Mario F. Lawi

Dari Biara Mengguncang Sastra Indonesia

Kandas sebagai calon imam, Mario F. Lawi menjelma menjadi penyair muda yang melesat bak meteor. Puisinya yang menggabungkan Jingitiu -agama lokal Sabu- dengan Alkitab yang tersua dalam ‘Ekaristi’ mengguncang sastra Indonesia

MENDUNG tipis menggelayut di Kota Kupang malam itu. Berharap mendung segera diusir angin meninggalkan langit kota,  sepeda motor Honda Kharisma X keluaran tahun 2005 saya kendarai perlahan. Melaju dari Kelurahan Penfui, tempat saya tinggal menuju Kelurahan Naimata. Perjalanan tidak lebih dari tiga kilometer ini untuk mencari kediaman sosok pemuda yang kini mulai sohor dengan julukan penyair muda berbakat dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Dialah Mario F. Lawi.

Mario saat membacakan puisinya (Foto: FBC/koleksi pribadi)

Anak muda yang belum genap berusaia 24 tahun itu memang masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan studinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Dia masih tinggal bersama kedua orang tuanya, Fabianus Lawi asal Manggarai Timur dan Tersiana Agustina Huki asal Sabu Raijua bersama kedua adik perempuannya di bilangan Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Nyaris tersesat saat memutuskan untuk kembali di malam kelam itu, akhirnya saya mencoba menghubungi nomor telepon seluler anak muda itu. Dari balik telepon anak muda itu menyahut, itu lampu sepeda motor Om yang di jalan itu ya? Saya jawab benar. Dia kemudian dengan suara lembut, benar sekali arah belokan sepeda motor itu, Om lanjut saja sekitar 100 meter lagi, saya tunggu  Om di teras rumah. Benar juga si Mario sedang berada di teras rumah sambil terus memandang ke arah datangnya sepeda motor saya.

Keramahan anak muda yang sama sekali tidak menampakkan kesombongan di wajahnya yang sedang dihiasi kumis dan jenggot tipis. Dia mungkin belum punya waktu untuk mencukur kumis dan jenggotnya, padahal dia sering tampil berwajah bersih.

Obrolan kami dimulai dengan kisah pendidikannya di Seminari Santo Rafael Kupang yang diselesaikannya tahun 2009. Tamatan SMP Katolik Santa Theresia milik para Suster SSpS  itu kemudian memutuskan menjadi calon imam, karena itu dia melanjutkan sekolahnya ke Seminari Menengah Santo Rafael. Niatnya untuk menjadi imam ternyata  kandas karena ketika hendak melanjutkan pendidikan ke Seminari Tinggi, Mario tidak diizinkan karena sedang mengidap penyakit hepatitis. Bagi calon imam, penderita hepatitis tidak akan diterima untuk melanjutkan pendidikan.

Mario akhirnya memutuskan untuk melupakan cita-cita mulianya itu. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) Kupang dan sekarang memasuki semester sepuluh yang sebentar lagi akan mengantarnya menyandang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi.

****

Mario F Lawi belakangan ini dikenal sebagai seorang penyair muda berbakat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mario memang seorang anak muda yang jagoan melahirkan karya-karya sastra yang sangat brilian. Karyanya berupa puisi dan cerpen yang sarat makna dan mampu menggugah nurani pembacanya dan juga mampu mengantar pembaca tenggelam dalam imajinasi tajam anak muda berdarah Manggarai-Sabu Raijua  ini.

Mario-Lawi-02

Tampil sederhana saat diwawancarai FBC di kediamannya, beberapa waktu lalu (Foto: FBC/Bonne Pukan)

Anak muda kelahiran Kupang, 18 Februari 1991 sejak di Seminari Menengah Santo Rafael Kupang sudah mulai menulis puisi dan cerpen yang dimuat di harian Pos Kupang dan sejumlah media lainnya.

Puisi, cerpen, dan esai yang dituliskan Mario sudah dimuat di berbagai media nasional dan lokal mulai dari harian Kompas, Koran Tempo, Sinar Harapan, Serambi Indonesia, Sumut Pos, Bali Post, Pos Kupang, Timor Express, Victory News dan Flores Pos.

Puisi dan cerpen yang diciptakannya itu kemudian dibukukan dan telah berhasil menerbitkan empat buku yakni: kumpulan puisi “Poetae Verba” terbit tahun 2011, kumpulan cerpen “Malaikat Hujan”  terbit tahun 2012, kumpulan puisi “Memoria”  terbit tahun 2013 dan terakhir yang sempat mengantarnya mendapat penghargaan dari majalah Tempo sebagai Tokoh Seni (Sastra) Tahun 2014 adalah buku kumpulan puisi “Ekaristi” yang diterbitkan tahun 2014 lalu.

Keberanian anak muda untuk mengungkapkan isi hatinya, pengalamannya dan apa yang dilihat dan dirasakan melalui karya puisi, cerpen dan esai itu akhirnya bisa mengantarnya mengikuti  Temu Sastra Nasional (TSN) di Ternate tahun 2011 lalu. Lewat puisi, ia menjadi juara 1 tingkat Nasional lomba menulis puisi yang diadakan Komunitas Sastra ‘Rumah Sungai’ NTB, lewat puisi berjudul ‘Retina’.

Sebelumnya, pada tahun 2009 Mario mengikuti lomba cerpen Bhayangkara Book Fair I yang diikuti para pelajar SMA se- Kota Kupang dan dia berhasil menjadi juara dua, saat itu dia masih di kelas III SMA Seminari Santo Rafael Kupang. Tahun 2012 berhasil menjadi juara pertama lomba puisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Komunitas Tumah Sungai, Nusa  Tenggara Barat (NTB).

Kepiawaiannya bermain kata-kata dan imajinasi yang super hebat di latar seni puisi terus mengantarnya sukses. Tahun 2013 melalui buku kumpulan puisi ‘Memoria’ Mario masuk sebagai salah satu penulis buku puisi Rekomendasi 2013 versi majalah Tempo.

Kemudian tahun 2014 masuk dalam 10 besar Khatulistiwa Literary Award 2014 dan kemudian Academy Award 2014 kategori Sastra dari Forum Academia Nusa Tenggara Timur (FAN).

Keterkenalan Mario mulai muncul sehingga dia diundang untuk mengikuti kegiatan sastra yang diselenggarakan di berbagai daerah. Tahun 2011 dia mengikuti Temu Sastrawan Indonesia IV di Ternate, kemudian tahun 2012 mengikuti pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi, tahun 2013 mengikuti Makassar International Writers Festival dan di tahun yang sama mengikuti Ubud Writers and Readers Festival serta Biennal Sastra Salihara, Jakarta, serta Temu Sastrawan Mitra Praja Utama, Banten.

Tahun 20l4 dia juga mengikuti Makassar International Writers Festival, juga mengikuti Program Penulisan Esai Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2014

Mario juga mengakui ada beberapa buku antologi yang memuat karyanya yakni buku Tuah Tara No Ate (TSI IV, 2011), Sauk Seloko (PPN, 2012), Indonesia dalam Titik (2013), Kematian Sasando (2013), Senja di Kota Kupang (2013), Through Darkness to Light (2013) dan Out of Ubud (2014)

Berbagai kalangan di Kupang menilai, Mario adalah  sosok generasi baru sastra NTT setelah Mezra Pellondou dan Maria Matildis Banda yang sudah diakui secara Nasional sebagai sastrawan asal NTT. Dan, jauh sebelumnya sejumlah nama anak-anak NTT berhasil  mengharumkan nama daerah ini lewat sastra, atara lain Gerson Poyk, Umbu Landu Paranggi, John Dami Mukese, dan beberapa nama lainnya.

*****

Inspirasi buku kumpulan puisi “Ekaristi” mengambil tema dasarnya adalah Biblis Alkitabiah dengan khasanah mitologi lokal dari Pulau Sabu, tempat kelahiran ibundanya. Ritual masyarakat Sabu yang sebagian masih terpelihara hingga saat ini, telah mendorongnya untuk mengungkapkan dengan kata-kata indah dalam seni puisi yang menakjubkan.

Buku kumpulan puisi ‘Ekaristi’ karya Mario ini lahir dari sebuah permenungan iman yang mendalam yang mengacu pada Alkitab yang diakuinya sebagai Sabda Tuhan. Tidak hanya dasar Alkitab itu, Mario juga menggali secara mendalam tradisi-tradisi maha sakral dari kehidupan masyarakat Pulau Sabu yang ditulisnya dengan nama Sawu..

Kata ‘Ekaristi’ yang dijadikan sebagai judul buku kumpulan puisi itu, merupakan salah satu sakramen dari tujuh sakramen dalam agama Katolik. Sakramen Ekaristi ini justru menjadi puncak iman Katolik yang di dalamnya umat Katolik mengenang dengan sungguh kisah penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Ekaristi itu juga dilambangkan dengan tubuh dan darah Kristus yang akan disantap umat Katolik ketika mengikuti perayaan Ekaristi atau perayaan Misa lewat representasi simbolik: roti (hosti) untuk tubuh dan anggur yang menyimbolkan darah Yesus.

Terkait ritual kaum Jingitiu di Sabu, Mario justru lebih melihat pada ritus kelahiran bayi dengan latar belakang dia sendiri sebagai anak yang terlahir prematur. Ibunya Tersiana adalah guru Agama Katolik yang mengajar di SD Katolik Pereme, Sabu Raijua.

Dia melihat dan menghubungkan Jingitiu sebagai agama asli orang Sabu dengan ritual inisiasinya yang dikenal dengan nama Daba. Alhasil, pusinya berjudul Daba dan Kalaga Rai yang kemudian dibukukannya itu pernah dimuat di harian Kompas tanggal 13 Mei 2012. Inilah awal yang membanggakan Mario karena karya seninya bisa dipublikasikan oleh harian terkemuka Indonesia yakni Kompas.

“Sejak dimuatnya dua puisi saya pada harian Kompas tanggal l3 Mei 20l2 itu saya semakin “berani” melahirkan karya-karya seni. Karena bagi saya karya yang dimuat di harian Kompas merupakan karya yang diakui memiliki nilai sehingga bisa lolos untuk dimuat,” kata Mario.

Mario kemudia menguraikan, Daba adalah ritual inisiasi kaum Jingitiu, biasanya dilaksanakan pada bulan Daba–menurut penanggalan tradisi masyarakat Jingitiu- yang biasa dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret setiap tahun. Jingitiu merupakan agama asli masyarakat Sabu Raijua yang hingga kini masih dianut sebagian orang Sabu.

Mario yang terlahir dari keluarga Sabu karena mamanya adalah orang Sabu ikut merasakan segala ritual Daba kaum Jingitiu itu karena dia pernah tinggal di Sabu bersama ibundanya. Dia mengaku selalu mengikuti ritual-ritual itu karena opanya memang penganut Jingtiu yang taat dan saleh.

Ritual kaum Jingitiu memang dilakukan dalam suasana penuh kesakralan. Misalnya, jika seorang penganut Jingitiu meninggal, dia tidak dimakamkan dengan sebuah peti mayat, tetapi diatur dalam posisi duduk kemudian dibungkus dengan tikar anyaman daun lontar dan dimasukkan dalam lubang kubur yang sudah disiapkan. Saat itu penganut Jingitiu berkumpul dan menggelar ritual pemakaman itu diiringi doa-doa dan lagu dalam bahasa Sabu.

Upaya ‘mengawinkan’ agama lokal Jingitiu dengan Alkitab lewat karya puisinya, Mario diyakini telah memberikan sumbangsih dan pengalaman baru kepada bangsa Indonesia akan pentingnya penghormatan dan empati kepada ‘yang lain’ yang belakangan ini memudar. (*)

Penulis: Bonne Pukan

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Semoga Ada Pertobatan Raya di Negeri Ini

Next Story »

Bermimpi Penuhi Kebutuhan Sayur di Pulau Komodo

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *