Kelimutu, Antara Sensasi dan Mitologi

danau-kelimutu-01

Danau kedua Tiwu Nua Muri Koo Fai, yang diyakini menjadi tempat bersemayam arwah kaum muda. (Foto: FBC/Pudji)

Jangan naik Gunung Kelimutu setelah jam 11 siang, karena akan disambut hujan dan kabut. Benarkah demikian?

MESKI telah mengetahui sebelumnya bahwa Danau Kelimutu yang berada di puncak Gunung Kelimutu, hanya bisa dilihat saat mentari terbit hingga pukul 10.30 wita, saya mencoba mematahkan mitos tersebut.

Setelah menginap semalam di Ende, saya pun menuju ke Desa Moni, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, lokasi danau yang pertama kali ditemukan peneliti Belanda BM Van Suchtelen seabad silam itu berada. Dengan mobil sewaan, sekitar pukul 10.00 wita saya meninggalkan hotel dengan satu tekad mencapai puncak Kelimutu, yang kisahnya pertama kali saya dengar tahun 1990-an silam dari teman indekost saya saat masih mahasiswa. Setelah menunggu 20 tahun, kinilah saatnya saya menikmati kemolekan danau empat warna, yang konon warna airnya bisa berubah-ubah itu.

Setelah menempuh perjalanan 3 jam dengan jarak tempuh sekitar 135 kilometer menyusuri jalur Trans Flores Ende-Maumere yang berkelok-kelok dan jalan menanjak sepanjang 13 kilometer, sampailah saya di gerbang Taman Nasional Kelimutu.

Sebelum sampai gerbang saya membayar tiket bertarif Rp 5.000 untuk turis lokal dan Rp 50.000 untuk turis asing. Sesuai saran pemandu saya meletakkan sebatang rokok kretek atau ‘rokok keras’ dalam bahasa setempat dan selembar uang Rp 1.000 untuk persembahan kepada Konde Ratu, danyang (penguasa gaib) yang menjaga gerbang Kelimutu.

Sensasi kehidupan alam gaib langsung terasa, begitu saya menaruh sebatang Dji Sam Soe dan lembaran Rp 1.000 di atas batu besar. Persembahan ini mengingatkan saya saat mengunjungi Desa Sibetan, Karangasem, di lereng Gunung Agung, Bali. Ketika itu mobil Suzuki Katana sewaan yang saya kendarai mogok. Atas saran warga setempat saya menaruh sebatang rokok kretek dan uang kertas di pura desa. Ajaib, setelah saya meminta izin danyang desa, mobil kembali bisa distarter.

Tepat pukul 13.30 wita tibalah saya di jalur pendakian Kelimutu. Selain disambut kakak beradik petugas pengamatan Gunung Kelimutu, Markus Ghawa (43) dan Petrus Ghawa (40), saya juga langsung disergap kabut dan rintikan hujan.

danau-kelimutu-04

Markus Ghawa (kiri berbaju loreng) sedang berbincang dengan wisatawan mancanegara. (Foto: FBC/Pudji)

Mencoba menenangkan diri dengan menyeruput kopi Flores yang ditawarkan pedagang, saya membeli selendang tenun ikat Lio-Ende tiga lembar untuk membungkus leher dan tangan yang mulai membiru disergap dingin. Tanpa diminta, Markus langsung memberikan kuliah gratis tentang ‘kebangsaan’dengan menggebu tanpa jeda. Tak kalah piawai dibanding tokoh-tokoh yang sering unjuk wicara di televisi.

Dia dengan fasih berkisah ikhwal Bung Karno, wawasan Nusantara, Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila. Markus mengenakan jaket loreng TNI, tetapi saya yakin dia bukanlah anggota TNI atau alumnus Lemhanas, meski kualitas pembicaraannya tak kalah dengan Manggala BP7 zaman Orba dulu. Karena dari potongan tubuh dan rambutnya, dia bukan seperti stereotype tentara.

Karena hujan tak juga reda, dan kabut pun tak jua menyusut, saya akhirnya menyerah dan menuruti saran Markus untuk turun dan menunda melihat keelokan danau yang namanya bermakna gunung mendidih (keli: gunung, mutu: mendidih) itu.

Burung Arwah
Tidak ingin gagal kedua kali, saya akhirnya kembali lagi empat hari kemudian saat perjalanan pulang dari Maumere ke Ende. Karena kebetulan tiket pesawat yang saya dapat, terbang dari Ende menuju Denpasar. Kali ini saya menginap di Ecolodges, yang berjarak 100 meter dari pertigaan Kelimutu di Jalan Trans Flores Maumere-Ende atau sekitar 13 kilometer dari puncak Kelimutu.

Ecolodges ini merupakan tempat menginap yang menarik, terutama kamar mandinya yang terbuka. Sembari mandi kita bisa menatap langit, melihat kupu-kupu, atau melihat tingkah burung riang gembira menyambut mentari pagi. Begitu saya membatin dan berharap bisa menikmati mandi di Ecolodges. Namun keinginan itu tidak kesampaian karena saat saya check-in sudah pukul 24.00 wita dan harus bangun pagi-pagi sekali demi Kelimutu. Benar saja, setelah bangun saya tidak sempat mandi, selain waktunya mepet, dingin musim pancaroba sangat menusuk tulang.

Saya pun meninggalkan Ecolodges pukul 04.00 wita. Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit akhirnya kembali saya bertemu Markus di jalur pendakian. Anehnya, meski gelap masih menyergap, tak tampak kabut maupun rintik hujan. Dengan ditemani Markus yang membawa senter untuk menyingkap gelap, saya akhirnya menyusuri anak tangga menuju puncak Kelimutu.

Beratnya medan pendakian puncak setinggi 1.690 meter di atas permukaan laut (dpl), tak terasa karena suara kicauan burung garugiwa (Pachycepala nudigiwa) yang bersahut-sahutan. Suara burung ini mirip cucak rowo dengan suara ropel bulat yang memantul dinding bukit batu seolah orkestra alam yang menyambut kedatangan tamu Kelimutu. Sebagai ‘kicau mania’ sempat terlintas dalam benak ingin memiliki burung tersebut. Tetapi hasrat itu segera saya tepis, biarlah garugiwa bahagia di alam raya.

Burung yang secara fisik sulit terlihat ini dalam brosur wisata memang digambarkan bertubuh mirip cucak rowo dengan bulu coklat tua, kepala berbulu hitam dengan gelambir merah serta tepi paruh bergaris kuning.

“Itu suara burung arwah, tidak setiap kali dia berkicau. Sulit dilihat apalagi ditangkap. Kalau berkicau berarti kedatangan kamu direstui para arwah di sini,” begitu bisik Markus bernada menghibur. Dia menyebut garugiwa sebagai ‘burung arwah’.

Memang kalau kita memiliki pendengaran jeli, suara burung garugiwa di tiap ketinggian memiliki cengkok (nada) suara berlainan. Pada awal pendakian sekitar ketinggian di bawah 1.250 dpl, ropel suaranya kurang dari 10 ketukan. Sementara menjelang puncak suara ketukannya belasan.

Dua Warna
Meski termasyur berjuluk danau tiga warna, saya hanya melihat dua warna air danau kali ini. Danau pertama yang bernama Tiwo Ata Polo berwarna hijau muda, dan diyakini merupakan tempat bersemayam para arwah jahat. Biasanya air danau berwarna merah kehitaman. “Perubahan warna dari merah menjadi hijau su terjadi tiga tahun lalu,” jelas Markus.

Danau pertama yang bernama Tiwo Ata Polo berwarna hijau muda, dan diyakini merupakan tempat bersemayam para arwah jahat. (Foto: FBC/Pudji)
Danau kedua, Tiwu Nua Muri Koo Fai, yang diyakini menjadi tempat bersemayam arwah kaum muda. (Foto: FBC/Pudji)
Danau ketiga yang paling minim menerima mentari pagi adalah Tiwu Ata Mbupu yang diyakini menjadi singgasana arwah orang tua yang bijaksana. (Foto: FBC/Pudji)

Saat berada di danau ini mentari terbit dengan perlahan memancarkan rona merah, membelah dinding bebatuan danau seluas 4 hektar, dengan kedalaman air 64 meter. Air danau yang diterpa mentari perlahan terdapat bercak kekuningan yang meleleh dari tepi danau, kemungkinan karena belerang mencair terkena panas.

Setelah mendaki kembali sekitar 500 meter akan terlihat danau kedua, Tiwu Nua Muri Koo Fai, yang diyakini menjadi tempat bersemayam arwah kaum muda. Danau seluas 5,5 hektar dengan kedalaman air 127 meter ini pun berwarna hijau, namun lebih pekat dibanding danau pertama. Danau inilah yang paling penuh menerima mentari pagi karena berhadapan langsung dengan mentari di ufuk timur.

Danau ketiga yang paling minim menerima mentari pagi adalah Tiwu Ata Mbupu yang airnya berwarna hitam pekat dengan luas 4,5 hektar dan kedalaman air 67 meter. Di sinilah menurut kepercayaan warga setempat yang menjadi singgasana arwah orang tua yang bijaksana.

Menariknya, di bibir danau ketiga ini sering muncul sekawanan kera ekor panjang yang menarik perhatian pengunjung dengan meminta makanan dan berguling-guling. Kera-kera ini anehnya tidak berani mendekati dua danau lainnya.

Selain ketiga danau tersebut di kawasan taman nasional seluas 5.356 hektar ini juga terdapat 79 jenis pohon, 15 jenis tanaman bawah, dan empat jenis tanaman endemik.

Misteri Kelimutu mereda seiring naiknya mentari pagi menuju tegak lurus, saat itulah waktunya turun karena misteri pergi dibawa sang mentari. (*)

Penulis: EC. Pudjiachirusanto

Nikmatnya Bersauna di Wae Bana

Next Story »

Kampung Bena Magnet Ekowisata

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *