Melalui Reba Warga Bajawa Kembali ke ‘Jalan Benar’

Setahun sekali warga Bajawa, Kabupaten Ngada, menggelar ritual adat Reba, sebagai sarana refleksi empat sub-etnis untuk menyatukan pikiran demi menjaga harmoni hidup. Seperti apa?

ritual-reba-05

Para pemangku adat (Ana Ma’u) sedang berada di Ture untuk memanggil seluruh arwah. (Foto: FBC/Ian Bala)

BAGI masyarakat Bajawa, upacara adat Reba merupakan momentum tahunan untuk menyamakan persepsi dalam kehidupan sosial pada tahun berikutnya. Persamaan persepsi yang dimaksud adalah memperbaikan kehidupan yang keliru–dalam bahasa Bajawa disebut la’a sala atau jalan salah untuk kembali ke jalan yang benar. Ada beragam versi makna Reba, namun umumnya ingin menjaga kehidupan sosial masyarakat Ngada yang harmonis, membangun keberadaban relasi antar keluarga dalam kehidupan bermasyarakat serta menaati dan mematuhi warisan-warisan leluhur.

Saat saya menyaksikan ritual adat Reba Nage di Kampung Nio, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, baru-baru ini, terdapat beberapa tahap ritual yaitu Reba Uma, Reba Meri, Tege Kaju, Reba Bhaga, Reba Sa’o dan tahap penutup dinamakan Su’i Uwi. Kampung Nio dihuni empat suku yaitu suku Sebo, suku Metu, suku Baku Lizi dan suku Kila. Keempat suku ini berada di perkampungan Nio dengan rumah adatnya (sa’o) masing-masing.

Upacara ini biasa dilakukan di kebun masing-masing suku. Kepala Suku atau mosalaki bersama anggota suku mulai berangkat dari sa’o menuju kebun dengan membawa nasi, ayam, pisau, dan tuak (moke). Di kebun mereka langsung menuju ke tengah kebun yang dinamakan “Ngedu”. Ngedu ini adalah sebuah tempat persis di tengah kebun di mana sebagai tempat persemaian makanan untuk nenek moyang.

Mosalaki dan anggota suku duduk melingkar di Ngedu, kemudian salah seorang anggota suku memegang ayam dan duduk berhadapan mosalaki. Mosalaki kemudian mencabut bulu ayam di kepala ayam lalu mengucapkan bahasa adat sebagai berikut :

Mate manu dia..

Kami ngeta da mori watu mori tana,

Kami da reba uma,

Mia da kage tego, weri waja,

Kami ngede miu ti’i peni wesi loka wi lowa,

Kami ngo bojo nee koko, kema goi bedha nee oli,

Manu kau ura zia, bhoko sa wolo milo bholo,

Lewa kau noza nea, zala kau ngere gega.

Artinya : “Kami datang ke tuan kebun dan tuan tanah untuk mengadakan reba kebun, orang kuat berbicara, kami minta untuk melindungi ternak (ayam dan babi), kami kerja supaya dapat hasil, tidak cuma-cuma kami kerja. Ayam berikan petunjuk, bukalah jalan yang tertutup dan berikan kami jalan kebenaran”.

Setelah mate manu, ayam dipotong oleh salah seorang anggota suku lalu dibakar. Ayam tadi dibelah untuk melihat isi perutnya oleh mosalaki yang membaca mantra tadi. Perut dan empedu ayam dilihat kondisinya sesuai dengan ‘petunjuk langit’ apakah tahun depan yang akan diarungi akan memberikan kebaikan atau keburukan. Mosalaki menyampaikan petunjuk isi perut ayam itu kepada semua anggota suku yang hadir pada saat itu jika ada hal-hal yang tidak baik dalam kehidupan ke depan, misalnya seperti kecelakaan, kematian, cuaca buruk, gagal panen, hasil kebun yang baik dan sebagainya. Setelah melihat petunjuk tersebut, ayam dimasak dan dimakan bersama.

ritual-reba-01

Acara tedho telo depan rumah adat (Ana Ma’u). (Foto: FBC/Ian Bala)

Sebelum acara makan dilakukan acara yang dinamakan fedhi. Mosalaki memercikan tuak yang disimpan di tempurung kelapa untuk diberikan kepada nenek moyang. Mosalaki memanggil semua nenek moyang dalam suku yang telah meninggal untuk bersantap bersama dengan para anggota suku. Lalu semua anggota mencicipi daging ayam, nasi dan tuak. Setelah itu, semua anggota suku dan mosalaki kembali ke sa’o (rumah adat).

Setelah reba uma, akan dilanjutkan reba meri yang dilakukan di sebuah tempat persembahan (meri) persis di belakang rumah adat. Semua anggota suku tadi menuju ke meri untuk memberi sesajian kepada leluhur. Mosalaki dan semua anggota suku berangkat dari sa’o bawa serta nasi, ayam, pisau dan tuak.

Acara reba meri tetap dipandu oleh mosalaki dan anggota suku turut menyaksikan. Semua berkumpul di sekitar meri kemudian salah seorang dari anggota suku memegang ayam untuk melakukan mate manu (mantra) oleh mosalaki. Mosalaki mencabut bulu ayam di bagian kepala lalu mengucapkan:

Mate manu dia,

Kami ni ti’i ine ema bunu si,

Miu da punu gua pera noa,

Miu da nana na’a, nana pia,

Kami wa tedu sa zebu mae peju,

Kami da dhepo pata dela ma,e bheka,

Manu kau ura zi’a,

Bhoko sa wolo mila bholo,

Lewa noza nea, zala kau ngere gega.

Artinya : “Kami beri makan untuk semua nenek moyang, kamu yang sudah ajarkan budaya, adat dan mewariskan ke setiap generasi, kami akan ikut terus warisan dan tidak akan lepas, kami ikut pesan leluhur. Jangan lupa, beri kami petunjuk yang baik, jika ada yang menutup jalan tolong dibuka dan berikan kami jalan kebenaran”.

ritual-reba-02

Acara tedho telo depan rumah adat (Ana Ma’u). (Foto: FBC/Ian Bala)

Setelah upacara reba uma dan reba meri pada pagi dan siang hari, dilanjutkan dengan upacara tege kaju (kaju lasa) yang dilakukan pada sore hari. Secara harafiah, tege kaju artinya masukan kayu api ke dalam sa’o. Kayu api tersebut sudah dipotong atau dibelah dengan ukuran panjang kurang lebih 1-1,5 meter sesuai dengan ukuran tempat di dalam sa’o yang dinamakan kae -tempat berbentuk para-para di atas tungku api dengan ketinggian kurang lebih 2 meter-. Kayu tersebut disiapkan satu bulan sebelum menjelang reba dan diletakan di tenda depan sa’o yang dinamakan padha.

Dalam pelaksanaan upacara tege kaju harus dimulai dari sa’o pu’u atau rumah adat utama. Sa’o pu’u itu adalah rumah adat utama yang dikumpulkan dari berbagai suku. Kayu api dimasukan di dalam sa’o pu’u dan diletakan di kae. Jenis kayu api isi sehingga bisa menghasilkan bara api yang besar sebab selama upacara reba berlangsung, masing-masing rumah tidak boleh meminta api dari rumah lain dan selama perayaan reba tidak ada satu anggota rumah pun yang pergi ke kebun sebab panennya bisa gagal.

Selanjutnya seluruh warga sa’o bersama-sama makan minum perjamuan tege kaju dan pada intinya makan bersama. Bukan banyak sedikitnya makanan tetapi seperti filsafat adat atau budaya Bajawa mengatakan ka papa fara, inu papa resi, artinya makan bersama dalam satu wadah, minum bergilir dari satu cangkir. Filsafat ini menunjukan kebersamaan dalam keluarga, meskipun tantangan yang dihadapai oleh keluarga tersebut akan ditopang oleh keluarga lainnya. (*)

Penulis: Ian Bala
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Kebersamaan dalam Menangkap Ikan Se

Next Story »

Pasangan nan Menggoda

3 Comments

  1. ida bate
    February 19, 2015

    rindu kampung halaman,…

    Reply
    • EC. Pudji Achirusanto
      February 19, 2015

      semoga dengan keberadaan FBC bisa mengobati rindu kampung halaman. sembari kita merayakan keragaman budaya nusantara. salam

      Reply
  2. April 1, 2015

    Jadi pengen pulang lagi… ke Malanage…
    inu Tua bhara wth my family
    #ida , lama wado syy…. mama zale d dere…

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *