‘Lepo Gete’ Istana Raja yang Merana

lepo-gete

Lepo Gete, Istana Raja Sikka yang dibangun kembali oleh Pemkab Sikka di tahun 2000. (Foto: FBC/Ebed)

Lepo Gete dalam bahasa Sikka berarti rumah besar. Pernah menjadi Istana Raja Sikka, bangunan mewah pada zamannya itu kini merana, berteman ombak Pantai Selatan Sikka.

KAMPUNG Sikka atau Sikka Natar berlokasi di Pantai Selatan Kabupaten Sikka, di Kecamatan Lela, berjarak sekira 27 kilometer dari kota Maumere. Sikka Natar ini kelihatan sederhana, namun sesungguhnya mengandung suatu perjalanan sejarah yang sangat panjang dan bermakna. Di kampung inilah terdapat sebuah gereja tua dan rumah besar yang disebut Lepo Gete.

Lepo Gete ini menjadi Istana Kerajaan Sikka dan sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Sikka dalam rentan waktu yang cukup lama. Terutama dalam masa penjajahan Portugis abad ke XVI dan Belanda abad ke XVII. Lepo Gete hanya berjarak 5 meter dari bibir Pantai Selatan. Lepo Gete pernah menjadi pusat kontak budaya antara penduduk pribumi Sikka pada umumnya dan bangsa asing seperti Portugal dan Belanda.

Sejak awal terbentuknya Kerajaan Sikka sekitar tahun 1607, Raja Sikka, Don Alexius Alessu Ximenes da Silva, membangun pusat pemerintahannya dengan bermarkas di Kampung Sikka ini, di Istana ” Lepo Gete “. Hampir semua raja Sikka mendiami Istana Kerajaan Sikka ini.

Lepo Gete persis berada di sebelah selatan gereja tua Sikka hanya berjarak 50 meter. Saat disambangi FBC baru-baru ini, terlihat beberapa lelaki sedang tidur di tempat ini. Beberapa perempuan yang menjajakan kain tenun ikat di seberang jalan mengatakan, bila turun hujan, mereka semua akan berlindung di Lepo Gete. Tali- tali diikatkan menghubungkan tiang yang satu dengan yang lainnya. Sarung pun diletakan di tali yang terentang di kolong bangunan Lepo Gete tersebut. Sementara mereka duduk di atas berandanya.

Tidak Seperti Aslinya
Menurut penuturan Gregorius Tamela Karwayu ( 66 tahun ) bangunan Lepo Gete memang sejak dulu sudah ada. Tapi setelah Raja Don Alesu pulang dari Malaka, tutur Goris -pria ini biasa disapa, istana raja pun diperbesar karena wilayah kerajaan juga diperluas. Bangunan ini berbentuk rumah panggung dengan panjang 20 meter dan lebar 15 meter beratap tinggi melancip dengan dua sisi air.

Lepo Gete, kata Goris, terdiri atas dua bagian utama yakni tedang yang berfungsi sebagai pendapa rumah, tempat menerima tamu, tempat musyawarah, tempat perjamuan atau acara pesta lainnya. Bagian kedua disebut une. Tempat ini, ungkap lelaki kelahiran 12 Maret 1948, khusus hanya untuk penghuni rumah atau anggota keluarga dekat di mana disitu juga terdapat tempat tidur dan tempat menyimpan harta kekayaan yang berharga. Bagian une letaknya lebih tinggi dari bagian tedang dan ada tangga ( dang ) yang menghubungkan kedua bagian itu.

“Selain une dan tedang pada bagian belakang terdapat dapur dan tempat menyimpan persediaan makanan yakni awu dan ronang. Bagian ini letaknya juga lebih rendah dari tedang dan dilengkapi dengan kamar tidur untuk pembantu rumah. Bangunan Lepo Gete sekarang ini tidak seperti aslinya. Ada rencana mau dibangun lagi seperti aslinya, “ ujarnya.

Rumah besar ini seperti disampaikan Orestis Parera ( 74 ) kepada FBC, pada zaman Belanda dan sebelum kemerdekaan baru dipindah ke Maumere. Raja Don Yosephus Thomas Ximenes da Silva, lanjut dia, pernah tinggal di Lepo Gete tapi setelah itu pindah ke Maumere. Pemerintah Kabupaten Sikka saat bupati dijabat Paulus Moa, membangun kembali rumah adat itu pada tahun 2000 dengan biaya Rp 100 juta untuk melestarikan sejarah, budaya, dan sekaligus menjadi obyek wisata.

Ditambahkan Parera, memang Lepo Gete mau dibangun baru karena ada seorang donator yang mau membantu tapi belum juga ada tindak lanjutnya. Lepo Gete sekarang ini tiang rumahnya kurang tinggi dan harus ditambah lagi tingginya minimal 1,5 meter. Bentuk rumahnya, urai Parera, masih dengan rumah panggung tapi kayu – kayu penyangganya harus besar sehingga bisa lentur.

“Dulunya, rumah para pembantu raja juga berbentuk seperti Lepo Gete hanya lebih kecil. Rumah saya juga sebelum tahun 1970-an masih seperti itu karena orang tua termasuk Moang Puluh. Tapi kami tidak ada uang untuk memperbaiki sebab butuh biaya besar sehingga dirobohkan dan bangun rumah seperti sekarang ini. Bapak E.P da Gomez juga rumahnya sampai tahun 1980-an masih seperti itu ” jelasnya.

Berpindah Ke Maumere
Istana raja Sikka urai Goris dan Parera pernah berpindah ke Maumere atas saran penguasa Belanda. Bapak E.P. da Gomez dan Oscar P Mandalangi dalam bukunya yang berjudul “ Don Thomas Peletak Dasar Sikka Membangun “ menyebutkan, pemerintah Belanda untuk pertama kalinya pada tanggal 24 Agustus 1879 mengangkat seorang ” Posthouder ” di Maumere. Posthouder G.A.Van Siek itulah yang menyarankan agar Raja Sikka sebaiknya selalu berada di Maumere. Ketika itu Maumere sudah ramai sekali sebagai tempat pertemuan para pedagang dari berbagai jurusan. Saran yang baik itu sangat menarik perhatian sang Raja Sikka.

Secara bertahap urai EP da Gomes dan Oscar P Mandalangi dalam bukunya, Raja Sikka mulai membuat rencana untuk memindahkan ibukota Kerajaan Sikka ke Maumere. Akan tetapi hal ini baru terlaksana pada tanggal 26 Februari 1894 dengan dipancangkanlah tiang pertama bangunan Istana Raja Sikka itu di Maumere.

Dan pada tanggal 8 Maret 1894 diselenggarakan suatu pesta rakyat yang meriah dengan acara main dadu dan sabung ayam selama seminggu sebagai tanda peresmian pembangunan istana itu. Istana yang sudah runtuh tersebut kini di atasnya berdiri bangunan rumah dua bersaudara sekandung keturunan Raja Sikka, Mikhael da Silva dan Rafael da Silva. Namun demikian, Raja Sikka masih tetap saja berdiam di Kampung Sikka. Beliau datang ke Maumere hanya sesewaktu apabila perlu atau diminta Posthouder.

Don Josephus Nong Meak da Silva dinobatkan menjadi Raja Sikka ke-14 pada tahun 1903. Pada mulanya beliau menetap di Kampung Sikka, dan baru pada tahun 1918, beliau mengambil keputusan untuk memindahkan ibukota pemerintahan Kerajaan Sikka ke Maumere.

Menurut PS da Cunha dalam surat kabar Mingguan “BENTARA” Ende edisi tanggal 15 Juni 1954 menyebutkan, kepindahan itu terjadi tahun 1917. Raja Nong Meak membangun istananya, yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai ” Oring Sirat “, di lokasi yang sekarang sudah berdiri bangunan Losmen Lareska, sedangkan bangunan kantor pemerintahan Kerajaan Sikka (Landschaap Sikka ) terletak di kompleks lapangan Tugu ( sementara ini sudah menjadi lokasi sakral patung Kristus Raja ).

Tiang Kayu Bulat
Lepo Gete yang ada sekarang berbentuk rumah panggung, ditopang oleh 25 kayu bulat dari pohon Tuak (Lontar) yang dipancang berbaris memanjang dan melintang. Terdapat 5 baris dengan masing-masing memiliki 5 tiang. Tiang yang berada di sisi terluar Utara dan Selatan kesemuanya memiliki tinggi sekitar 5 meter. Baris kedua tiang yang lebih ke dalam setinggi 5,2 meter sedangkan barisan tiang di bagian tengah setinggi 7 meter. Semua tiang bulat ini berdiri di atas pondasi semen segi empat setinggi 30 sentimeter.

Bangunan Lepo Gete sekarang diperkirakan panjangnya 15 meter dan lebar 10 meter sementara tinggi lantai dari tanah 1,7 meter. Untuk menaikinya, dibuatkan 9 anak tangga dari semen di sisi barat.Tangga ini pun semennya sudah mulai rontok di bagian pinggirnya. Semua dinding rumah raja ini terbuat dari papan selebar 15 sampai 20 sentimeter. Dinding pendapa bagian utara setinggi 1 meter sementara ketiga sisi lainnya setinggi 1,5 meter. Dinding pembatas kamar ketinggiannya 2 meter.

Lantai rumah panggung berbahan kayu ditopang oleh kayu – kayu yang disusun memanjang sebanyak 96 batang kayu (usuk) dengan masing – masing bagian terdapat 6 batang kayu. Kayu – kayu inilah yang menjadikan lantai rumah panggung ini kuat menahan beban. Kayu –kayu di sekelilingnya maupun dinding ruangan banyak yang sudah terlepas. Disaksikan FBC, kondisi ruangan sudah berantakan dan tidak mencerminkan sebuah hunian. Kamar – kamarnya pun tidak ada kayu pembatas lagi, banyak yang sudah terlepas begitu pula pintunya.

Atap yang terbuat dari ilalang ada yang sudah terlepas ikatannya.Bahkan di bagian tengah, dari ujung ke ujung terlihat lubang menganga.Dengan lebar lubang sekitar 20 sentimeter, jika turun hujan dijamin bagian tengah rumah akan dipenuhi air hujan. Ini yang mengakibatkan lantai di bagian tengah rumah banyak yang sudah hancur terkena rembesan air.

Belum Sepaham
Bagian depan Lepo Gete dipenuhi rumput liar (keroko) dan bunga – bunga yang tidak terurus. Pondasi tiang juga terlihat semennya mulai rontok dan tanahnya tergerus. Saat FBC sedang berkeliling, datang beberapa anak muda dan tidur di pendapa Lepo Gete. Mereka beralasan bahwa di Lepo Gete lebih sejuk karena bangunannya terbuka dan atapnya dari ilalang tidak seperti rumah mereka yang beratap seng.

Memang keinginan untuk membangun Lepo Gete yang baru seperti disampaikan Goris dan Parera sudah ada tapi pemerintah masih beralasan adanya satu dua ahli waris kerajaan yang belum sepaham. Setelah dibangun memang ada rencana untuk ditinggali atau minimal ada yang menjaganya. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Tarian Rangkuk Alu, Ajang Kaum Muda Mencari Jodoh

Next Story »

Uwi Ai Nuabosi, Makanan Lokal Khas Ende

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *