Menghutankan Mageloo, Merawat Kehidupan

bakau-mageloo-01

Bakau Akar Tongkat di hutan bakau Mageloo, Ndete, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. (Foto: FBC/Ebed)

Sepasang suami istri ini dengan sukarela menghijaukan Pantai Mageloo dengan ribuan tanaman bakau agar terhindar dari abrasi dan tsunami

BAKAU yang biasa tumbuh dan berkembang biak di pesisir pantai kian hari kian sulit dijumpai di Flores. Saat melintasi Pantai Utara Flores mulai dari Flores Timur hingga perbatasan Nagekeo, hampir semua daerah pantai terlihat gundul. Hanya ada beberapa pohon bakau yang tersisa di pesisir pantai utara Flores. Itu pun sebagian telah mati dan satu dua rumpun berada di dalam laut.

Kondisi berbeda saya alami saat menyambangi Pantai Mageloo, Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, belum lama ini. Sejauh mata memandang yang tampak adalah kehijauan dedaunan serasa berada di tengah hutan. Kawasan seluas 50 hektar ini dipenuhi ratusan pohon bakau dengan ketebalan 300 meter. Bakau-bakau ini rupanya tidak tumbuh liar namun ditanam dengan sengaja.

Semenjak tahun1993, satu demi satu pohon bakau ditanam Viktor Emanuel Raiyon bersama sang isteri Anselina Nona. Perjuangan berat diawali saat mencari bibit. Menyusur pantai ke arah Timur sejauh satu kilometer bahkan lebih ditempuh suami siteri ini dengan berjalan kaki. Saat musim hujan, banjir terjadi di muara sungai, mereka berdua pun terpaksa berenang melintasi tempat itu hanya demi mendapatkan benih bakau.

Cegah Abrasi
Bagi Baba Akong sapaan Viktor Emanuel Raiyon, menanam bakau membuatnya bisa tidur lelap saat gelombang dan ancaman tsunami kembali menerjang. Saat bencana tsunami mengguncang Sikka dan Flores tahun 1992, dirinya harus kehilangan kebun kelapa yang sudah ditanamnya puluhan tahun. Usai tsunami, dirinya berjalan di pantai dan melihat kawasan pesisir yang gundul. Pohon- pohon yang menyelamatkan mereka dari guliran batu di saat bencana, memberi pelajaran berarti baginya untuk menanam pohon, khususnya pohon bakau di Pantai Ndete, Magepanda. Prinsipnya, menanam bakau bisa melindungi nyawa dari terjangan tsunami.

“Kita tidak tahu, kapan bencana akan terjadi. Lebih baik kita yang tinggal di pantai ini menanam pohon bakau sebanyak mungkin untuk melindungi diri dari terjangan gelombang pasang dan juga abrasi. Kita mulai kerja, jangan tunggu pemerintah. Para ahli dan orang pemerintah bilang tanam bakau di pasir tidak bisa tumbuh, saya sudah praktikkan dan ini hasilnya, “ papar Baba Akong.

Ketika diundang oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan baru-baru ini, tambah Raiyon, dia mengatakan agar mulai sekarang kita harus giatkan penanaman bakau karena abrasi saat ini semakin menjadi-jadi. Dirinya mengkritik pemerintah yang lebih senang membangun tanggul penahan gelombang daripada bergelut dengan lumpur untuk menanam bakau demi mencegah abrasi dan menghijaukan lingkungan.

“Waktu tentara tanam di Koro saya sempat tahu ternyata ada program tanam satu miliar pohon bakau oleh Kehutanan setiap tahun. Tapi dana untuk itu larinya ke mana? Tenyata sampai sekarang belum sampai ke masyarakat. Kalau tidak tanam bakau yang banyak, suatu saat kita akan beli oksigen. Anak yang baru lahir pun sudah harus beli oksigen, “ ujarnya.

Baru-baru ini, kata Raiyon lagi, terjadi gempa dan air laut naik di Koro. Masyarakat mengungsi ke gunung. Camat Magepanda tanya kepadanya kenapa tidak lari ke gunung, dan dijawab olehnya, kami tidak mau lari, kami disini sudah aman karena ada benteng. Tahun 2008 di Kolisoro air laut naik sampai ke sawah. Dirinya bersurat ke Menteri Kehutanan (waktu itu) M.S Kaban dan dibantu 100 ribu anakan bakau. Sampai sekarang, kata Raiyon, semua sudah tumbuh bagus dan masyarakat senang.

“Secara alamiah bakau itu tumbuh di darat, bukan di dalam air. Karena itu kita bisa menanam di atas pasir. Yang paling penting adalah ketekunan dan kesediaan kita untuk merawatnya sehingga bisa berkembang baik. Pahon-pohon bakau yang ada di dalam air itu, awalnya di darat. Tetapi abrasi mengakibatkan pohon-pohon menjadi bagian dari air laut,” kata Raiyon sambil menunjuk serumpun pohon bakau di dalam laut.

Terlengkap
Koleksi bakau di Mageloo boleh dikatakan terlengkap di daratan Flores bahkan mungkin di Indonesia. Para ahli hanya mengetahui maksimal empat jenis bakau, sementara di kawasan hutan bakau Mageloo hidup dan berkembang biak 15 jenis bakau.

Selama 21 tahun menanam bakau dan menghutankan beberapa wilayah di Indonesia membuat Raiyon menamai sendiri 15 jenis bakau dalam bahasa Indonesia. Bahkan Raiyon paham benar manfaat dari setiap jenisnya.

Disebutkan Raiyon, bakau Akar Tongkat ada empat jenis yakni 25 sentimeter, 40 dan 70 sentimeter serta bunganya warna merah muda. Sementara bakau Akar Papan ada dua jenis yakni kulitnya warna hitam dan warna cokelat. Selain itu ada bakau Akar Nafas, Akar Lutut, Kacang Hijau, Santigi, Gaharu, Buah Jeruk, Biji Lamtoro, Pandan Laut, dan bakau Waru Laut.

Bakau Akar Nafas, sambung Raiyon, dipakai untuk bahan tepung terigu, bakau Akar Tongkat untuk makanan kepiting, bakau Akar Lutut bunganya untuk lebah buat madu dan buahnya jadi makanan monyet dan burung peregam. Selain itu, bakau Kacang Hijau bijinya jadi makanan burung perkutut dan tekukur, bakau Gaharu biasa dijual ke India untuk kemenyam dan bakau Buah Jeruk untuk makanan monyet. Bakau Akar Lutut, urai Raiyon, batangnya sering dicari karena dijadikan bahan baku untuk membuat uang kertas Dolar dan Rupiah pecahan 100 ribu, sementara bakau Santigi oleh orang Cina dipercaya untuk penarik rezeki dan banyak dijadikan tanaman bonsai.

Dikisahkan Raiyon, ada seorang profesor dari Solo (Jawa Tengah) datang ke tempat ini. Seraya membuka buku dirinya berdebat dengan Raiyon dan mengatakan bakau tidak bisa hidup di pasir bahkan dia cuma tahu dua jenis bakau saja. Daripada berdebat, sebut Raiyon, dirinya mengajak profesor tersebut ke pantai dan melihat langsung. Sambil menunjuk bakau, Raiyon meminta sang profesor untuk mendokumentasikannya.

“Pertama dia ambil bakau dan dia bilang ini bakau. Saya bilang tidak. Ini namanya bakau Akar Tongkat, dia bilang oh bukan, ini lain. Saat saya tunjuk bakau jenis lainnya dia geleng-geleng kepala, oh betul ya. Dia heran kenapa bisa hidup. Saya bilang bapak sudah profesor, saya cuma tamat SMP. Kalau saya ajar bapak, ilmu kita bagai langit dan bumi,“ tutur Raiyon seraya tertawa lepas.

Karena kesal, katanya lagi, nama sang profesor tidak sempat ditanyainya. Profesor tersebut akhirnya menyesal karena Raiyon tidak mau membagikan ilmunya. Orang kampung yang ikut mengantar profesor memberitahukan kepadanya bahwa Raiyon profesor lokal mereka.

Ditambahkan Mama Nona, sapaan akrab Anselina Nona, banyak pelajar, mahasiswa, dan peneliti yang datang belajar tentang bakau di tempatnya. Biasanya mereka mendapat informasi dari internet. Selain itu, tambah ibu enam orang anak ini, mereka juga melakukan pembibitan bakau karena ada pesanan dari pemerintah daerah di luar Kabupaten Sikka. Suaminya pun sering juga diundang untuk mengajarkan bakau dan melakukan penanaman di beberapa daerah di Indonesia.

Kerang Melimpah
Berjalan mengitari hutan bakan sangat melelahkan, saya bahkan tidak sanggup mengitari keseluruhan hutan bakau. Untungnya ada sebuah jembatan bambu sepanjang 300 meter di tengah areal hutan bakau sehingga memudahkan pengunjung buat berjalan dari halaman belakang rumah Raiyon hingga ke bibir pantai. Selain itu, di tengah hutan bakau juga terdapat empat kolam ikan yang jadi tempat berkembang biak bandeng.

Pengunjung dan masyarakat sekitar juga dipersilakan Raiyon dan isterinya untuk menangkap ikan dan mencari kerang di areal hutan bakau. Tak mau ketinggalan, saya pun masuk ke tengah hutan bakau memilih kerang yang biasa dipakai mengobati penyakit lever.

“Kalau musim kemarau di bulan Mei sampai Agustus saat harga ikan mahal warga Magepanda yang tinggal di gunung suka datang ke sini pilih siput dan cari ikan.Waktu mereka pilih siput dan bawa pakai karung, orang Jepang yang sedang belajar di sini heran. Dia bilang orang Indonesia ini hebat, bisa makan batu. Saya bilang bukan batu Tuan. Ini direbus dulu dan diambil isinya baru dimakan. Oh begitu, saya pikir makan batu, “ ceritera Mama Nona seraya menyitir keheranan orang Jepang itu.

Selain kerang, di hutan bakau kita juga akan menjumpai banyak ikan. Saat air pasang, ikan terlihat berlarian di sela-sela pohon bakau. Menurut Raiyon, hutan bakau jadi tempat bertelur ikan. Saat malam tiba, banyak ikan yang berkumpul di dalam areal hutan bakau ini. Dengan menanam bakau, Raiyon telah merawat kehidupan. (*)

Penulis : Ebed de Rosary
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Antara Ruang Publik dan Lahan Komersial

Next Story »

Nikmatnya Bersauna di Wae Bana

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *