TN Komodo & Perubahan Sosial

Mereka Yang Terusir dari Tanah Sendiri

Pua-Sahibin-01

Pua Sahibin dengan perahu sampannya yang sudah reyot. (Foto: FBC/Kornelius)

 

Penetapan status sebagai kawasan Taman Nasional (TN) Komodo mengubah pola hidup warga. Awalnya mereka bermata pencaharian sebagai petani, namun setelah kawasan tersebut menjadi Taman Nasional, mereka ‘terpaksa’ menjadi nelayan

KONON menurut sejarah lisan yang beredar dari mulut ke mulut, nenek moyang warga Pulau Komodo bermatapencarian dengan cara berburu dan bercocok tanam secara berpindah-pindah. Namun, seiring dengan ditetapkannya kawasan Pulau Komodo dan sekitarnya menjadi taman nasional, penduduk dilarang bertani dan berburu binatang di hutan. Lahan-lahan pertanian mereka pun diambilalih dan dijadikan sebagai bagian dari kekayaan taman nasional tanpa ganti rugi sebagaimana mestinya. Sejak saat itu sebagian besar penduduk memilih jadi nelayan dan cuma segelintir orang yang masih bertani.

Pua Sahibin, kakek berusia 80 tahun adalah salah satu warga yang merasakan getirnya hidup di pulau yang terkenal sebagai habitat asli kadal purba komodo. Bapak enam anak ini adalah seorang petani yang terpaksa beralih profesi menjadi nelayan lantaran kehilangan lahan pertaniannya.

Saat saya temui, Sahibin berkisah bahwa jauh sebelum kawasan Komodo ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980, ia bersama belasan kepala keluarga (KK) lainnya sudah menetap di Pulau Komodo, tepatnya di Loh Liang, salah satu kawasan terkenal dan menjadi pintu gerbang utama pariwisata Komodo.

Mereka hidup bertani dan berburu binatang hutan. Mereka berkebun dan menanami lahan mereka  dengan berbagai jenis tanaman seperti jagung, singkong, pisang, kelapa, kacang-kacangan, dan berbagai tanaman palawija lainnya. Sahibin mengaku, tanah di Loh Liang adalah warisan orang tuanya. Ia sendiri lahir di wilayah itu hingga menikah dan mendapatkan keturunan.

Terusir
Memasuki tahun 1979, kisah Sahibin, ia dan keluarga serta puluhan warga lainnya diminta keluar dari Loh Liang dan pindah ke Kampung Komodo. ”Kami disuruh keluar dari Loh Liang untuk pindah ke Komodo. Katanya, ada aturan bahwa Loh Liang itu daerah cagar alam sehingga tidak boleh berkebun di situ,” kisah Sahibin. Atas perintah pemerintah itu, puluhan warga itu pun terpaksa pindah ke lokasi baru meskipun dengan berat hati karena mereka harus meninggalkan kebun, tanaman, dan perkampungan yang telah mereka diami selama puluhan tahun. “Kami menyesal, kenapa kebun-kebun kami yang sudah ditanami disuruh ditutup,” tambah Sahibin dengan nada sedih mengenang masa lalu yang pahit.

Pua-Sahibin-02

Pua Sahibin di rumahnya. (Foto: FBC/Kornelius)

Bahkan, menurut dia, seluruh tanaman mereka terutama kelapa yang sudah berbuah, sengaja ditebang dan dimusnahkan. Seluruh aset mereka seperti tanah dan tanaman serta binatang peliharaan diambilalih tanpa ganti rugi sesen pun. Rumah tempat kediaman mereka ditinggalkan begitu saja dan dibiarkan telantar lantaran tak terawat atau sengaja dimusnahkan. ”Kami hanya membawa sisa-sisa kayu untuk buat dinding rumah,”katanya datar.

 

Di lokasi yang baru yakni Kampung Komodo, mereka hidup serba kekurangan. Selain tidak bisa lagi berkebun karena ketiadaan lahan, mereka juga sulit membangun rumah tinggal karena dilarang menebang pohon di hutan, mengambil kayu bakar atau berburuh binatang hutan serta berbagai larangan lainnya.

Satu-satunya mata pencaharian yang masih mungkin mereka lakoni adalah menjadi nelayan. Mengubah profesi atau mata pencaharian mereka dari bertani menjadi nelayan ternyata tidak semudah membalikan telapan tangan. Setiap hari Sahibin harus melaut mencari ikan, kerang, buah lamun, dan hasil laut lainnya untuk bisa mempertahankan hidup.

Beragam kesulitan datang silih berganti. Mencari ikan, tanpa sarana prasarana yang memadai seperti perahu atau pukat merupakan kesulitan tersendiri. Penghasilan yang ia peroleh hanya cukup untuk makan sehari. Belum lagi kebutuhan rumah dan anak-anak yang masih kecil. Ia mengaku dari jerih payahnya sehari ia mendapatkan uang Rp. 100-Rp 160 (nilai mata uang tahun itu).

Untuk menghidupi keluarganya, setiap hari mereka makan mbutak yakni buah pohon gebang yang diolah menggantikan nasi. Dalam perjalanan waktu, mbutak pun tidak mereka konsumsi lagi lantaran pohon-pohon gebang dilarang ditebang oleh otoritas taman nasional.

Meskipun hidup serba sulit, namun ia bersama keluarga tetap bertahan hidup dalam kondisi apa adanya. Belakangan, ia berhasil membuat sebuah perahu sederhana. Dengan sampan itu, ia dapat menjalankan aktivitas melaut. Setiap hari ia pergi melaut dan baru pulang ke rumah menjelang magrib. Tantangan datang silih berganti. Profesi nelayan nyaris ia tinggalkan lantaran adanya peraturan zonasi yang ditetapkan oleh pemerintah di dalam kawasan perairan laut Pulau Komodo dan sekitarnya.

Sistem zonasi itu justru menambah susah Sahibin dan nelayan lainnya. Mereka merasa ruang tangkapan mereka semakin dibatasi dan keamanan mereka terancam oleh kehadiran aparat keamanan laut.

“Kami merasa tidak aman dan kami dilarang menangkap ikan di zona-zona tertentu. Hasil tangkapan kami menurun tajam,” keluhnya. Kondisi demikian diperparah oleh ketiadaan sarana prasarana yang memadai. Meskipun memiliki perahu sampan namun ia mengaku tidak bisa mencari ikan di laut dalam atau berlayar lebih jauh dari kampung.

Semua ini akibat dari peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Meskipun ia mengaku mendukung peraturan pemerintah demi menjaga kelestarian lingkungan, namun ia tidak habis pikir mengapa pemerintah tidak memikirkan nasib para nelayan yang serba kesulitan.

Bagi Sahibin, jika pemerintah mau menerapkan aturan untuk melindungi kawasan itu, maka pemerintah mestinya juga mencari solusi untuk mengatasi persoalan yang mereka hadapi. “Kami mau makan apa kalau pemerintah hanya tahu melarang, tetapi tidak tahu bagaimana agar kami bisa hidup lebih baik,”ujarnya.

Dengan perahu sampan mungil miliknya, saban hari ia terus mengais rezeki di tengah samudra raya. Sayang, ia tidak bisa menyeberang jauh ke tengah laut karena sampan kecil dan reyot itu sering diterpa gelombang dasyat.

Ia bercerita bahwa pada suatu waktu, ia pernah nyaris tenggelam setelah sampannya diterpa badai dasyat. Namun ia selamat berkat doa yang ia panjatkan. “Waktu itu saya hanya bisa pasrah,” ujarnya mengenang tragedi yang nyaris menghilangkan nyawanya itu.

Kini, meskipun usianya kian rentah, namun Bapak Sahibin tetap bersemangat mendayung sampannya ke tengah samudra demi mencari sesuap nasi. (*)

Penulis : Kornelius Rahalaka
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Lengkong Cepang, ‘Tanah Terjanji’ yang Diingkari

Next Story »

Tak Mampu Beli Kayu Bakar, Beralih Jadi ‘Papalele’

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *