Krisis Air Mendera Gera

Sejatinya warga Desa Gera tidak akan kesulitan air bersih karena terdapat mata air Udufunga. Namun kenyataannya mereka mengalami krisis air bersih. Mengapa?

MATA air Udufunga dan yang berada di Dusun Woloone sebenarnya mampu memasok kebutuhan air bersih warga Desa Gera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka. Sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di tahun 2010 pernah memasang jaringan pipa air. Bak-bak penampung berukuran besar dibangun di setiap dusun untuk menyalurkan air ke rumah. Warga pun sempat menikmati ketersedian air bersih yang cukup.

krisis-air-gera

Air yang keluar dari lubang batu menjadi konsumsi sehari – hari warga Kampung Wolokepo, Desa Gera

Masa keemasan hanya bertahan sebentar saja. Masuknya proyek jaringan pipa air milik pemerintah yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sikka di tahun 2011 memupuskan harapan sebagian warga Gera untuk terbebas dari krisis air bersih.

Keluhan ini disampaikan Kepala Desa Gera, Vinsensius Osias Saka, baru-baru ini. Dikatakan Osias, saat dibantu oleh LSM Plan, air masih bisa dinikmati oleh warga desa tapi setelah jaringan pipa milik Plan diganti saat ada proyek pemerintah air malah berhenti mengalir.

Kesulitan air bersih ini sebenarnya bisa diatasi jika warga bisa bersikap adil dan mengedepankan kepentingan umum. Pasalnya, beberapa warga yang berada di Dusun II dan Dusun III membuka sambungan di pipa air dan mengalirkan air ke dusun mereka sendiri.

Dibukanya sambungan pipa air menjadikan sebagian warga Dusun II dan warga Dusun I yang mendiami wilayah di bagian bawah dusun mereka tidak mendapatkan air. Menurut Bernadus Paro (62) warga Dusun I Kampung Wolokepo, jika semua warga taat dan tidak merusak pipa air, tentunya Desa Gera tidak akan kesulitan air bersih.

“Saat selesai dibangun Plan kami tidak kesulitan air. Bak penampung berukuran besar yang dibangun di setiap dusun penuh air bahkan meluap. Adanya proyek pemerintah membuat kami susah air. Pipa air mereka ganti dengan ukuran yang lebih kecil. Bahkan mereka tidak membangun jaringan baru tapi memakai jaringan yang sudah ada milik Plan,“ sebutnya.

Semenjak itu, air yang mengalir melalui jaringan pipa mulai berkurang. Warga yang berada di wilayah yang lebih tinggi di Dusun II dan Dusun III, kata Bernadus, mulai merusak pipa air. Jika sambungan pipa air dicor memakai semen dan ditanam di dalam tanah, ujarnya, tentu masyarakat tidak berani merusaknya. Ketidaktegasan dari aparat desa juga turut melanggengkan tindakan ini.

Saat menelusuri jaringan pipa air ini, saya menemukan pipa air yang dipergunakan berukuran kecil (2 inchi) dengan ukuran seragam dari mata air hingga ujung Dusun I. Di setiap belokan, pipa langsung dibengkokan dan ada satu dua yang memakai soket (sambungan). Pipa air yang patah pun tidak diganti tapi hanya diikat memakai karet ban bekas sepeda motor atau mobil. “Petugas yang memasangnya tidak mengerti dan punya pengalaman, sehingga kerjanya asal jadi saja. Pemerintah juga tidak mengawasi. Ketua DPRD dan Asisiten I Pemkab Sikka pernah datang mengecek tapi setelah itu tidak ada tindak lanjutnya, “ sesal Bernadus.

Celah Batu

Untuk mengatasi ketiadaan air, masyarakat Kampung Wolokepo, Mokekapa, Woloria, dan Aebara ada yang mengambil air dari Kali Wolokepo yang berjarak sekitar satu kilometer untuk minum , cuci perabotan makan, dan ditampung di kamar mandi. Sementara untuk mandi dan cuci masyarakat biasanya melakukannya di kali.

Masyarakat Wolokepo berjumlah 37 kepala keluarga (KK) dan biasa mengambil air di tebing batu. Air yang menetes dari celah-celah batu besar tertampung di tanah di bawahnya. Air tersebut diambil memakai gayung atau ember kecil secara perlahan agar tidak keruh dan kotoran tidak ikut terbawa.

Pengambilan air dilakukan secara bergantian. Jika air sudah kering, masyarakat akan menunggu dan membiarkannya sedikit penuh baru diambil lagi. Biasanya masyarakat mengangkut air memakai jeriken ukuran lima liter.

Selain di tebing batu, masyarakat juga mengambil air yang keluar dari celah-celah batu dan menampungnya di sebuah lubang. Bagian atas lubang tersebut diletakan bambu dan ditutup memakai daun salak atau daun pisang agar kotoran tidak jatuh ke dalamnya.

Bagian ujung tampungan air disisakan sebuah lubang kecil untuk mengambil air. Biasanya saat pagi, tampungan air tersebut penuh dan bisa mencapai 100 liter. Sore hari masyarakat kembali mengambil air, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak.

“ Kalau musim hujan kami konsumsi air hujan. Kalau mandi kami ke kali. Biasanya kalau pulang dari kebun kami langsung mandi. Kadang kalau kami pulang kerja kelompok untuk buka kebun baru atau cuci rumput di sore hari, kami tidak mandi lagi. Mau mandi tidak ada air, terpaksa langsung tidur meski badan berkeringat dan kotor,“ ungkap Bernadus.

Minta Proyek Dilanjutkan

Lukas Lura (28) aparat Desa Gera meminta pemerintah agar persoalan air bersih ini diperhatikan. Proyek yang gagal sebaiknya ditindaklanjuti dan diperbaiki lagi. Bila perlu, sebut Lukas, kontraktornya diberi denda dan diminta memperbaiki pengerjaan yang terbengkalai tersebut.

Pemkab Sikka, sesal Lukas, tidak pernah mengontrol proses pengerjaan yang dilakukan pihak kontraktor. Laporan masyarakat juga tidak pernah ditindaklanjuti. “Desa kami seharusnya tidak perlu kesulitan air. Mata air banyak dan debit airnya cukup kalau untuk kebutuhan masyarakat desa kami. Akhir tahun lalu, LSM Caritas akan meresmikan pemakaian jaringan pipa air yang dibangun di Kampung Woloone. Jika air sudah mengalir, warga di Kampung Woloone dan juga warga tiga dusun lainnya tidak akan kesulitan air lagi,“ ungkapnya.

Raymundus Tuda warga Wolokepo lainnya menyebutkan, jika proyek jaringan pipa diperbaiki tentunya bak-bak air minum dan kran air yang dipasang di setiap dusun tidak mubazir dan rusak. Saat ini, tambah Mundus, bak air ada yang dipakai untuk kandang babi. Dirinya menyayangkan dana yang dulu dianggarkan sebesar Rp 1,2 miliar tidak dipergunakan secara baik. Jika dikerjakan dengan baik tentunya, kesehatan masyarakat Desa Gera akan meningkat.

“Bagaimana mau bangun WC dan kamar mandi kalau air saja tidak ada. Kalau air banyak tentu masyarakat juga bisa manfaatkan untuk tanam sayuran atau menyiram tanaman di kebun seperti kakao yang masih kecil. Banyak kakao yang baru ditanam mati karena kekeringan,“ pungkasnya. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto         

Membelah Hutan Bambu, Menyusuri Batu-Batu

Next Story »

Belajar Perikanan Lestari dari Lembata

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *