Pahe Uma Weru dan Uma Ramut

Memindahkan Roh Halus di Kebun Baru

tanam-ritual-paheuma-01

Para perempuan sedang memasukan bibit padi ke dalam lubang yang sudah dibuat di areal kebun. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Bagi warga Tana Ai padi ibarat manusia. Jika jagung berjenis kelamin laki-laki, maka padi merupakan perempuan. Bibit padi sebelum ditanam wajib diberi pendinginan dan sesajen

SELAIN piong ( memberi makan ) kepada leluhur dan Tana Wulan ( bumi dan langit ), piong juga dilakukan untuk Guna Dewa ( penjaga kampung ) di Uma Loran ( kebun ). Menyuguhkan piong dan menggelar ritual, wujud sembah bakti bagi ketiganya. Ritual juga bermaksud meminta restu dan perlindungan agar padi yang ditanam di kebun terhindar dari penyakit dan gangguan lainnya guna mendatangkan hasil penen yang baik.

Ritual adat bagi masyarakat adat Tana Ai, masyarakat yang mendiami wilayah Timur Kabupaten Sikka, merupakan sebuah kegiatan yang selalu dilakukan dalam berbagai proses menjalani kehidupan. Membuka kebun baru dan menanam padi juga harus didahului dengan menggelar ritual adat.

Ketika saya menyambangi komunitas Suku Soge di Kampung Wairbou, Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka mereka akan menggelar Pahe Uma Weru, ritual adat yang dilakukan saat akan memulai menanam padi dan jagung di kebun baru.

“Sudah sejak lama kebun ini tidak ditanami padi dan jagung. Karena baru dibuka dan tahun ini, kami mau tanam lagi maka harus dibuat ritual adat sebelumnya. Ritual adat ini juga merupakan penghormatan terakhir kepada mendiang nenek saya, “ ujar Maria Dua Lodan (25).

Menurut tradisi agama lokal di Sikka, sebut Maria, penghormatan terakhir bagi orang yang sudah meninggal lewat Sumana Pitu (sembahyang selama 7 minggu) dan diakhiri dengan Buka Kabung atau Lega Mitan (melepaskan pakaian hitam yang dikenakan sejak kematian). Menggelar ritual adat, tambahnya, merupakan penghormatan terakhir bagi mendiang karena ini merupakan kewajiban kami sebagai anak. Selain Uma Weru ritual ini juga disebut Uma Ramut merupakan tradisi wajib masyarakat Tana Ai serta akan terus berlangsung sampai panen dan injak padi.

Ada juga Uma Nitu dan Uma Pati Ea. Uma Nitu, tutur Maria, di mana saat buka kebun baru ada penghuni kebun. Misalnya, di kebun itu terdapat pohon besar dan ada ular yang mendiaminya. Dengan demikian, harus dibuat ritual untuk memindahkan Nitu (roh halus) ke tempat yang baru. Sedangkan Uma Pati Ea, katanya, saat buka kebun baru ada tawon yang hinggap dan bersarang di kebun atau bisa juga lewat mimpi di mana arwah leluhur marah sehingga harus dibuat ritual adat.

Nara Wini
Mentari mulai kembali ke peraduan. Menginjak malam Sope (pemimpin ritual adat) beserta isteri dan keluarga pemilik kebun berkumpul di pondok yang dibangun di tengah kebun. Terdapat tiga buah bale-bale bambu (tedang) dibangun di sana. Pondok dibangun dua bagian: yang beratap terpal berfungsi sebagai dapur, sementara yang beratap seng tempat berkumpul makan dan minum, menggelar ritual adat dan juga menyimpan bibit padi yang akan ditanam.

“Pondok ini kami baru bangun dengan tiang dari kayu dan bambu. Seharusnya atapnya pakai ilalang tapi karena susah didapat maka kami pakai seng dan terpal. Tidak boleh memakai daun kelapa. Terpalnya juga sementara saja, nanti akan kami ganti dengan seng, “ tutur Maria.

Sebelum digelar ritual adat, beras yang direndam air ditumbuk pemilik kebun memakai lesung dan alu untuk dijadikan lekun. Sope mulai menyiapkan lekun, telur ayam, beras, sirih pinang, tembakau dan moke (arak). Bibit padi yang akan ditanam dipindahkan oleh Sope dari karung ke dalam horeng (wadah besar bulat yang dianyam dari daun lontar). Poron huga (parang yang digunakan waktu membuka kebun ) diletakkan di dalam horeng.

Telur ayam dan sedikit beras diletakan di korak (terpurung kelapa). Dua buah korak diletakkan Sope di tengah kebun. Satu di ai pua (tempat untuk tanam kayu buat ritual keesokan harinya) satunya lagi di ai huga (pohon yang pertama ditebang saat buka kebun). Dua buah korak lainnya diletakan di sekitar pondok. Sebuah korak untuk Tana Wulan (bumi dan langit) sedangkan satunya lagi di pinggir kebun disuguhkan bagi Guna Dewa (roh penjaga kampung).

“Kurut (tempat untuk piong dari sebuah batu ceper dan sebatang pohon) simbol untuk memberi makan pada bumi dan langit supaya dapat berkat dan hasil panen yang baik. Juga kalau besok lusa ada orang yang punya tujuan tidak baik dengan kebun ini maka bumi dan langit yang kita sudah beri makan lewat simbol dari kurut tadi, mereka yang akan melindungi kebun dan membalas orang yang berbuat jahat,“ tutur Wilhelmus Wolor (69) yang bertindak selaku Sope.

Sementara itu Luka (orang yang membagi bibit padi saat akan ditanam) mengiris sirih pinang. Ada dua macam sirih pinang yang satu namanya Wua Taa Blutuk (sirih pinang untuk arwah ) dan satunya lagi Wua Taa Liren (sirih pinang perdamaian ). Wua Taa Blutuk dan tembakau diletakan di atas sebuah batu pipih di bawah bale-bale oleh Sope. Wua Taa Liren dimasukan di Teli Wua Matan (tempat tutup sirih pinang yang dianyam dari lontar ) dan semua orang yang berkumpul di pondok datang menjamahnya, makna dari saling memaafkan. Sesudahnya, sirih pinang dibagi oleh Sope kepada setiap orang untuk dimakan.

Lekun, telur ayam katun (telur ayam yang ditaruh di atas bara api hingga matang ), sedikit nasi dan ekor ikan (i’an kekor) dibakar lalu ditaruh di luli kula (tempurung kelapa yang sudah dihaluskan). Semuanya disuguhkan bersama moke kepada arwah leluhur di atas bale-bale (piong tewok ).

Setelah itu semua makan malam bersama. Sope bersama pemilik kebun tidur di pondok hingga pagi untuk menjaga bibit padi yang akan ditanam. Mete atau begadang ini disebut Nara Wini.

“Bibit yang kita sudah buat harus dijaga supaya tidak ada orang yang datang sengaja juga supaya jiwa dari padi jangan pergi. Parang huga untuk jaga di tengah kebun. Kalau ada orang yang sengaja, kita ambil parang huga itu dan kita doakan maka dia bisa terbang dan pergi membunuh orang yang sengaja berbuat jahat tersebut,” jelas Wolor.

Mendirikan Ai Pua
Sebelum digelar ritual adat di tengah kebun, pagi itu di pondok, Sope membuat piong tewok atau ekak. Nasi, lekun, i’an kekor diletakan di atas bale-bale bambu guna memberi makan kepada leluhur seraya menyampaikan bahwa akan dilakukan proses menanam padi.

Susudahnya, semua berkumpul di pondok. Beberapa warga kampung dan kerabat hadir satu per satu. Sekitar jam 09.00 pagi wakil Sope tiba dari hutan memanggul beberapa batang kayu, beberapa lembar daun dan buah kemiri.

“Ritual adat bisa dimulai kalau Sope sudah tiba dari hutan. Cari kayu gampang-gampang susah. Kadang kayunya ada tapi tidak bisa dilihat. Kayu ini yang nantinya untuk membuat Ai Pua “ ucap Markus Moro ( 49 ), yang bertindak sebagai pembantu Sope.

Batang kayu pohon wana bercabang sebesar paha orang dewasa dengan diameter sekitar 20 sentimeter diruncingkan di bagian pangkalnya. Sebuah kayu koang bulat lurus sekepalan tangan berdiameter 10 sentimeter yang berfungsi melubangi tanah (ahek) juga turut diruncingkan. Di saat pembantu Sope meruncingkan kedua pangkal kayu, Sope menganyam daun lontar (koli) berbentuk silang dengan empat ujung daun koli dibiarkan menjulur ke bawah.

Kayu bulat besar bercabang oleh Sope diangkat tinggi dan ditancapkan di tanah sebanyak tiga kali lalu ditanam. Sebuah palang kayu turut diikat di antara kedua cabangnya memakai tali dari akar kayu. Kayu bercabang sebesar ibu jari juga ditancapkan di tanah dan dimiringkan sehingga bagian cabangnya berada persis di depan cabang kayu utama. Kayu koang pun ditanam di sebelahnya. Fungsinya huler buluk pang padak, medinginkan.

Selama proses ritual adat berlangsung, semua yang hadir dilarang kentut atau bersin. Pantangan lainnya, sebut Wolor, setelah ritual adat, keluarga pemilik kebun tidak boleh turun ke Kali Nangagete menangkap belut. Ipun (ikan kecil) dan udang sebelum padi dipanen dan dilakukan upacara. Poron huga juga tidak boleh digunakan dahulu apalagi dipakai untuk potong ubi kayu.

Agnes Genu (70) saat saya tanya kenapa harus meludahi tangan pemilik kebun sebelum proses tanam, menyebutkan, hal ini dilakukan dengan maksud agar tangan menjadi dingin sehingga bibit padi dan jagung yang ditanam bisa tumbuh bagus. Sisa bibit padi pun tidak boleh dipergunakan dan harus diletakan di pondok, tidak boleh dibawa ke rumah. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Jejak Portugis dalam Toja Bobu

Next Story »

Kebersamaan dalam Menangkap Ikan Se

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *