Jejak Portugis dalam Toja Bobu

tari-toja-bopu-02

Toja Bobu, tarian yang diperkenalkan bangsa Portugis di Nian Sikka sejak tahun 1600 – an yang menggambarkan kegembiraan menyongsong kelahiran Yesus Kristus, hingga kini masih dipentaskan, terutama di daerah Paga dan Sikka

FESTIVAL Pantai Koka yang berlangsung di Pantai Koka, Kecamatan Paga menyajikan berbagai tarian. Sebagai tuan rumah, Sanggar Begu Lagu asal Wolowiro dipercaya menerima rombongan bupati yang datang ke lokasi acara. Suguhan tarian Toja Bobu yang ditarikan anak- anak lelaki dan perempuan menyihir para pejabat dan tetamu yang hadir.

Dua lelaki berjalan di bagian depan memakai topeng (bobu). Tangan sebelah kanan memegang tongkat yang terbuat dari kayu bulat yang dicat merah, putih dan hitam. Pada bagian tengah kayu dipasang giring-giring. Begitu juga di kedua kaki penari bobu. Berjalan perlahan sedikit membungkuk seraya mengentakkan kedua kaki membunyikan giring-giring. Di saat bersamaan, tangan penari bobu menancapkan kayu di tanah dan mengeluarkan bunyi senada.

Di belakang dua penari bobu, empat orang penari perempuan mengibaskan selendang tenun di tangan sambil menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan tiga penyanyi lelaki dewasa. Selendang tenun dikalungkan di leher sementara kedua ujungnya dipegang penari. Saat penari bergerak ke kiri, ke kanan dan memutar, kedua ujung selendang pun dikibaskan. Terkadang penari membuat gerakan memutar seraya sedikit membungkuk. Gerakan ini bermakna memberikan penghormatan dan mempersilakan tamu untuk datang.

Susunan penari berselang-seling. Dua penari bobu diikuti empat penari perempuan dengan susunan terakhir ditempati dua penari bobu. Untuk pementasan kali ini Sanggar Begu Lagu menurunkan enam penari laki-laki bertopeng dan delapan perempuan disertai tiga lelaki dewasa menyanyikan syair.

Selama tarian dibawakan, seorang mosalaki ( tetua adat ) berjalan maju mundur di tengah barisan penari.Tangan mosalaki memegang sebuah kayu bulat yang di ujungnya dipasang ekor kuda (hitam dan putih). Tangan mosalaki bergerak mengibaskan ekor kuda dan sesekali membuat gerakan memutar di kepala. Gerakan ini bermakna membuka jalan atau membersihkan jalan agar orang besar (pejabat) yang melewatinya tidak mendapat rintangan dan halangan.

Tarian toja bobu jarang dipentaskan baik di Kecamatan Paga maupun di Desa Sikka, Kecamatan Lela. Di dua tempat ini tarian toja bobu ditampilkan dengan dua versi berbeda. Jika di Paga, penari bobu memakai topeng dan mengenakan pakaian dari daun pohon tuak (enau) muda, di Sikka para penari memakai pakaian ala Barat, jas lengkap.

Selain memakai topeng, para penari bobu juga mengenakan topi bundar di kepala. Toja artinya penari, sementara bobu berarti topeng atau badut. Toja bobu diartikan sebagai tarian yang memakai topeng.

Sambut Sang Bayi
Dalam menarikan tarian ini, semua penari bobu harus laki-laki dan mengenakan topeng. Topeng tersebut seperti dijelaskan Fransiskus Rai (53) salah seorang yang membawakan syair lagu-lebih menyerupai pantun-, terbuat dari kulit pohon kemiri. Kulit tersebut, ujar Fransiskus, dikeringkan, dibentuk dan dilukis menyerupai wajah manusia. Bagian atas topeng dipasang kayu yang disambung dengan ijuk sehingga terlihat seperti rambut. Semua penari, penyanyi dan mosalaki memakai sarung tenun ikat. Mosalaki dan penyair, wajib mengenakan ikat kepala dari sarung.

“ Penari bobu memakai pakaian dari daun pohon tuak yang muda. Ini melambangkan, saat orang Portugis datang, mereka memakai jubah. Masyarakat pun menyambutnya dengan tangan terbuka, sehingga tarian toja bobu ini dimaknai sebagai ungkapan kegembiraan, menyambut tamu yang datang “ ujarnya.

Geradus Gedo (65) pemilik Sanggar Begu Lagu yang dijumpai FBC usai pentas menyebutkan, tarian toja bobu merupakan peninggalan bangsa Portugis yang sampai saat ini masih ditarikan di wilayah Paga. Toja bobu, kata Geradus, ditarikan saat Natal untuk menyambut kelahiran Tuhan Yesus. Selain itu juga ditarikan saat ritual adat, kelahiran bayi, dan penyambutan orang besar (pejabat) dan tamu dari luar daerah.

“ Tarian ini kita persembahkan untuk menyambut Simo Ana Yesus. Saat mau terima patung Simo Ana Yesus baru kita pakai bobu tapi setelah penerimaan tidak pakai bobu lagi. Semua penari menari mengelilingi Simo Ana Yesus ( Tuhan Yesus ), “ jelas Geradus.

Jumlah penari bobu, tambah Geradus, biasanya terdiri dari 20 orang sampai 25 orang. Syair lagu dibawakan dalam bahasa Lio dan disesuaikan dengan maksud pementasannya. Jika menyambut pejabat, syair yang dinyanyikan menyebutkan nama pejabat disertai doa dan pesan kepadanya serta semua tamu yang datang. Sementara saat Natal, syairnya pun mengisahkan tentang kegembiraan menyabut kedatangan Sang Mesias.

Ditambahkan Raymundus Wero (54), tarian toja bobu di Paga sering dibawakan karena Sanggar Begu Legu yang didirikan sejak tahun 1975 selalu melatih anak-anak usia sekolah dasar untuk terlibat di dalamnya. Tak heran bila saat dipentaskan di Pantai Koka, para penari lelaki semuanya berusia sekolah dasar, sementara penari perempuan rata-rata duduk di bangku sekolah manengah pertama.

Biasanya sebelum ditarikan dibuat ritual adat memberi makan leluhur dengan menyiapkan ikan atau ayam, moke (arak), bako (rokok), dan sirih pinang. Ritual adat dibuat demi memohon agar pementasan toja bobu berjalan lancar.

“Kami bangkitkan generasi muda dan ajar tarian ini sejak usia dini sehingga mereka bisa mencintai warisan nenek moyang dan meneruskan tradisi ini. Jika sudah dewasa maka mereka kami ajari juga membawakan syair lagu. Jika tidak begitu, kami takut nanti suatu saat tarian ini akan hilang, “ ungkapnya.

Satu bait syair pembukan yang dinyanyikan dalam bahasa Lio Paga saat pementasan di pantai Koka berisikan ungkapan selamat datang dan pesan persahabatan, merasa sedih kehilangan saat sang tamu pergi: Keko ji’e no’o gare pawe. No ame – ame miu lei sawe. Tau wenggo nena soli kame lawe yang artinya, Kami omong yang baik untuk bapak-bapak semua tentang keluh kesah kami.

Sementara syair terakhir: Kame ate hiro haro ngai baba. Tau wele walo.Ma’e ngadho fai walu ana kalo yang artinya hati kami sedih karena bapak datang dan pergi lagi. Jangan lupa kami orang susah. Selesai syair dilanjutkan dengan menyanyikan refrain: Sela le la le..sela le la le.

Diperkenalkan Raja
Toja bobu di Sikka ditarikan setelah Natal dan biasanya pada tanggal 26 atau 27 Desember. Meski bernama sama dan diperkenalkan bangsa Portugis, tarian toja bobu di Sikka sangat berbeda dengan di Paga. Selain penari bobu berjumlah minmal 3 orang, terdapat juga 13 orang penari laki-laki tanpa mengenakan topeng disertai para penari perempuan. Semua penari laki –laki memakai jas lengkap sementara perempuannya mengenakan sarung tenun ikat dan memegang selendang

Orestis Parera (74) Ketua Sanggar Gere Bue di Sikka mengatakan, toja bobu di Sikka Natar (Kampung Sikka) dibawa oleh Raja Don Alessu dari Malaka tahun 1607 dan diajarkan ke masyarakat Sikka. Menurut Pak Res-sapaan akrabnya-, toja bobu merupakan sendratari dan ditarikan oleh 50 orang dalam formasi lengkap. Semua syair lagu ditulis dan dinyanyikan dalam bahasa Portugis.

“ Kita lagukan saja meski tidak tahu artinya. Kita taat pada pesan orang tua. Saat menari, ada yang menari di tempat dan ada yang ditarikan sambil jalan, “ pungkasnya. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC Pudjiachirusanto

Ketika Ruh Menyatu dengan Leluhur

Next Story »

Memindahkan Roh Halus di Kebun Baru

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *