Lengkong Cepang, ‘Tanah Terjanji’ yang Diingkari

lengkong-01

Salah satu jalan yang rusak di Lengkong Cepang. (Foto: FBC/Kornelius Rahalaka)

Daerah terpencil yang berjarak sekitar 75 kilometer dari Labuan Bajo ini seolah ‘tanah terjanji’. Sayangnya kondisi itu diingkari, pemerintah pun tak memberi atensi

MINGGU pagi di penghujung tahun itu saya memacu sepeda motor menyusuri Pantai Barat Flores. Tak terasa sudah sekitar 75 kilometer perjalanan yang saya lakukan. Begitu melewati jalan tanpa aspal, barulah saya sadar telah berada di Lengkong Cepang, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat.

Untuk mencapai Lengkong Cepang, dapat melalui dua jalur jalan yakni melalui jalur pesisir Pantai Kampung Nangalili atau jalur  di daerah pedalaman melewati sejumlah desa seperti Kakor, Reweng, Munting dan Suru Numbeng. Kondisi jalan pada kedua jalur ini relatif  baik namun demikian, untuk saat ini, jalur pesisir tepatnya Jalan Wae Nakeng-Nangalili cukup sulit dilalui oleh kendaraan karena salah satu jembatan di wilayah tersebut, tepatnya di Kampung Palis, mengalami kerusakan.

Sedangkan kondisi jalan di jalur pedalaman relatif baik dan lancar meskipun perjalanan harus membutuhkan waktu lebih lama lantaran harus berjalan memutar untuk mencapai Lengkong Cepang. Apalagi beberapa ruas mengalami kerusakan akibat tergerus banjir dan lalu lalang kendaraan. Aloysius Simus seorang warga setempat menuturkan, kondisi jalan yang menghubungkan beberapa desa di wilayah itu relatif baik namun keadaan jalannya sempit dan banyak titik yang mengalami kerusakan akibat dari rendahnya kualitas pekerjaan apalagi dikala hujan seperti sekarang ini.

Bila memasuki wilayah Kakor, sebuah desa yang terletak empat kilometer dari Jalan Trans Flores, kita seolah berada di sebuah ‘tanah terjanji’. Pada sisi kiri-kanan jalan disuguhi pemandangan alam yang menakjubkan. Tampak beraneka tanaman seperti cengkeh, kemiri, jambu mente, kopi, coklat  serta bermacam jenis tanaman palawija lainnya.

Wilayah Kakor boleh disebut sebagai salah satu desa dengan tata ruangnya yang cukup  baik. Kakor juga terkenal sebagai produsen tenun ikat terbaik di wilayah ini. Tidak heran, banyak pejabat negara yang berkunjung ke wilayah itu sekedar untuk jalan-jalan atau untuk menyaksikan dari dekat proses pembuatan karya tenun ikat.

Kampung Tua
Dari Kakor, perjalanan dilanjutkan ke Kampung Reweng, sebuah kampung tua nan asri yang terletak di dataran tinggi. Menurut penuturan sejumlah tetua adat, sejak dulu Reweng dikenal sebagai pusat kebudayaan terutama pengembangan agama Katolik. Selain itu Reweng juga terkenal sebagai pusat budi daya tanaman holtikultura seperti sayur dan buah-buahan. Warga setempat pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani tradisional dan cuma sebagian kecil berprofesi sebagai pegawai negeri atau pedagang kecil.

Sejak dulu, para petani setempat selalu hidup bergotong-royong mengolah lahan sawah mereka. Pada umumnya mereka bekerja secara manual dengan menggunakan tenaga manusia dan peralatan pertanian seadanya dan hanya sedikit petani yang menggunakan hand tractor atau tenaga kerbau untuk membajak lahan-lahan mereka. Gotong-royong merupakan ciri umum kehidupan warga Kampung Reweng dan sekitarnya. Mereka bekerja bersama saling membantu demi meringankan beban pekerjaan. Kerja sama dan kerja bersama menjadi nafas hidup mereka baik dalam aktivitas pengolahan lahan maupun dalam berbagai kehidupan sosial mereka.

Dinamika kehidupan serupa dijalani oleh warga Desa Suru Numbeng dan Watu Tiri, dua desa  yang berada dalam bilangan Lengkong Cepang, sebuah kawasan yang unik dan kaya potensi. Wilayah ini memiliki beragam sumber daya alam yang belum digarap maksimal. Selain potensi pertanian, kawasan Lengkong Cepang sangat cocok untuk peternakan.

Daerah yang berada di ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut (dpl) ini sekurang-kurangnya memiliki dua karakater wilayah yang unik. Sebagai daerah pertanian lahan basah dan lahan kering atau padang savanna yang tentu saja cocok untuk penggembalaan ternak seperti kerbau, sapi, kuda, dan kambing.

Ribuan hektar padang savanna terbentang luas dari Nangalili di bagian Barat hingga Desa Repi di ujung Timur, dari Suru Numbeng bagian Utara hingga Pantai Mbernang di bagian Selatan.

Kawasan Lengkong Cepang sendiri kini sebagai ibu kota Kecamatan Lembor Selatan, sebuah wilayah kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Lembor. Kawasan Lengkong Cepang dapat dikembangkan sebagai daerah pertanian, peternakan, perikanan dan daerah pariwisata. Pantai Mbernang merupakan salah satu pantai terindah dan terluas di Manggarai Barat dengan panjang garis pantai mencapai lebih dari 30 kilometer.

Pantai Mbernang dapat dikembangkan menjadi tempat wisata olah raga air lantaran ia dikenal karena ombaknya tinggi dengan pasir putih yang memesona. Di samping itu, kawasan ini juga dapat menjadi tempat treking favorit untuk menikmati sensasi alam berikut pemandangan yang indah.

Buruknya infrastruktur seperti jalan dan jembatan serta ketiadaan listrik berdampak pada sulitnya masyarakat memasarkan hasil komoditi mereka sekaligus menghambat aktivitas masyarakat setempat. “Andaikan saja para pengambil kebijakan punya hati dan berjuang untuk rakyat demi kesejahteraan bersama maka rakyat Lengkong Cepang dan sekitarnya tak pantas miskin atau terus-menerus berkeluh kesah,” ujar Romo Agustinus Ganggung,Pr Pastor Paroki Lengkong Cempang saat berbincang dengan saya. (*)

Penulis : Kornelius Rahalaka

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Tak Satu pun Kasus Korupsi Tuntas di Kejari Lewoleba

Next Story »

Mereka Yang Terusir dari Tanah Sendiri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *