Liang Bua Lambungkan Arkeolog Indonesia

situs-liang-bua-01

Situs Liang Bua dengan stalaktit dan stalakmit yang berada di Kampung Rampasasa, Kabupaten Manggarai. (Foto: FBC/Pudji)

Empat arkeolog Indonesia yang meneliti situs Liang Bua masuk jajaran ilmuwan berpengaruh sedunia tahun 2014 versi Thomson Reuter, London Inggris. Digali pertama kali pada tahun 1965, hingga kini Liang Bua masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog. Mengapa?

BENARKAH Homo floresiensis yang tengkorak dan kerangkanya ditemukan di Liang Bua, Flores, oleh arkeolog Indonesia dan Australia tahun 2003 lalu berkerabat dengan Pithecanthropus erectus–manusia kera yang berjalan tegak– ?

Atau, temuan yang diumumkan oleh arkeolog Michael Morwood dari Universitas Wollongong, Australia secara sepihak pada tahun 2003 itu merupakan tengkorak homo sapiens–manusia modern–yang mengidap penyakit sehingga bertubuh kerdil hingga dijuluki manusia hobbit?

Terlepas dari perdebatan ilmiah yang hingga kini terus berlangsung itu,

situs Liang Bua telah berhasil melambungkan arkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional, yaitu Rokus Awe Due, E Wahyu Saptomo, Jatmiko, dan Thomas Sutikna. Mereka berempat masuk jajaran ilmuwan berpengaruh tahun 2014 versi Thomson Reuter, yang berpusat di London, Inggris.

Situs Liang Bua yang berada di gua karst yang dihiasi stalaktit di ketinggian 500 di atas permukaan laut (dpl) dan berjarak sekitar 25 kilometer Utara Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menyimpan kepingan fakta jejak peradaban Flores purba.

Ditempuh sekitar 2,5 jam perjalanan dengan mobil dari pusat kota Ruteng, jalanan menuju Liang Bua yang artinya gua dingin itu berkelok menyusuri kebun kopi dan tanpa papan penunjuk jalan. Berada di Kampung Rampasasa, Desa Waemulu, Kecamatan Waeriri, Kabupaten Manggarai, situs Liang Bua berada tak jauh dari persawahan dan dikelilingi hutan.

Cornelis Jaman (38) pemandu dari Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai yang menemani saya mengatakan, situs Liang Bua memiliki lebar 50 meter, panjang 40 meter, dan tinggi dinding dari permukaan tanah 25 meter. “Menurut legenda rakyat sini, gua ini diciptakan nenek moyang kami dengan bantuan makhluk gaib, tapi tentu ini sekedar legenda,” ujarnya tanpa meneruskan ceritanya.

Menurutnya, penggalian (ekskavasi) situs terus berlangsung hingga kini dan memperkerjakan warga setempat dengan upah Rp 40.000 per hari. Beberapa nama arkeolog yang pernah melakukan penggalian itu, menurutnya, adalah Michael Morwood, Raden Panji Soejono, Thomas Sutikno, Rokus Awe Due, dan Sri Warsisto. “Penggalian terus berlangsung, sehari menjelang lebaran kemarin dihentikan, usai lebaran akan dilanjutkan,” kata Jaman.

Sedikitnya ada tiga lubang besar yang digali membujur dan melintang dengan kedalaman bervariasi berkisar 3 meter-6 meter yang diberi pembatas tali rafia, agar situs tidak rusak oleh pengunjung. Di permukaan tampak beberapa kantong plastik berisi serpihan tulang diklasifikasi dan diberi kode tertentu. “Kemarin kami menemukan kerangka tikus purba, ini kantong tulangnya,” kata Blacius Nggadu (43), kuli gali asal Kampung Rampasasa yang sehari-hari membantu para arkeolog, sembari menunjukkan temuan tulang-belulang di telapak tangannya.

2011-08-31 09.31.23

Lubang penggalian dindingnya dilapisi papan untuk menahan tanah longsor. (Foto: FBC/E.Pudji)

Dipakai Sekolah
Menurut Cornelis Jaman, sebelum ditemukan pada tahun 2001, situs Liang Bua dulunya pernah dipakai sebagai lokasi sekolah bagi anak-anak Flores pada akhir tahun 1950-an dengan pengajar Theodore Verhoeven, SVD seorang paderi sekaligus antropolog. “Atas perintah Pastor Verhoeven pula situs Liang Bua digali untuk pertama kali pada tahun 1965, tapi tidak dilanjutkan,” katanya.

Penggalian pertama itu, menurutnya, menemukan kerangka ikan purba, burung, komodo, serta tulang belulang manusia. “Kemungkinan manusia tidak dibunuh di sini, tapi dibawa binatang-binatang purba itu ke sini,” katanya mereka-reka.

Sementara itu, penggalian kedua dilakukan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada tahun 1976 yang diketuai Prof Dr Raden Panji Soejono. Penggalian kedua ini menemukan tengkorak dan kerangka tubuh manusia dewasa. Ditemukan pula kuburan, dan beragam artefak yang menunjukkan perabadan manusia yang diperkirakan pada zaman pleistosen atau sekitar 10.000 tahun lalu. Penelitian dan penggalian intensif kala itu dilakukan hingga tahun 1989, lalu kemudian dihentikan karena terbelit kesulitan dana.

Hingga akhirnya datang tawaran kerja sama dari Australia dan Michael Morwood ditunjuk sebagai pemimpin tim, sedangkan Raden Panji Soejono bertindak sebagai Ketua Tim Puslit Arkenas. Pada September 2003, tim akhirnya mendapatkan temuan yang menghebohkan dunia arkeologi itu: manusia hobbit berjenis kelamin perempuan dari Liang Bua.

“Sebenarnya penelitian ini belum sepenuhnya selesai. Tetapi hasilnya tiba-tiba diumumkan oleh pihak Australia. Apalagi ketika diumumkan tanpa didampingi seorang pun peneliti dari Indonesia. Saya tidak tahu di mana etika penelitian dan etika kerja sama yang selama ini diagung-agungkan di dunia keilmuan,” kata RP Soejono seperti dikutip Kompas, 30 Oktober 2004.

Kerangka manusia dewasa yang ditemukan ini memiliki tinggi tubuh 100 sentimeter, dengan panjang lengan tidak proporsional dengan kakinya atau tangannya lebih panjang dibandingkan manusia normal, dan hanya memiliki volume otak 430 cc, sementara manusia modern memiliki volume otak sekitar 1.400 cc dan rata-rata memiliki tinggi badan lebih dari 100 sentimeter.

Keturunan Hobbit
Atas kebaikan Cornelis Jaman, saya sangat beruntung karena akhirnya berkesempatan menemui satu-satunya keturunan yang diyakini mengandung gen Homo floresiensis, yakni Victor Ndau (83) yang rumahnya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari situs Liang Bua. Beruntung karena seminggu sebelum saya datang, menurut cerita Jaman, wartawan BBC London dan seorang arkeolog dari Prancis yang ingin bertemu Victor Ndau gagal. Setelah seharian menunggu, Victor tidak juga pulang, setelah paginya pamit pergi ke kebunnya yang berjarak sekitar 4 kilometer dari rumahnya.

Rumah Victor sangat sederhana, berukuran sekitar 4 meter x 5 meter, berdinding bambu, berlantai tanah. Ruang tidur menyatu dengan ruang tamu yang hanya diberi sekat kording dari bahan bekas spanduk. Hanya dapur yang disekat dengan dinding bambu. Beberapa bagian dinding dilapisi koran dan kalender bekas, karena beberapa bagian mulai koyak. Di dinding yang menjadi bagian ruang tamu berdiri patung kecil Bunda Maria lengkap dengan lembaran Doa Koronka, Doa Rosario, dan undangan misa dari lingkungan, tergeletak di sampingnya.

2011-08-31 11.04.30

Victor Ndau (87) diyakini merupakan satu-satunya orang yang memiliki gen manusia hobbit Flores. (Foto: FBC/E.Pudji)

Setelah beberapa saat menunggu, karena Victor sedang berladang, kami pun akhirnya menemukan sosok lelaki berkaki pendek dengan lengan tangan tidak proporsional panjangnya dengan kakinya. Rahangnya terlihat kuat dan terdapat tonjolan tulang bila ditatap dari samping. Sayang Victor menolak melepaskan sarung yang dikenakan sehingga ukuran kakinya tidak begitu jelas terlihat.

Victor yang tidak bisa berbahasa Indonesia ini menerima kami dengan ramah, dan sempat menyanyikan lagu di sela-sela perbincangan yang tidak begitu jelas. “Tingginya kira-kira 125 sentimeter, makannya seperti manusia biasa. Memiliki istri normal, anak-anaknya juga normal pun saudara sekandungnya,” kata Cornelis Jaman menerjemahkan kata-kata Victor.

Victor juga bergaul dengan tetangga sekitar dengan normal, terbukti dari adanya undangan untuk menghadiri pemberkatan baptis anak tetangganya yang tergeletak di meja.

Selama perbincangan yang tak begitu jelas itu, Victor senang memainkan korek api gas yang saya bawa. Hingga akhirnya dengan sopan dia minta agar korek api itu ditinggal sebagai kenang-kenangan buat dirinya. Saya pun merelakan korek tersebut seraya menawarkan sebatang rokok sebagai tanda persahabatan. Viktor menerima dan menghisapnya setelah saya sulut rokok itu. Dia lantas meraih tangan saya mengajak bersalaman. Betapa cengkeraman tangannya sangat kuat dengan jelujur otot memenuhi lengannya.

Benarkah Victor Ndau adalah generasi terakhir Homo floresiensis? Tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipimpin almarhum Prof Dr Teuku Jacob dan Kepala Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi UGM Etty Indriati seperti dikutip kompas.com (9/12 2010) berpendapat, ada hubungan erat antara Homo floresiensis dan manusia kerdil Rampasasa.

Menurutnya, temuan kerangka di Liang Bua adalah manusia modern yang terkena penyakit sehingga tubuhnya kerdil. Dia menduga, manusia Flores itu adalah salah satu subspesies Homo sapiens ras Austrolomelanesid.

Mana yang benar, temuan tim UGM atau tim gabungan Indonesia-Australia ? Untuk menguak misteri manusia hobbit Flores ini, agaknya kita masih harus menunggu hasilnya lebih lanjut. Yang pasti, penelitian terus dilakukan hingga hari ini untuk menarik kesimpulan, adakah benang merah antara Pithecanthropus erectus yang ditemukan Eugene Dubois akhir abad ke-19 di Trinil, Jawa Timur, dengan Homo floresiensis dari Liang Bua ini. Yang pasti, dunia mulai mengakui dengan penghargaan yang diberikan kepada arkeolog Indonesia akhir tahun lalu itu. (*)

Penulis: EC. Pudjiachirusanto

Pasangan nan Menggoda

Next Story »

Ekspresi Syukur pada Leluhur

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *