Foka Roma, Bertahan di Tengah Gempuran Musik Pop

Di tengah kepungan alat musik elektronik seperti organ tunggal, Sanggar Foka Roma yang berkukuh menggunakan alat musik tradisi, mempu bertahan meski harus mengamen dari kampung ke kampung

ALUNAN musik tradisional seperti suling, gendang, gong, gambus dan semacamnya memang kalah aksi di atas panggung dibandingkan musik elektronik. Membiasnya musik pop, reggae, hip-hop, dangdut dan lagu lagu yang dihasilkan oleh alat musik modern lainnya telah begitu merakyat di telinga pendengar. Dalam waktu sekejap produk musik-musik terbaru akan cepat laku di pasaran, musik tradisional kalah jauh.

Namun sekalipun tidak laku di arena pasar, lemah dari sisi bisnis dan keuntungan, khazanah musik tradisional justru menjadi bagian penting dalam sebuah agenda ritual adat, ia menjadi syarat mutlak perlu dalam mengiringi ritus-ritus mistis magis dan kultis serta religius bila upacara-upacara adat tiba.

Secanggih apa pun alat musik modern tidak mungkin menggantikan gong, gendang dan suling bila berhadapan dengan acara seremonial adat dan budaya. Bahkan kerinduan untuk mendengar musik yang terbuat dari alat-alat tradisional ini menjadi semacam undangan paten bagi orang-orang tua di kala ada pesta religius bagi anak-anaknya. Acara nikah, sambut baru atau upacara religuius, acara kenegaraan belum terasa lengkap bila belum disentuh oleh dentunan musik-musik tradisional ini.

Satu kisah menarik tentang musik ini datang dari gelanggang seni Sanggar Foka Roma.  Begitu kental dan sarat makna  syair-sayir lagu yang diiringinya, lantunan kata-kata yang  menukik sukma pendengar  dan simponi musik yang menyentuh jiwa penikmat tak heran dari kampung ke kampung barisan sanggar musik yang seluruhnya kaum adam ini pasti akan tampil dalam berbagai acara religius, adat  budaya, bahkan acara kenegaraan.

Sanggar Musik Foma Roma saat mengiringi acara adat maupun keagamaan di kampung-kampung. Foto: FBC/Nando Watu

Sanggar Musik Foma Roma saat mengiringi acara adat maupun keagamaan di kampung-kampung. Foto: FBC/Nando Watu

“Kami selalu tampil dalam berbagai acara baik di kampung –kampung maupun di minta tampil  ke kota, biasanya acara seperti sambut baru, atau acara nikah, bahkan acara pemerintah mereka biasa mengundang kami untuk bawakan acara di sana,” tutur Ketua Sanggar Foka Roma Petrus Jobo (76) di sela-sela acara pernikahan di Waepare, Maumere, beberapa waktu lalu.

Suling & Gendang

Alat musik yang mengiringi tidak seberapa banyak, paling banter musik suling yang dimainkan oleh kurang lebih 15 orang lalu dua orag lainnya mendampingi suling dengan gendang. Bila acara nikah dan komuni tiba, Sanggar Musik Foka Roma ini menjadi langganan tetap dari berbagai sudut daerah seputaran Kabupaten Sikka pasti mengundang mereka, bahkan hingga ke dataran Kabupaten Ende.

“Kami sudah beberapa kali pentas di Kabupaten Sikka, seperti kali ini mengiringi musik untuk nikah, bahkan kami sudah sampai di Magepanda, Waturia, Nita bahkan manggung  dibeberapa daerah di Kabupten Ende seperti di Watuneso bahkan sampai ke Wolowaru untuk mengiringi  acara sesuai yang  tuan pesta minta,” jelas Petrus dengan semangat.

Sanggar Foka Roma yang beranggotakan oleh orang-orang tua dari  Desa Loke, Kecamatan Tana Wawo, Kabupten Sikka ini, umumnya dimainkan oleh kaum pria yang sudah berumur di atas setengah abad. Keterampilan mereka dalam memainkan alat musik suling dengan pembagian nada yang tepat dan akurat sembari dibarengi dengan pukulan gendang yang seirama membuat keserasian melodi lagu begitu menyentuh pendengar. Tak ada yang menjadi pengajar, mereka sendiri yang menjadi guru bagi dirinya, syair-syair lagu pun dihasilkan sendiri di antara pemain itu, alat musik pun demikian, dibuat sendiri.

Musik yang dimainkan Sangar Foma Roma didominasi suara suling dan gendang. Foto: FBC/Nando Watu

Musik yang dimainkan Sangar Foma Roma didominasi suara suling dan gendang. Foto: FBC/Nando Watu

“Kami membuat alat musik ini sendiri, begitu juga dengan syair syair lagunya. Biasanya kalau yang mengundang kami  disampaikan satu minggu sebelumnya, kami biasa langsung menyusun lagu dan syairnya sesuai permintaan. Bila permintaan soal acara nikah atau sambut baru, lagu-lagu yang akan kami tampilkan juga sehubungan dengan acara itu. Sama halnya dengan acara kenegaraan. Kalau masih ada waktu, kami akan memainkan lagu-lagu biasa,” tutur Andreas Nggre salah satu pencipta lagu dan pelatih bagi Sanggar Foka Roma ini.

Andreas yang juga peniup suling ini mengungkapkan bahwa seluruh kampung di dataran Sikka sudah dimasukinya. Pengalaman dalam mengiringi acara nikah dan sambut baru juga acara di gereja sudah menjadi hal yang biasa.

Kolaborasi antara acara religus-keagamaan dengan musik tradisional-budaya sudah menjadi hal yang lumrah di Flores. Penampilan musik dalam pentas upacara keagamaan menunjukan suksesnya inkulturasi nilai-nilai Kristiani di atas ladang kebudayaan manusia Flores. Musik juga menjadi sumbangan untuk kekayaan khazanah keagamaan. (*)

Penulis: Nando Watu

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Jalan Gerabah Perempuan Wuu

Next Story »

Populerkan Gambus di Tanah Lamaholot

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *