Dua Wajah Pantai Koka

pantai-koka-01

Bukit di sebelah Timur dengan bongakahan batu membentuk pulau kecil. (Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Pantai berpasir putih pada dua sisi pantai, Selatan dan Barat menjadikan Pantai Koka berbeda dengan pantai lainnya. Belum banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai ini. Mengapa?

Gugusan batu karang dan pulau cadas di sampingnya serta pulau mungil Nusa Koka di seberangnya, membuat unik pantai ini. Pantai Koka tidak pernah kehilangan pesona dan daya pikat. Ibarat gadis yang tak pernah bersolek, dibiarkan alami di tengah gemerlap ikon pariwisata. Sudah saatnya Pantai Koka berdandan menyongsong tetamu yang datang bersua menikmati kecantikannya.

Pantai Koka, tentu banyak wisatawan yang belum mengenalnya. Pantai yang berlokasi di Desa Wolowiro, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka ini, dalam sebuah majalah pariwisata dianggap sebagai salah satu pantai terbaik di dunia oleh seorang turis asal Spanyol. Berjarak sekitar 1,5 kilometer sebelah Selatan jalan Trans Flores, Pantai Koka berada 40 kilometer arah Barat kota Maumare. Pantai berpasir putih ini dapat ditempuh selama satu jam perjalanan dari ibukota Kabupaten Sikka itu dengan menggunakan bus atau travel dengan biaya Rp 50 ribu.Selain itu, bila ingin menikmati pemandangan selama perjalanan, moda tarnsportasi sepeda motor (ojek) bisa menjadi salah satu pilihan seraya merogoh kocek Rp 100 ribu.

Pertama kali bersua dengan Pantai Koka, saat digelar Festival Pantai Koka membuat saya terpana. Kekaguman ini terpuaskan saat kembali mencumbuinya pekan pertama Tahun Baru lalu. Para pengunjung terlihat asyik berenang dan berjemur di pesisir pantai sisi Selatan dan Utara. Beberapa pengunjung terlihat berjalan melintasi bebatuan cadas di sisi Barat dekat bukit batu. Hampir semua pengunjung berpose ria, mengabadikannya lewat handphone.

Semenjak setahun belakangan, tutur Raymundus Heko, yang saya jumpai, setiap akhir pekan Pantai Koka selalu ramai disambangi oleh wisatawan lokal maupun manca negara. Bahkan setiap hari pun, sebut guru SDI Mauloo, Desa Mbengu, Kecamatan Paga ini, Pantai Koka tak pernah sepi dari pengunjung. Begitu kita menginjakan kaki di tempat ini, kita dibuat terpesona dengan pemandangan laut yang bersih, airnya yang jernih, pasir putih lembut membentang membentuk tembereng. Kiri dan kanan pantai berjejer tebing-tebing karang terlihat artistik.

Dua Sisi Pantai
Pantai Koka menurut penuturan Geradus Gedo (65) tetua asal Wolowiro yang saya temui saat digelar Festival Pantai Koka, dinamai berdasarkan suara burung yang berbunyi koak yang dahulu banyak terdapat di pantai ini. Suara burung yang melengking dan mengeluarkan kata koak lantas membuat beberapa penduduk sekitar menamai pantai ini dengan sebutan koka.

Keunikan Pantai Koka terlihat dari adanya dua sisi pantai berpasir putih. Di sebelah Barat bentangan pasir putihnya sepanjang sekitar 100 meter sementara di Selatan 200 meter. Pantai di Selatan terlihat berbentuk cekung dan menjorok ke dalam sejauh 100 meter. Sementara sisi Baratnya berbentuk sama cuma menjorok ke dalam hanya sejauh 50 meter. Dari kejauhan di kedua pantai, air laut membuat bentuk elips sehingga terlihat sungguh mempesona.

Feriana seorang guru dari Wairpleit, Desa Takaplager, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka mengaku sangat mengangumi keindahan pantai ini. Meski baru pertama mengunjungi pantai ini, dirinya merasa bahwa tidak salah jika Pantai Koka termasuk salah satu pantai yang terindah di Flores bahkan bisa dikatakan di Indonesia.

Bukit Batu
Selain memiliki dua garis pantai, bukit-bukit batu yang mengapit kedua pantai ikut menjadikan Pantai Koka semakin indah. Selepas jalan tanah, di sebelah kanan terdapat sebuah bukit gersang seakan membatasi kedua sisi pantai ini. Bukit gersang yang hanya ditumbuhi beberapa pohon lamtoro dan selebihnya dipenuhi rerumputan.Gerusan ombak menjadikan sisi bukit terlihat indah dengan lubang-lubang yang terselip di celah batu berwarna putih kecoklatan.

Di bawah tebing batu yang agak menjorok ke dalam terdapat sebuah kuburan keramik persis di bawah sekumpulan pohon beringin. Kumpulan pepohonan ini menjadikan kuburan ini teduh, terhindar dari teriknya mentari. Beberapa penduduk kampung yang saya tanyai perihal kuburan ini tidak bisa memberikan jawaban pasti dan seolah tidak mengetahuinya. Ada yang mengatakan makam tersebut merupakan makam salah seorang raja. Yang lainnya menyebutkan, makam tersebut merupakan makam seorang nelayan penduduk kampung di situ yang meninggal di pantai tersebut.

Sisi bukit pembatas kedua pantai ini dikelilingi lempengan batu karang cadas berwarna kehitaman. Saat air laut surut, gugusan bebatuan tajam ini terlihat jelas.Tebing batu sebelah kanan bernama Watu Jara seperti dituturkan beberapa penjual di Pantai Koka katanya sering meminta korban. Jika dilihat, memang tempat ini sangat strategis untuk berpose dengan latar belakang Pulau Nusa Koka.

Penasaran, saya pun mencoba berpose di tempat ini. Baru empat kali mengambil gambar, ombak yang menghantam tebing batu cadas tempat berpijak kian keras menerjang. Percikan airnya membasahi badan dan bertambah tinggi seakan gulungannya hendak menyeret tubuh saya jatuh ke laut sisi Selatan. Tak ingin celaka, saya terpaksa bergegas menjauh. Anehnya, beberapa saat kemudian ombak yang menghantam tebing kian mengecil dan berhenti.

Perlu Ditata
Drs Paolus Nong Susar, Wakil Bupati Sikka kepada saya mengatakan, Pemkab Sikka berkeinginan menjadikan Pantai Koka sebagai salah satu destinasi wisata. Pantai Koka perlu banyak pembenahan, dari aspek tata ruang serta sarana prasarana seperti MCK pun perlu dibangun lagi. Hal serupa juga disampaikan Kadis Pariwisata Kabupaten Sikka, Wilhelmus Sirilus, SSos,Msi. Menurut Sirilus, warga sekitar lokasi Pantai Koka perlu bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan tempat wisata ini. “Warga harus bersedia merelakan tanahnya untuk dibeli pemerintah. Kami sangat kesulitan menata pantai ini karena masyarakat belum merelakan tanahnya. Pembangunan jalan pun mengalami kendala. Bahkan pemasangan papan nama saja kami mengalami kesulitan karena banyaknya warga yang mengklaim tanah yang akan dipergunakan merupakan hak milik mereka, “ terang Sirilus. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Ketika Daratan Lembata Menyusut Setiap Tahun

Next Story »

Antara Ruang Publik dan Lahan Komersial

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *