin pulang hampir diputuskan dalam benak. Namun apa yang terjadi? Tiba-tiba hembusan angin dari pegunungan mulai terasa. Lambaian rumbut-rumput mengebas kaki yang panas hingga sedikit terasa dingin. Beberapa jenis rumput sekitar pun turut melambaikan daunnya. Seolah menahan untuk tidak kembali pulang.

Di sekitar kawah Wae Bana terdapat beberapa mata air dari celah bebatuan. Air yang keluar sendiri terus mengalir ke kali utama. Debit air sangat kecil, tetapi suhu di sekitarnya sangat panas. Terdapat pula liang-liang kecil. Liang itu adalah sumber mata air panas. “Ratusan anak-anak mata air. Ada yang keluar ada juga tidak. Kalau debit air di kali utama semakin besar, itu tandanya semua mata air keluar,”tambah Dedy.

Tekstur Batu Alam
Memasuki area pusat Wae Bana terdapat berbagai jenis batu dengan tekstur yang berbeda. Warna, bentuk, dan tata letaknya menarik perhatian. Semua itu adalah karya alam tanpa sentuhan tangan manusia.

kawah-wae-bana-03

Batu besar berbentuk rumah adat Bajawa. (Foto: FBC/Ian Bala)

Jarak batu yang satu dengan batu lain sekitar 6 meter sampai 7 meter. Terdapat juga satu jenis batu besar yang seolah menelan batu lainnya. Batu berbentuk atap rumah adat Bajawa. Ada juga batu dengan berbagai jenis lukisan. Lukisan seperti pulau-pulau kecil dan juga beberapa jenis lukisan lainnya. Bentuk batu dengan teksturnya berbeda menarik perhatian pengunjung. “Ini batu asli yang sudah ada dari dulu. Seperti lukisan alam,”ujar Dedy.

Wae Bana sendiri berbentuk seperti kolam dengan ukuran panjang 6 meter dan lebarnya sekitar 3 meter. Suhu di tempat itu lebih panas dari tempat lainnya. Tidak ada tanda-tanda air keluar dari dalam tanah. Airnya sangat tenang dan jernih.

Menurut Dedy, dulu waktu kecil, dirinya pernah mandi di tempat itu. Kolam air panas itu cukup dalam sekitar 2 meter sampai 3 meter. “Dulu kami pernah mandi disini. Sekarang sudah tidak lagi, karena airnya sangat panas,”ujarnya.

Legenda
Wae Bana menyimpan cerita. Dulu sebelum jadi kawah air panas, tempat itu adalah kampung besar. Waktu musim hujan ada seorang ibu dengan anaknya masih bayi dan seekor anjing kecil. Semua orang kampung sedang berada di kebun. Di kampung itu tinggalah dua orang ibu bertetangga dengan kedua bayinya masing-masing.

Ibu tadi hendak meminta api di tetangga sebelah. Namun dirinya bingung siapa yang harus pergi. Jika dirinya pergi, maka harus tinggalkan anaknya sendiri. Ibu itu, kemudian bersepakat dengan seorang tetangganya itu, untuk mengikat sabut kelapa di ekor anjing. Lalu tetangga sebelah untuk memanggil anjing itu. Kemudian ibu tadi memanggil kembali anjing dari rumah tetangga.

Kebutuhan api pun terjadi berkah bantuan seekor anjing. Sore hari, waktu masyarakat kembali dari kebunnya, dua orang ibu tadi menceriterakan kembali kejadian tadi. Mendengar cerita itu, seluruh kampung besar menertawakan.

kawah-wae-bana-02

Kolam dengan air berwarna kehijauan menguarkan bau belerang. (Foto: FBC/Ian Bala)

Selang beberapa menit kemudian, munculah air panas besar seperti air bah dari dalam kolong rumah. Kemudian semua masyarakat di kampung itu lari ke pegunungan. Ada juga yang lari ke wilayah Manggarai dan Riung. Air makin besar kemudian semua masyarakat terpencar lalu membuka kampung-kampung baru sekitar pegunungan. Sampai saat ini, sekitar kawah menjadi kebun warga Desa Nio.

Sekitar pusat Wae Bana terdapat dua mata air besar. Satunya berwarna kehijau-hijauan dan satunya lagi berwarna kuning. Mata air berwarna hijau itu berada di sebelah Utara dan mata air warna kuning berada di Selatan. Di kolam mata air berwarna kuning terdapat liang-liang kecil di dalamnnya dan mengeluarkan air panas disertakan uap gas berwarna kekuningan dari dalam kolam itu. Kolam berwarna hijau juga mengeluarkan uap gas berwarna hijau dan juga berbau belerang.

Hamparan kecil di samping kolam Wae Bana  itu, penuh dengan batu-batu kecil berbentuk seperti mutiara. Ketika pancaran sinar matahari pagi menerpa batu akan menghasilkan cahaya pantulan yang memesona. (*)

Penulis: Ian Bala
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Menghutankan Mageloo, Merawat Kehidupan

Next Story »

Kelimutu, Antara Sensasi dan Mitologi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *