Ketika Daratan Lembata Menyusut Setiap Tahun

Luas daratan Pulau Lembata diperkirakan berkurang 2 meter pertahunnya, karena pengikisan air laut (abrasi)

Pemandagan Pantai Waikilok di Januari 2015. (Foto : FBC/Yogi Making)

Pemandangan Pantai Waikilok akibat abrasi. (Foto: FBC/Yogi Making)

PEMANDANGAN mengenaskan terjadi di bibir Pantai SGB Bungsu hingga Waikilok. Pantai berjarak 1 kilometer dari pusat kota Lewoleba yang selalu dijadikan sebagai tempat wisata alternatif bagi masyarakat setempat itu, kini rusak tergerus gelombang. Ribuan tanaman kelapa, ketapang dan sejumlah tanaman pantai yang dahulunya menghiasi bibir pantai, roboh akibat disapu gelombang. Sisa-sisa pepohonan yang tumbang itu dibiarkan terendam di dalam laut.

Genape, seorang pemilik lahan di sekitar bibir Pantai Waikilok baru-baru ini menuturkan, sepuluh tahun silam, bibir pantai berada belasan meter dari tanaman kelapa miliknya. Namun sejak tiga tahun silam, hempasan gelombang terus merangsek naik hingga menumbangkan puluhan pohon kelapa di kebunnya.

“Kalau kita hitung di dua tahun terakhir ini, sudah sekitar 20-an pohon kelapa yang tumbang. Ada pohon yang terpaksa saya tebang karena sudah terendam air laut,” ujar Genape.

Ceritera warga Lewoleba ini, diperkuat juga dengan foto yang saya rekam dua tahun silam. Saya sempat mengabadikan gambar Pantai Waikilok, di mana tampak jejeran pohon kelapa berbaris rapi di sepanjang pantai. Jarak pohon kelapa  ke bibir pantai diperkirakan lebih dari 10 meter. Namun kondisi itu, tak lagi dijumpai. Pantauan terakhir, beberapa waktu lalu, jejeran pohon kelapa sudah terendam air laut.

Pemandangan yang sama pun terlihat di Pantai SGB Bungsu. Pantai yang selalu dipadati warga Lewoleba pada setiap hari libur itu, kini dalam keadaan rusak parah. Belasan pohon terlihat tumbang dan dibiarkan terendam air laut.

Ancaman dan Antisipasi
Fredrikus Wilhemus Wahon, aktivis lingkungan hidup yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD periode 2009-2014 ketika dihubungi mengatakan, abrasi mengakibatkan luas Pulau Lembata terus berkurang setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena pergerakan lempeng benua Australia yang berada di atas lempengan Pulau Lembata, Flores, Solor, dan Adonara.

abrasi-02

Pohon penahan abrasi di Pantai SGB Bungsu yang tumbang tersapu gelombang (Foto: FBC/Yogi Making)

“Lempengan benua Australia bergeser ke arah kita 7 sentimeter per tahun. Pergeseran lempengan Australia ini berdampak pada pengurangan luas daratan Lembata, dan abrasi menjadi ancaman serius,” katanya.

Karena itu, Wahon mengatakan, upaya mengantisipasi abrasi sudah harus dilakukan mulai sekarang, dan diprogramkan secara periodik oleh pemerintah.

Pengerjaan pun diharapkan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Selain itu, perlu dibuatkan peraturan daerah (perda) tentang perlindungan tanaman mangrove.

“Kita masih suka memanfaatkan apa yang sudah disiapkan alam. Tanpa berpikir dan berusaha untuk memperbaikinya kembali. Kalau kita amati, potensi mangrove kita sangat baik. Tetapi banyak juga yang tidak terpelihara dan mulai rusak karena ditebang untuk keperluan bahan bangunan juga kayu kayu bakar,”ujarnya lagi.

Menurut dia, sudah saatnya dibuat program reklamasi pantai secara periodik oleh pemerintah dan pengerjaan nanti melibatkan semua elemen masyarakat. Di samping itu perlu ada perda tentang perlindungan mangrove, juga perda tentang pelestarian alam bawah laut. Terumbu karang, tidak sekedar berfungsi untuk tempat bertelurnya ikan, tetapi juga sebagai penghambat gelombang.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Lembata, Bernadus Boli Hipir menyatakan, pihaknya mendata setiap tahun, lima meter luas daratan digerus abrasi. Menurutnya, abrasi di bibir pantai kota Lewoleba seakan tak terbendung karena kekurangan pohon penahan abrasi.

“Kami sudah menanam 2.000 pohon ketapang, cemara pantai, dan waru laut, pada Desember 2014 lalu dengan dana APBD. Program ini akan kita lanjutkan di tahun anggaran 2015 di mana kami sudah usulkan reklamai pantai dengan menanam lebih banyak tanaman penahan abrasi dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat,” pungkas Hipir.

Penulis: Yogi Making

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Lembor, Lumbung Padi yang Terancam Alih Fungsi Lahan

Next Story »

Dua Wajah Pantai Koka

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *