Ketika Nyawa Manusia Tak Berarti di Lembata

Jasad-Linus-Notan-tiba-di-RSUD

Jenazah almarhum Linus Notan tiba di RSUD Lewoleba untuk diautopsi. (Foto: FBC/Yogi Making)

Kematian demi kematian warga yang tak wajar terus saja terjadi. Lembata yang dulu dikenal berbudaya dan menjunjung tinggi nilai kehidupan, seakan menjadi buas buat sesame. Bagaimana ini terjadi?

DALAM situasi yang penuh tantangan ini polisi menjadi satu-satunya tumpuan harapan masyarakat untuk tampil sebagai pelindung masyarakat dan penegak kebenaran, menangkap dan memproses hukum setiap pelaku kejahatan di ‘bumi ikan paus’ ini.

Harapan tinggal harapan, beberapa kematian warga, sebut saja kematian Yohakim Lakaloi Langoday tahun 2009, kematian Aloysius Laurentius Wadu di Hutan Keam 8 Juni 2013, kasus penemuan mayat Robert Notan Corebima di Pelabuhan Laut Lewoleba, kematian mantan Kepala Desa Dulitukan, Sebastianus Jariaman, masih menjadi teka-teki yang tak tuntas dan bahkan belum dipecahkan.

Di tengah perjuangan masyarakat Lembata menuntut keadilan dan mendesak polisi untuk menangkap semua pelaku pembunuhan, terutama terhadap kasus kematian mantan Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi Kabupaten Lembata Laurens Wadu, juga membongkar tabir kematian dua warga lainnya, muncul lagi kematian tak wajar seorang warga Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Linus Notan.

Sama seperti kematian warga lainnya, kematian Linus Notan oleh keluarga dan kerabat dekatnya diduga bukan sebuah kecelakaan murni, namun akibat campur tangan orang lain. Semenjak di temukan beberapa kenjanggalan yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP), warga dan keluarga mulai curiga kalau Linus Notan tidak meninggal karena terjatuh dari pohon lontar.

Temuan kejanggalan itu segera disampaikan adik kandung korban Longginus Boku kepada Polres Lembata, dan meminta polisi untuk melakukan penyelidikan. Dalam sebuah kesempatan di Polres Lembata, kepada FBC Boku mengatakan, dirinya hanya ingin kejelasan, apakah memang kakak kandungnya itu meninggal karena kecelakaan atau ada faktor campur tangan orang lain. Jika dalam penyelidikan ditemukan adanya dugaan pembunuhan maka dia berharap agar polisi mengungkap siapa pelaku juga motif pembunuhannya.

Segera setelah mendapat pemberitahuan, polisi memanggil beberapa saksi. Dan benar saja, dugaan keluarga kian diperkuat oleh keterangan beberapa orang saksi. GM salah satu saksi kepada polisi mengakui, jika dirinya ikut menghabisi nyawa korban, menurut GM, sebelumnya korban sudah dilumpuhkan oleh tiga orang lainnya. Pengakuan GM ini sontak membuat keluarga panik. Betapa tidak? GM adalah salah satu kerabat dekat korban, demikian juga dengan nama-nama yang disebutnya.

Tak cuma GM, polisi juga memeriksa MKB, wanita paruh baya ini pun mengakui kalau sekitar pukul 05.30 atau ketika alam mulai menunjukan tanda-tanda kehidupan di pagi hari, dirinya melintas di sebuah bukit yang tak jauh dari perkampungan. Saat itulah MKB sempat menyaksikan sebuah adegan pembunuhan. Orang-orang yang disebut MKB, sama persis dengan yang disebut GM.

Seiring dengan pengakuan saksi, polisi pun mulai bertindak. Beberapa nama yang disebut GM dan MKB dipanggil untuk dicek silang kesaksiannya. Tentu, orang yang diduga sebagai eksekutor menyangkal semua perbuatannya.

Beberapa waktu setelah pemeriksaan, GM bahkan mengubah keterangannya. Ditemui di Mapolres Lembata, Senin (10/11/2014) GM membenarkan kalau dirinya ketika itu sempat bertemu korban di salah satu sudut kampung di Desa Jontana. Setelah sempat berbasa-basi dengan korban, keduanya pun pamit untuk mencari pakan ternak. Ketika didesak, GM menolak kalau dirinya disebut ikut menghabisi nyawa Linus Notan, yang tak lain adalah saudara sepupunya. “S yang bilang bahwa dia lihat saya sedang memukul kepala korban dengan batu. Padahal saya tidak melakukan, benar saya bertemu dengan dia, lalu saya pergi cari daun untuk pakan kambing,” kata GM.

Ceritera GM kepada FBC ini berbeda dengan informasi yang berkembang di luar, juga pengakuan awal GM saat diperiksa polisi. Terang saja, kesaksian yang berubah-ubah ini tak bisa dijadikan sebagai sebuah alat bukti. Kendati ada saksi lain yakni wanita paruh baya yang berinisial MKB, tidak lalu membuat polisi secepat itu menetapkan status tersangka kepada orang yang disebutkan, bahkan GM sendiri masih berstatus saksi.

Piter Bala Wukak, SH, aktivis Aldiras yang kini menjabat anggota DPRD Lembata dalam sebuah kesempatan menjelaskan, pasal 183 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menegaskan, “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia (hakim) memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya,” jelas Piter mengutip KUHAP.

Dijelaskannya, alat bukti yang sah menurut pasal 183 KUHAP adalah,  keterangan saksi keterangan ahli, surat, petunjuk, juga keterangan terdakwa. Dengan demikian, untuk membuktikan kesalahan, paling sedikit harus didukung dengan keterangan dua orang saksi. Atau kalau saksi hanya satu orang maka kesaksian harus dilengkapi dengan alat bukti yang lain.

Lantas bagaimana dengan keterangan saksi dalam kasus Linus Notan? “Dalam pandangan saya, dua saksi ini memberi keterangan yang berdiri sendiri, atau tidak saling mendukung.  Karena itu polisi perlu mencari alat bukti lain. Dan harus diingat bahwa untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka, polisi harus memiliki dua alat bukti,” jawab Piter Bala.

Waktu terasa berjalan lamban, warga dan keluarga yang berharap kejelasan dari penanganan kasus kematian terus melancarkan desakan, tentu dialamatkan kepada polisi. Bahkan ada warga yang terang-terangan mendesak agar polisi segera menangkap dan memproses hukum orang yang turut serta bersama GM menghabisi nyawa Linus Notan. Kendati demikian, polisi tak ingin gegabah apalagi hanya kerena desakan warga. Untuk lebih meyakinkan dan agar cukup bukti, polisi berdasarkan permintaan keluarga lalu melalukan autopsi.

Tepatnya Kamis, 13 Nopember 2014, makam Linus Nota yang terletak di lokasi pemakaman umum Desa Jontona dibongkar untuk keperluan autopsi. Jasad orang yang di temukan tak bernyawa di bawah pohon lontar pada Rabu (3/9/2014) pagi, dibawa ke RSUD Lewoleba.

Terkait autopsi, Kasubag Humas Polres Lembata Bripka Yusuf Dahrmawan kepada wartawan mengatakan, jasad korban dibedah oleh dr. AKP Gusti Dharma,Spf dan dr. Aipda Pius Palu yang di datangkan dari dari Polda NTT . Menurut Yusuf, autopsi dilakukan untuk mengetahui penyebap kematian Linus Notan.

Lantas bagaimana dengan GM? “Selama ini hanya mengamankan dirinya di Polres Lembata dan belum ditetapkan jadi tersangka karena belum memiliki cukup bukti,” Yusuf juga mengklarifikasi kalau informasi terkait GM yang sudah berstatus tersangka adalah informasi yang salah. Dia berharap, agar warga tetap menghargai asas praduga tak bersalah juga semua proses hukum yang sedang berlangsung.

Belakangan, polisi melalui Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Pemeriksaan (SP2HP) Nomor B/110/XI/2014/Reskrim tertanggal 28 Nopember 2014, mengatakan setelah dilakukan pemeriksaan, perkara kamatian Linus Notan dinyatakan belum cukup bukti untuk ditingkatkan ke tahap penyidikan.

Robert Notan Corebima
Sebagaimana yang pernah di beritakan melalui media ini, warga kota Lewoleba digegerkan dengan penemuan mayat tanpa identitas mengapung di sekitar pelabuhan laut Lewoleba, Rabu (12/3/2014). Korban yang kemudian diketahui sebagai warga Desa Knotan, Adonara Tengah, Flores Timur itu ditemukan mengapung oleh nelayan kapal sekitar pukul 23.15 WIT. Saat ditemukan mayat pria berkulit sawo matang tersebut tersangkut di tali buritan Kapal Motor (KM) Lembata Karya.

Dalam penelurusan terungkap beberapa kejanggalan dan kuat di duga kalau pemuda 17 tahun yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP Lite itu dibunuh, sebelum mayatnya di buang ke laut.

Kopong, ayah korban yang di temui sekitar bulan Agustus 2014 silam di kediamannya Desa Knotan, Adonara Tengah menuturkan, putranya Robert Notan Corebima adalah seorang anak pedalaman. Kendati terlahir di Malaysia, namun sejak kecil mereka sudah kembali dan besar di kampung halaman mereka Desa Knotan. Knotan sendiri adalah sebuah desa di puncak bukit, jauh dari kehidupan berbudaya pantai, sebagai seorang anak kampung yang tak terbiasa dengan laut, Robert diketahui tak memiliki keahlian berenang.

Namun anehnya, pemuda tanggung yang baru seminggu meninggalkan kampung dan sekolahnya, ditemukan mengapung tak bernyawa di Dermaga Lewoleba. Dari ciri fisik  saat Robert ditemukan, diduga sang pelaku ingin menggambarkan kalau Robert meninggal karena kecelakaan laut. Betapa tidak? korban sebagaimana yang diulas dalam berita FBC, hanya mengenakan celana kolor berwarna biru dengan kacamata selam yang masih tersemat di antara kedua mata.

Sebagai gambaran, sesuai pantau FBC di RSUD kala jasad tanpa indentitas itu ditemukan aroma tubuh korban sudah membusuk. Sebelum dibawa ke kampung untuk dimakamkan, atas izin keluarga polisi sempat melakukan autopsi. Kepada FBC di Desa Knotan, ayah kandung korban menjelaskan berdasarkan hasil autopsi, korban di ketahui meninggal karena penyumbatan air di jantung.

Tak puas dengan hasil autopsi, Kopong ayah korban itu lalu melakukan penelusuran sendiri. Kapten KM ‘Semua Suka’ dia temuinya.  Sang kapten mengakui kalau Robert baru seminggu ikut dalam pelayaran kapalnya. Semua Suka melayani jurusan pulang-pergi Lewoleba, Waiwerang, Larantuka. Keuletan dalam membantu setiap pekerjaan di kapal pengangkut penumpang ini, membuat sang Kapten sangat menyanyanginya. Robert menghilang sejak Senin (10 /3/2014) saat KM Semua Suka sedang bersandar di Lewoleba untuk menurunkan barang bawaan.

Sang Kapten juga mengakui kalau kaca mata selam yang ditemukan masih terpasang melekat di mata korban adalah milik Semua Suka, kecurigaan sang ayah kian kuat kala baju dan celana korban ditemukan dalam keadaan basah dengan posisi terbalik dan terbungkus dalam kantong kresek hitam.  Penemu yang tak lain adalah salah satu ABK KM. Semua Suka itu mengaku, kalau kantong yang berisi pakaian yang dikenali Kopong sebagai pakaian milik anaknya Robert Notan di temukan di kamar mesin. Saat di periksa, celana panjang korban itu terdapat kotoran manusia. Pakaian dan beberapa bukti lain kini diamankan Polres Lembata.

Ayah korban bersama semua kerabat dekatnya mendesak polisi agar segera menggungkap misteri kematian anaknya Robert Notan Corebima. “Saya tidak percaya kalau anak saya itu meninggal karena bunuh diri, atau karena celaka dalam laut. Kalau bilang dia bunuh diri, kenapa harus pakai kacamata selam segala, lalu kalau mau bilang dia menyelam, anak saya ini tidak tahu berenang. Kami orang Lite-Knotan ini lihat genangan air sungai saja harus ukur dengan kayu sebelum kami masuk kedalamnya. Semua sudah kami sampaikan ke polisi dan berharap polisi Lewoleba, bisa ungkap kasus anak saya ini, “ujar Kopong dengan nada berat. Terlihat air mata mengalir dari sudut matanya, perlahan. (*)

Penulis: Yogi Making

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Foto :

  1. GM di (kaos oranye) dalam sebuah kesempatan di Kantor Polres Lembata. (Foto: FBC/Yogi Making)
  2. Kopong, ayahanda Robert Notan Corebima (Foto: FBC/Yogi Making)
  3. Jasad Linus Notan tiba di RSUD Lewoleba untuk kepentingan autopsi (Foto: FBC/Yogi Making)
Next Story »

Semoga Ada Pertobatan Raya di Negeri Ini

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *