Keti Kembung

Ketika Ruh Menyatu dengan Leluhur

ritual-keti-kembung

Sejumlah tetua adat sedang melakukan upacara adat Keti Kembung di jalan menuju ke pemakaman umum dengan mempersembahkan seekor ayam hitam.

Lewat ritual Keti Kembung, masyarakat Manggarai Barat meyakini orang yang telah mati akan memperoleh kehidupan di alam baka

SUASANA duka masih menyelimuti warga Kampung Nara, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Hari itu, merupakan hari ke-7 meninggalnya Yosef Stefen (33), seorang warga kampung. Sesuai tata adat Manggarai, hari tersebut adalah batas waktu terakhir relasi antara kita yang hidup di dunia ini dengan orang yang telah mati.

Melalui ritual adat keti kembung diyakini, orang yang telah mati akan memperoleh kehidupan di dunia alam baka dan mau menyatakan bahwa keadaan riil antara dunia orang mati dan dunia orang yang masih hidup sudah berbeda sehingga apa yang terjadi yakni kematian itu sendiri, tidak bakal terjadi pada orang yang masih mengembara di dunia ini.

Bagi masyarakat adat Manggarai pada umumnya dan warga Kempo khususnya, ritual adat keti kembung adalah upacara adat yang wajib dilakukan untuk seseorang yang meninggal dunia. Ritual keti kembung biasanya diadakan pada hari ketiga, kelima atau ketujuh setelah jenazah dikuburkan. Ketetapan waktu ritual adat ini disesuaikan dengan kesepakatan keluarga berduka atau kebiasaan pada masing-masing suku. Meskipun ada perbedaan waktu di beberapa suku, namun upacara yang satu ini tidak boleh dilupakan apalagi diabaikan begitu saja.

Karena, bagi orang Manggarai upacara keti kembung bukan sekedar simbol pemisahan hubungan semata antara orang hidup dengan orang mati tetapi sekaligus semacam suatu perjanjian abadi bahwa orang mati sudah masuk ke suatu situasi alam gaib atau dunia arwah, dunia yang sama sekali lain dengan dunia yang dihuni oleh orang-orang yang masih hidup. Pada umumnya, ritual adat tersebut dilakukan di luar kampung atau tepatnya di jalan utama menuju ke pemakaman umum.

Bulu Kuduk Merinding
Seperti dilakukan oleh masyarakat adat Kampung Nara pada hari ketujuh kematian Yosef Stefen. Sore itu tepat pukul 17.00 Wita, sejumlah tetua adat keluar kampung melalui jalan utama menuju pemakaman umum, berjarak sekitar 250 meter. Para tetua adat lalu duduk bersimpuh di atas jalan yang sepi beralaskan daun pisang. Zakarias Satu (78) selaku pemimpin ritual adat keti kembung mulai mendaraskan doa-doa permohonan kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Beberapa saat kemudian, para arwah orang yang meninggal dunia dan semua arwah para leluhur disapa dan diundang untuk hadir bersama-sama mengikuti upacara adat.

Upacara adat teki kembung biasanya dilengkapi beberapa unsur berupa bahan makanan dan benda lainnya seperti daun pisang, beras berwarna hitam, putih dan kuning, telur rebus, kayu kole, sejenis pohon berdaun lancip, siri dan pinang, tembakau, benang berwarna merah, hitam dan putih sebagai simbol  pembatas atau pagar batas hubungan antara orang hidup dan orang mati serta seekor ayam berwarna hitam.

Semua benda atau bahan tersebut memiliki pesan makna dan fungsinya masing-masing. Daun pisang sebagai tempat untuk menyimpan hidangan, beras dan telur ayam merupakan bahan makanan, siri pinang biasa disuguhkan kepada para tamu undangan dan lambang ikatan relasi social, kayu kole atau pohon pemali sebagai larangan adanya relasi antara orang hidup dan mereka yang sudah mati dan ayam hitam sebagai ‘meterai kekal’ pemisahan hubungan antara orang hidup dan orang mati.

Suasana sakral tampak terasa saat tua adat  mendaraskan doa-doa permohonan dan pesan-pesan perpisahan akhir antara kita yang hidup dan mereka yang sudah mati. Suasana kian merindingkan bulu kuduk ketika memasuki detik-detik perpisahan yang ditandai dengan acara pemotongan ayam hitam. Ayam hitam digorok lehernya hingga darah muncrat dan membasahi wadah dedaunan yang tersedia. Sesudah itu ayam dibakar lalu dibawah ke pemimpin adat untuk dibagi-bagikan kepada para arwah leluhur serta orang yang meninggal itu seraya menyampaikan pesan-pesan perpisahan.

Ignasius Obat, salah seorang tetua adat mengaku upacara adat keti kembung merupakan puncak seluruh rangkaian ritual adat bagi orang yang meninggal dunia. Para tetua adat dan seluruh warga kampung menyakini bahwa arwah orang yang telah meninggal dunia tersebut saat ini tengah berdiam di tempat peristirahatannya yang kekal dan diyakini pula bahwa pada saat upacara adat itu dilakukan, orang yang telah meninggal itu sedang menangis sedih lantaran ia tidak mungkin bisa lagi berhubungan dengan orang-orang yang masih hidup.

Ritus adat keti kembung bagi masyarakat adat Manggarai merupakan upacara adat yang harus dijalankan oleh keluarga berduka maupun warga kampung. Karena dengan ritual ini, terjadi pemisahan hubungan antara kita yang masih hidup dengan orang yang sudah meninggal dunia. Meskipun demikian, bagi orang Manggarai, pemutusan hubungan tersebut bukan berarti sudah tidak ada hubungan sama sekali antara orang yang hidup dan orang yang telah mati. Karena orang Manggarai percaya, meskipun secara fisik berpisah tetapi jiwa orang-orang mati dipercaya masih tetap hidup di alam nyata. Makanya, orang Manggarai dalam setiap kesempatan upacara adat, senantiasa menjalankan acara teing hang  (memberi makan/sesajian) kepada para leluhur di Compang atau di rumah-rumah adat.

Lambang Keikhlasan
Sebelum jenazah seorang dimakamkan sesuai adat Manggarai, didahului dengan salah satu ritual adat sebagai simbol pelepasan jenazah. Ritus adat itu dilakukan dengan mengormankan seekor ayam berwarna putih. Sebelum jenazah dibawa ke luar dari rumah tinggal atau tempat persemayaman, ritus adat itu dilakukan persis di depan pintu keluar.

Upacara ini sebagai simbol perpisahan antara keluarga berduka dan seluruh warga kampung dengan orang yang meninggal dunia. Sementara itu, ayam putih melambangkan keikhlasan, ketulusan dan kesucian hati keluarga dan warga untuk melepaskan orang yang mereka cintai itu pergi untuk selama-lamanya.

Menurut penuturan Saferius Sani, tetua adat lainnya, ayam putih sekaligus juga melambangkan penyucian diri baik bagi mereka yang masih hidup maupun orang yang telah meninggal dunia. Bagi orang yang masih hidup, ayam putih adalah simbol hidup suci lahir dan batin dalam perjalanan ziarah kehidupan di dunia nyata sedangkan bagi orang yang meninggal dunia agar kepergian dia ke pangkuan Ilahi, tidak membawa serta noda dosa atau masalah-masalah yang dapat membebani keluarga serta seluruh warga kampung dalam perjalanan hidup di dunia fana.

Bagi masyarakat Manggarai masih ada satu fase yang biasa dilalui terkait dengan upacara adat orang mati yakni ke’las atau kenduri. Upacara adat ini biasa dilakukan pada hari ke-40. Acara adat ke’las atau kenduri ini bermakna sama dengan keti kembung yakni upacara perpisahan atau melepas-pergikan orang yang sudah meninggal dunia untuk hidup sesuai dengan keadaaanya yang baru dengan harapan bahwa ia akan mengalami kebahagiaan di alam baka.

Namun, ritus adat ke’las biasa diadakan di rumah keluarga berduka dalam suasana penuh syukur disertai acara teing hang (memberi makan atau persembahan)  yang biasa diadakan di Compang. Pada umumnya, ritual adat ke’las ini melibatkan keluarga besar terutama keluarga ata wina dan ata rona (pihak keluarga perempuan dan laki-laki) yang punya ikatan hubungan perkawinan. Ritual ke’las juga merupakan ajang silaturahmi antar anggota keluarga dan antar warga kampung demi mempererat tali persaudaraan dan kekeluargaan.

Ritual adat ke’las atau kenduri dalam kenyataan kehidupan beragama khususnya Agama Katolik, biasa dipadukan atau diadopsi untuk inkulturasi ajaran Kristiani tentang kebangkitan dari alam maut dan kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga melalui perayaan Ekaristi sebagai pusat kehidupan keselamatan umat manusia. Biasanya pastor atau imam Gereja bertindak sebagai pemimpin ritual sesuai tata cara adat Gereja Katolik. (*)

Penulis : Kornelius Rahalaka

Editor: EC. Pudjiachirusanto

‘Dona Ines’ Merajut Masa Depan Tenun Sikka

Next Story »

Jejak Portugis dalam Toja Bobu

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *