Menyambangi Air Terjun Lianiki (1)

Membelah Hutan Bambu, Menyusuri Batu-Batu

Keheningan langsung membekap, yang terdengar hanya desau suara daun bambu bergesekan saat menyusuri bukit dan hutan menuju air terjuan Lianiki. Selebihnya adalah batu-batu besar yang menghadang

BEBATUAN terjal mengapit saat menyusuri air buat menggapainya. Berada di dalam lembah membuat saya harus berjalan di permukaan air dari mulut air terjun melewati lorong sempit mendaki dua tangga batu buat menatapnya.

liainiki-01

Bernadus Paro ( depan ) bersama rombongan saat melintasi Tiwurobi, deretan batu besar menyerupai punggung kuda. (Foto: FBC/Ebed)

Lubang-lubang pada bebatuan berwarna kecoklatan dipadu hijau tua seakan memanjakan mata. Saat suara melengking memecah keheningan, ratusan kelelawar keluar dari sarangnya dan beterbangan sekitar air terjun. Dedaunan dan ranting pohon yang berserakan di permuakaan air seakan mempertegas keperawanan air terjun Lianiki. Dengan tinggi sekitar 15 meter, air terjun ini tetap disambangi wisatawan asing meski asing terdengar di telinga warga Sikka.

Mentari belum menampakan sinarnya. Jarum jam masih menunjukan pukul 06.00 wita, saat saya bangun dan menyiapkan perlengkapan. Celana pendek dan sandal gunung saya kenakan. Biar praktis dan tidak terhambat saat perjalanan membelah hutan dan melewati lembah curam, celetuk pemandu saya saat sudah mengganti celana.

Tak lupa air minum, pisang dan singkong ditambah ikan laut sebagai ransum yang akan dibakar di air terjun ikut dibawa. Minimal perjalanan satu jam bagi pemula. Kita pasti sering beristirahat dan berhati-hati saat menuruni lembah dan melewati pinggir jurang terjal. Apalagi saat musim panas begini, banyak daun yang beguguran dan membuat jalanan licin, tutur pemandu seakan membuat nyali saya ciut.

Setelah semua perlengkapan siap, perjalanan dilakukan mengambil titik start di Kampung Wolokepo, Desa Gera, Kecamatan Mego. Rute ini ditempuh karena dari titik ini perjalanan lebih banyak menurun dan jarak tempuhnya lebih pendek, sekitar 2 kilometer.

Membelah Hutan Bambu
Desa Gera berlokasi sekitar 45 kilometer arah Barat kota Maumere dengan melintasi jalan negara Trans Flores. Selepas pertigaan Wolo Dolo perjalanan masih bisa ditempuh menggunakan kendaran bermotor ke arah Utara, mendaki melintasi jalan aspal dan berbatu sejauh 3 kilometer.

“Kalau dari Kampung Mokekapa di sebelah bawah, kita akan berjalan mendaki dan butuh waktu lebih lama. Kalau dari sini kita cuma menurun saja, setelah melewati bukit kita akan jalan lewat kali, setelah itu lewat pinggir tebing, “tutur Bernadus Paro (61) kepala dusun yang jadi pemandu.

Selain Bernadus, Dominikus Yos (22) putra sulungnya serta Tarsisius Lidi (23) dan Yohanes Wora (14) ikut menemani saya. Keberadaan ketiganya cukup membantu saya saat berjalan di jalan setapak di samping tebing miring yang persis bersisian dengan tebing curam di sebelahnya. Saat melewati rintangan ini, Yos demikian Dominikus Yos biasa disapa bersama Nando sapaan Tarsisius Lidi, memegang tangan saya untuk menjaga tubuh ini tetap seimbang dan tidak miring.

Setelah menuruni bukit yang dikelilingi kebun kemiri dan melintasi lahan bekas kebun yang baru saja dibakar, perjalanan dilanjutkan membelah hutan bambu dengan tetap menurun tajam. Bernadus sering terlihat mengayunkankan parangnya menebas ranting bambu untuk membuka jalan. Sesekali kaki tergelincir akibat licinnya jalan yang dipenuhi daun bambu. Sandal pun terpaksa dilepas dan sisa perjalanan saya tempuh tanpa alas kaki.

Menapaki Tiwurobi
Setengah jam berjalan rombongan kami tiba di Kali Tiwukopo. Dalam bahasa lokal lio artinya air kolam. Ada dua tempat di Tiwukopo. Tiwukopo Ria atau air kolam besar, biasa dipakai warga untuk mandi. Akibat musim kemarau panjang tahun ini, debit air kali Tiwukopo menurun drastis.

lianiki-03

Tiwukopo Ria yang biasa dijadikan tempat mandi dan bermain saat kolam tersebut dipenuhi air. (Foto: FBC/Ebed)

“Beberapa tahun lalu debit air Kali Tiwukopo masih besar. Biasanya kalau mandi di Tiwukopo Ria masyarakat sering membuat rakit agar bisa melintas mendekati air terjun kecil (ae mora loo) di ujung batu. Anak-anak sering melompat dari atas tebing batu setinggi 10 meter. Air di bawahnya masih dalam sekitar tiga meter,“ tutur Yos.

Sementara Tiwukopo Loo artinya air kolam kecil juga biasa dipakai untuk tempat mandi. Debit airnya kecil sehingga bisa dipakai untuk berendam. Terlihat beberapa ekor anjing sedang berlarian di atas bebatuan rata di sekelilingnya sambil menunggu sang tuan mandi. Beberapa perempuan asyik mencuci pakaian. Selebihnya ada kesunyian.

Sinar mentari menyengat sudah mulai terlihat menembuas celah-celah rimbunnya ranting pohon dan tertutup tebing batu. Tiwurobi (batu-batu besar seperti punggung kuda) seakan menantang untuk dipanjat. Ada lima batu besar setinggi 4 meter-5 meter dengan lebar 2 meter-3 meter berbaris. Satu demi satu batu dilintasi. Jaraknya yang berdekatan membuat kita mudah melompat, berpindah dari satu batu ke batu lain di depannya.

Lorong Batu
Mata saya terpana memandang sebuah batu yang terletak di dekat Tiwurobi di sisi Timur. Jika dilihat batu ini mirip ikan paus. Air kali mengalir melewati celah batu ini dan tebing batu sempit yang mengapitnya. Beberapa batu kecil berjejer di depan mulut batu ini.

“Dulu air kali banjir dan warga kampung ramai-ramai menangkap udang ada di Tiwukopo Loo. Ada seorang wanita tua yang meninggal karena didorong dan terjatuh. Tubuhnya terseret air. Dua hari kemudian, mayat perempuan ini ditemukan. Mereka ingin mengambil gelang gading yang banyak dikenakan di tangan wanita ini. Ini yang membuat kali Tiwukopo kadang angker,“ cerita Yos.

lianiki-02

Batu berbentuk ikan paus yang berada di kali Tiwukopo. (Foto: FBC/Ebed)

Petualangan kembali dilanjutkan. Selepas Tiwurobi kaki melangkah lebih santai. Hanya sesekali kaki berpijak di batu kecil. Sejauh sekitar 20 meter kaki lebih banyak terendam di dalam air. Yang mengasyikkan saat berjalan melintas di bawah air dengan dua batu besar di atasnya menempel bak kerucut. Kita seakan berjalan di dalam sebuah lorong. Di pinggirnya tebing curam dengan giratan indah memanjakan mata.

Kali Tiwukopo terlihat lebih banyak dipenuhi bebatuan besar. Air kali mengalir melewati celah batu. Beberapa batang bambu dan kayu yang tumbang tergeletak di tengah jalan bahkan ada yang teronggok di atas batu besar. Keempat warga kampung yang menemani saya kadang harus memotong batang pohon dan memindahkan bilah bambu yang menghalangi jalan. Daun-daun kering berserakan di atas tumpukan batu di bagian kali yang tidak dialiri air.

Setelah ini kita bersiap menaiki tebing, tutur Bernadus mengingatkan. Kali ini saya dipandu menaiki tebing di sisi Barat. Tebing dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Tangan kadang menarik ranting pohon dan tali yang berada di sekitar untuk berpegangan. Sesekali mata melirik ke arah pinggir tebing ingin melihat aliran air di bawahnya. Kadang air tidak terlihat akibat mengecilnya jarak kedua sisi tebing di bagian atasnya.

Perjalanan ke Selatan pun terus dilakukan. Saat menuruni deretan batu pipih, sampailah kami di seonggok tanah rata di ujung terowongan yang jadi pintu masuk ke Lianiki. Kurang lebih satu jam perjalanan ditempuh. Badan direbahkan di tumpukan batu. Otot kaki pun dilemaskan. Hanya desau gesekan dedaunan yang terdengar.

“Kita istirakat sebentar melepas penat. Kalau mau supaya baju tidak basah sebaiknya dilepas saja. Kita harus masuk air lagi dan jalan melawan arah ke Utara sejauh kurang lebih tiga puluh meter lagi baru bisa lihat Lianiki,”sebut Bernadus. (bersambung )

Penulis: Ebed de Rosary
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Yang Gersang yang Jadi Peluang

Next Story »

Krisis Air Mendera Gera

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *