Gomo Nippo di Ende

Kini Gua Jepang Itu Disulap Jadi Wisata Rohani

Sebuah gua peninggalan penjajah Jepang di Ende Timur kini disulap jadi lokasi wisata rohani berupa Gua Maria. Bagaimana kisahnya?

GOMO Nippo yang artinya liang atau lubang bekas markas prajurit Jepang. Gomo artinya liang atau lubang dan Nippo artinya tentara Jepang. Lokasi gua berada berjarak sekitar delapan kilometer arah Timur kota Ende, persisnya di Nua Mere (kampung besar), Roworeke, Kecamatan Ende Timur. Hanya butuh waktu 10 menit untuk mencapai lokasi dari kota Ende dengan angkutan kota atau sepeda motor. Dari jalan Trans Flores Ende-Maumere, masuk ke arah Utara sekitar 100 meter, dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor.

Gomo Nippo merupakan salah satu tempat persembunyian prajurit Jepang (Nippon) pada masa penjajahan. Dalam bahasa Ende dikenal dengan Ata Nippo (orang Jepang). Ata Nippo adalah sapaan orang Ende terhadap prajurit Jepang.

gomo-nippo-01

Gua Maria Fatima, diresmikan Alm. Mgr. Abdon Longinus Da Cunha, Pr pada tahun 1988. (Foto: FBC/Ian Bala)

Menurut sejarah yang diceriterakan Yulius Naro warga Roworeke kepada saya, bahwa Gomo Nippo dibangun pada awal Maret 1942 oleh tentara Jepang. Setelah Perang Dunia II atau Perang Pasifik, bala tentara Nippon kembali menjajah rakyat Indonesia selama tiga setengah tahun. Mereka berada di Ende dan menjajah rakyat Ende selama kurang lebih tiga setengah tahun.

Untuk mengamankan prajurit dan alat perang, tentara Nippon membangun Gomo Nippo sebagai markas/benteng mereka.  Gomo Nippo tersebut dibangun di atas tanah milik Yulius Naro dengan luas lahan kurang lebih setengah hektar. Pembangunan Gomo Nippo sebagai tempat untuk melindungi dan mengintai musuh saat aksi baku tembak dengan tentara Belanda yang saat Perang Pasifik bergabung dengan kubu Sekutu bersama Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Perancis. Waktu itu tentara Belanda masih menguasai semua warga Nua Mere yang bermukim bersebelahan dengan Sungai Roworeke

Gomo Nippo dibangun persis di sisi tebing dengan ketinggian kurang lebih 70-an meter. Di sisi tebing tersebut terdapat sebuah pohon beringin yang cukup besar. Pohon itu menurut kepercayaan masyarakat Nua Mere-Roworeke cukup angker dan diyakini sebagai tempat persinggahan roh halus.

“Saya masih kecil dulu, setelah tentara Jepang pulang, saya masuk ke dalam gua itu. Gua itu rumah mereka. Saya pernah lihat mereka keluar masuk di gua itu. Waktu itu kami tinggal di sebelah Sungai Roworeke. Gua itu mereka kerjakan dan bangun sendiri,”kata Yulius, pria berusia 96 tahun ini.

Dua Pintu dan Empat Bilik
Di Gomo Nippo terdapat dua pintu masuk tanpa daun pintu dengan jarak sekitar 10 meter dari pintu yang satu dengan pintu lain. Sekeliling pintu itu dibuat dengan campuran semen. Pintu berbentuk seperti huruf “U” terbalik.

Dalam liang terdiri empat bilik dengan luas masing-masing 3 meter x 3 meter. Satu bilik lainnya berukuran kurang lebih 4 meter x 6 meter yang menjadi tempat pertemuan para prajurit Nippon. Tiga bilik lainnya, dua bilik anggota dan satu bilik kapten atau kepala prajurit. Bilik kapten berpapasan dengan satu bilik anggota.

Menurut pengakuan Yulius, di bilik Kapten Nippo terdapat beberapa lembar seng anti peluru yang ditutup keliling dinding.  Selain itu juga terdapat beberapa barang antik lainnya dan diduga sejumlah senapan serta samurai dan meriam besi baja. Seng-seng tersebut dalam posisi berdiri bersandar di tembok tanah, sementara barang-barang antik tersebut dilepas begitu saja di bilik kapten.

Beberapa barang antik itu tidak nampak kelihatannya karena ruangan sangat gelap dan cukup menakutkan. Situasi dalam bilik kapten sangat hening dan menakutkan. Tidak terdengar suara apa pun dari dalam maupun dari luar bilik kapten.

“Saya lihat empat kamar dan lorong-lorong sangat banyak. Kamar ukuran besar seperti kamar rumah biasa. Di dalam kamar tidak ada lubang-lubang lain selain lorong-lorong kecil. Lorong-lorong juga tidak terlalu lebar dan ada bangku dari semen baik di lorong juga dalam kamar,”kata Yulius.

Semetara itu, di bilik anggota yang berpapasan dengan bilik kapten terdapat seng anti peluru yang ditempel di dinding. Beberapa barang antik juga ditemukan di sana, tetapi tidak jelas kelihatannya. Sementara di bilik pertemuan terdapat satu peta yang menggambarkan wilayah Ende. Peta itu digambarkan di atas kertas yang tebal dan sangat lebar. Di peta digambarkan juga lingkaran-lingkaran besar di mana sebagai tempat atau benteng musuh.

Semua barang antik itu sampai saat ini masih berada di Gomo Nippo. Suasana yang menakutkan membuat masyarakat setempat tidak berani untuk mengambil barang itu. Empat bilik tampak tersembunyi kadang, membingungkan karena terdapat beberapa lorong kecil tak jelas arahnya.

Dalam liang Nippo, memiliki lorong-lorong berkelok dengan lebar kurang lebih 3 meter. Lorong-lorong itu adalah lorong utama dari pintu masuk menuju bilik pertemuan.  Lalu dari bilik pertemuan menuju bilik anggota. Ada juga lorong yang lebarnya sekitar 1 meter yang menghubungkan bilik yang satu ke bilik yang lain.

Terdapat juga bangku persis di sisi lorong sebagai tempat duduk mereka. Bangku-bangku itu dibuat dari campuran semen. “Saya bingung dengan lorong di dalam dan hampir saja saya tersesat. Lorong sangat banyak dan membuat bingung bagi orang yang pertama kali masuk. Sudah lama saya tidak pernah masuk di liang itu karena sangat angker,”kata Yulius dengan raut wajah menakutkan.

Jadi Gua Maria
Nama Gomo Nippo, saat ini sudah diganti dengan nama Gua Maria Fatima dan dijadikan tempat wisata rohani. Gua Maria ini dibangun pasca gempa mengguncang Flores tahun 1992, oleh Pater Esteban dari Jerman, yang saat itu menjadi Pastor Paroki Roworeke.

Menurut cerita Yosephine Nggonde (65), menantu Yulius Naro, pembangunan Gua Maria itu terjadi setelah penampakan Bunda Maria bersama satu anak kecil yang tidak dikenal di sekitar gua itu. Penampakan itu terjadi berulang-ulang setiap malam yang berbeda. Selain penampakan juga terdengar beberapa tangisan anak kecil.

Atas keyakinan itu, warga setempat memberitahukan Pastor Paroki, Pater Esteban. Lalu Pater menjumpai pemilik tanah, Yulius Naro, untuk membangun Gua Maria di tempat itu. Dengan gagasan Pater dapat menggugah hati Yulius Naro, lalu menyerahkan tanah seluas satu hektar lebih untuk membangun gua. Hingga saat ini, gua itu dijadikan tempat pariwisata rohani.

Gua Maria Fatima diresmikan oleh Almarhum Mgr. Abdon Longinus Da Cunha, Pr sebagai Uskup Agung Ende pada 22 Mei 1998. “Waktu itu penampakan Bunda Maria dengan satu anak kecil. Lalu kami lapor ke Pater, kemudian Pater minta untuk bangun gua di tempat itu. Maka bangunlah gua, sampai saat ini masih ada,”ujar Yosephine yang juga menyaksikan penampakan itu.

gomo-nippo-03

Tangga Batu menuju Gua Maria Fatima. (Foto: FBC/Ian Bala)

Dua pintu masuk Gomo Nippo, telah ditutup rapat dengan susunan batu oleh umat saat membangun Gua Maria Fatima. Meskipun ditutup, campuran semen di pintu Gomo Nippo masih terlihat jelas. Pintu masuk sebelah kanan sudah mulai lapuk. Lumut sudah melekat di sisi bangunan tua itu. Sementara pintu sebelah kanan campuran masih tampak jelas dan sangat kuat. Campuran begitu kuat dan padat bertahan sampai saat ini.

Deretan batu yang disusun rapi, menarik perhatian para pengunjung. Beberapa batu yang tersusun dekat pintu itu seolah sedang mengayomi pintu Gomo Nippo.  Tata kotak batu bertingkat tersebut dihiasi dengan berbagai jenis bunga hias mewarnai keindahan Gua Maria Fatima. Kenyamanan dan kesejukannya membuat pengunjung khusyuk saat berdoa di sana.

Terdapat juga anak tangga yang disusun rapi dari batu dengan hiasan bunga di sisi kiri. Beberapa pohon nimba berdiri sangat kuat dan tegak lurus. Cabang pohon dan daun nimba memayungi Gua Maria Fatima. Sementara pohon beringin berdiri lurus di sisi tebing, sedikit menutupi area wisata itu membawa kesejukan jiwa maupun raga.

gomo-nippo-02

Meja altar dari batu belah persis di pelataran Gua Maria. (Foto: Ian Bala)

Gua Maria Fatima terletak di atas permukaan Gomo Nippo dengan gaya bangunan berarsitektur alam sesuai dengan situasi dan kondisi alam sekitar. Di pelataran gua terdapat dua buah altar yang dibuat dari batu belah. Pangkuan altar dibuat dari campuran semen seperti batu alam dengan tekstur mendukung Gua Maria. Begitu pula bangunan gua yang dibuat dengan campuran semen. Semua bangunan bergaya alami. “Banyak orang yang datang berdoa di sini,”kata Damianus Ta’a, warga Nue Mere yang saya temui di Gua Maria Fatima.

Bagi para pengunjung Gua Maria Fatima, sebelumnya harus menyapa alam sekitar dan juga menyapa Bunda Maria. Harus diklakson terlebih dahulu bagi yang menggunakan mobil atau sepeda motor yang hendak melintas jalur itu.

Tingkah ini menjadi tradisi dan kebiasaan warga setempat. Bagi yang melanggar akan menerima tantangan dan menjadi tanggung jawab sendiri. Bermacam-macam tantangan seperti kecelakaan dan lain-lain.

“Ini tradisi kami di sini dan tidak boleh melanggar. Kalau langgar risiko ditanggung sendiri,”pungkas Damianus Ta’a. (*)

Penulis : Ian Bala
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Ekspresi Syukur pada Leluhur

Next Story »

Sa’o Nggua, Rumah Adat Etnis Lio

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *