Tarian Mbarase

Kebersamaan dalam Menangkap Ikan Se

Para penari memperagakan gerakan menggiring ikan Se. (Foto: FBC/Ebed)
Ikan Se yang sudah di giring bersiap dimasukan ke Sere. (Foto: FBC/Ebed)
Ikan Se yang sudah dimasukan ke Sere dituang ke Batung atau Kidak. (Foto: FBC/Ebed)
Mundus ( kiri ) bersama Merry diapit para penari Mbarase. (Foto: FBC/Ebed)

Mbarase atau ikan Se bagi masyarakat Paga di pesisir Selatan Kabupaten Sikka dimaknai sebagai berkat dari leluhur dan Sang Pencipta. Proses menangkap ikan ini dituangkan dalam tarian. Seperti apa?

IKAN Se yang muncul setiap bulan Desember hingga Februari setiap tahunnya menjadi berkat tersendiri bagi masyarakat di Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka. Konon, ikan ini sudah ada sejak ratusan tahun silam ini. Momen menangkap ikan Se ini mempertemukan masyarakat Paga yang tinggal di daerah pegunungan dan pesisir. Kebersamaan ini dituangkan dalam sebuah tarian oleh Sanggar Rabi Ria dalam bentuk tarian Mbarase.

Tarian Mbarase yang disajikan Sanggar Rabi Ria dari Desa Mbengu, Mauloo, Kecamatan Paga ingin memberikan gambaran mengenai proses penagkapan ikan Se. Tarian adat yang diwariskan nenek moyang ini coba kembali dihidupkan oleh Kepala Desa Mbengu bersama pihak sekolah di Mbengu, Mauloo.

Tarian ini ditampilkan oleh tujuh orang remaja perempuan dan seorang penari laki-laki. Para perempuan mengenakan rok sarung tenun motif Lio yang dipadu-padankan dengan baju kain berwarna biru muda. Sementara laki-lakinya mengenakan celana panjang yang dililit kain tenun ikat dipadukan dengan rompi kuning serta ikat kepala berbahan tenun ikat.

Menggiring Se
Gerakan tari diawali penari dengan berjalan memutar membentuk lingkaran. Lima penari memegang kayu bulat sebesar ibu jari sepanjang sekitar 50 sentimeter memukul-mukulkan kayu. Gerakan ini melambangkan aktivitas yang dilakukan di laut untuk menggiring ikan Se agar tetap berada di dalam lingkaran.

Tangan digerakan maju mundur terkadang dilebarkan membuat gerakan mendorong ke depan seraya memukulkan kayu. Para penari pun tetap membentuk lingkaran bermakna menjaga agar ikan Se tetap berkumpul.

Satu per satu penari mulai merapat, gerakan kaki maju mundur memukulkan kayu pun di percepat. Lingkaran pun kian mengecil dan para penari duduk jongkok. Lutut dijadikan tumpuan. Sere yang dipegang seorang penari diletakan di sampingnya. Kayu diletakan dan tangan-tangan penari membuat gerakan mengibaskan air laut melambangkan gerakan menggiring ikan Se agar berkumpul dan membentuk lingkaran kecil.

Sere pun diangkat, penari membuat gerakan tangan menyendok (mengambil) ikan. Penari lainnya serentak membuat gerakan tangan mengusir ikan masuk ke dalam sere. Setelah dirasa cukup, sere pun diangkat. Penari pun berdiri. Sere diangkat tinggi mengartikan menjaga agar ikan yang sudah ditangkap tidak jatuh.

Penari yang memegang batung atau kidak mendekat dan berjongkok. Pangkal sere diangkat tinggi dengan mulut sere berada di atas batung. Sesekali tangan dipukulkan ke sere agar ikan -ikan halus tersebut bisa jatuh. Penari lainnya tetap berdiri melingkar dan memandang dengan senyum dan tertawa kecil.

Kegembiraan kembali ditampilkan. Penari berjalan melingkar dan kembali melakukan gerakan serupa. Ikan yang di dapat dibagi rata di antara mereka. Proses penangkapan pun selesai. Ikan yang ditangkap dirasa cukup. Penari kembali berjalan melingkar seraya menebarkan kegembiraan, tersenyum dan tertawa.

Kebersamaan
Raymundus Heko, penari lelaki menceritakan kepada saya bahwa tarian yang ditampilkan menggambarkan tentang proses penangkapan ikan Se. Perkakas yang digunakan saat menarikan tarian ini adalah sere, kayu bulat sepanjang 50 sentimeter dan batung atau kidak.

Sere berbentuk kerucut, lanjut Heko guru SDI Mauloo ini, terbuat dari 30 batang rotan yang diraut. Diameter mulut sere sekitar 50 sentimeter. Bagian pangkal sere berbentuk bulat ditutup rapat guna mencegah ikan Se berlari keluar. Sementara kayu-kayu bulat yang dipegang enam penari melambangkan alat yang dipakai untuk mengusir ikan Se buat berkumpul dan ditangkap. Kidak berbentuk mirip lingkaran dianyam dari daun koli ( tuak ).

“Tarian ini melambangkan kebersamaaan. Mengisahkan saat masyarakat turun ke laut menangkap ikan Se saat musim ikan ini muncul di Laut Paga, “ ujarnya.

Merry Fio, guru SDI Mauloo yang membimbing dan melatih para penari menyebutkan, tarian Mbarase ingin mengambarkan bahwa ikan Se memberikan penghasilan dalam hal ini pangan kepada masyarakat setempat dan ada nilai ekonominya karena ikan ini pun dijual. Selain itu, kebersamaan yang terjadi saat ribuan orang turun ke laut dan menangkapnya, sebut Merry, membuat tarian ini ingin mengedepankan nilai kebersamaan dan persahabatan itu.

Gali dan Kreasikan
Tarian Mbarase merupakan salah satu tarian tradisional etnis Lio di Sikka selain Wanda Pala, Wani Woge, Go Wani, Teko Genda, Gawi dan lainnya. Tarian Mbrase, kata Mundus dan Merry, biasa ditampilkan saat upacara adat di rumah adat atau pun saat menyambut para pembesar di zaman dahulu atau para pejabat saat ini.

“ Dari zaman dahulu sering ditarikan dan baru akhir-akhir ini kami gali lagi dan kami kreasikan dengan gerakan-gerakan baru. Ini tidak sulit karena anak – anak sekolah kami, tiap hari Jumat atau Sabtu ada waktu untuk mengembangkan bakat dan kreativitasnya dengan menyanyi dan menari,“ beber Merry.

Tarian yang dibawakan Sanggar Rabi Ria ini, menurut Mundus, gerakannya sudah banyak dimodifikasi dan musiknya pun kolaborasi dari Lio dan Bajawa. Dahulu saat ditarikan, syair lagu dinyanyikan sementara saat ini lebih banyak memakai lagu hasil rekaman dan cuma diputar di alat pemutar musik guna mengiringi penari.

Beberapa tarian daerah yang mulai hilang, kata Mundus lagi, terjadi semenjak perintis Sanggar Rabi Ria meninggal dunia. Sanggar tersebut akhirnya terbengkalai. Pementasan tarian oleh sanggar ini pernah sampai ke Riung, Ngada, dan Watubala, Talibura.

Para perempuan penari di Paga masih banyak dan bisa diajak untuk bergabung mengembangkan tarian adat daerah. Sebelum mementaskan tarian Mbarase, para penari ini hanya dilatih selama lima hari saja. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Memindahkan Roh Halus di Kebun Baru

Next Story »

Melalui Reba Warga Bajawa Kembali ke ‘Jalan Benar’

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *