Dr Maria Geong

Pejuang Pemberantas Rabies

Drh Maria Geong Phd

Drh Maria Geong Phd

Kebiasaan masyarakat Flores memelihara dan mengonsumsi daging anjing, membuat rabies menjadi momok masyarakat. Sejak 1997, sudah 256 orang tewas akibat rabies.

BICARA perihal rabies, tentu tak lengkap bila sosok Maria Geong tidak disertakan. Perempuan kelahiran Ruteng (Manggarai) 21 November 1957 ini, prihatin melihat begitu banyak warga Flores tewas karena digigit anjing peliharaan mereka. Dia lantas tergerak bergabung di Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL).

Maria yang menjabat sebagai penasihat di KRFL sejak tahun 2011 ini mengatakan, dirinya tertarik bergabung di komite ini didorong oleh banyak hal. Semuanya itu, sebut Maria, tentunya bertolak dari pengamatan dirinya melihat banyak pihak di luar pemerintah sangat aktif dalam pemberantasan rabies di Flores.

Mereka semua, tambah Maria, tidak terakomodasi dalam tim pemberantasan rabies sehingga dirinya menyambut baik usul dan saran mereka agar ditampung di komite rabies. Secara pribadi Maria merasa terpanggil untuk ikut terlibat dalam upaya pemberantasan rabies. ‘’Sangat tidak manusiawi  membiarkan sesama saudara mati sia-sia akibat virus rabies,’’ katanya beberapa waktu lalu kepada FBC di Maumere.

Dikatakan Maria, pengurus KRFL terdiri dari gubernur, para bupati seluruh Flores dan Lembata, serta para uskup se-daratan Flores. “ Pemerintah perlu membantu komite, khususnya dalam hal finansial. Dan memberi tempat bagi elemen masyarakat, agar mereka bisa ambil bagian. Sejauh ini pemerintah belum mengalokasikan dana khusus untuk operasional kegiatan komite, “ bebernya.

Maria menilai, upaya pemerintah dalam pemberantasan rabies salah langkah karena melakukan eliminasi total terhadap hewan penyebab rabies, terutama anjing. Alumnus  Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun 1985 ini menyesalkan sikap pemerintah yang tidak menjadikan vaksinasi terhadap hewan menjadi pilihan utama.

Rabies pada hewan dan manusia, menurutnya, berakibat fatal manakala gejala syaraf mulai muncul. Sementara berita yang menggembirakan, penyakit rabies mudah dicegah dengan vaksinasi. ‘’Vaksinasi adalah tindakan paling penting dalam tata kelola kesehatan hewan peliharaan, dan merupakan satu-satunya upaya paling penting untuk pencegahan,’’urainya.

Upaya pencegahan dengan vaksinasi, lanjut dia, bertujuan untuk melindungi diri, hewan peliharaan, dan masyarakat sekitar. Vaksinasi pada semua anjing peliharaan, sangat penting untuk memutus mata rantai infeksi virus rabies pada hewan dan manusia. Jika anjing menggigit, katanya lagi, luka gigitan harus dicuci dengan sabun (detergen) selama 15 menit di bawah air mengalir.

‘’Korban gigitan harus segera dilaporkan ke dokter atau puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis. Jika anjing peliharaan menggigit seseorang, pemilik atau korban harus segera melapor ke dokter hewan,’’saran dia.

Komitmen Bersama
Menurut Maria, vaksinasi rabies di Pulau Flores dan Lembata memerlukan komitmen bersama lintas wilayah tertular sehingga program vaksinasi terjadwal secara konsisten setiap tahun. Sesungguhnya keberhasilan pengendalian rabies, harus dimulai dari pemilik anjing itu sendiri yakni dengan memvaksin anjing peliharaannya.

“Semakin banyak hewan yang divaksinasi tentu makin sedikit yang terkena rabies dan meninggal. Penanganan kita terbalik, begitu banyak dana yang dialokasikan untuk menangani pasien, sementara vaksinasi hewannya tersendat-sendat, “ sesalnya.

Menurut World Health Organization (WHO) atau badan kesehatan dunia seperti disitir Maria mengatakan, efektivitas penanganan rabies tergantung vaksinasi pada hewan penular rabies. ‘’Kenapa kita tidak berkomitmen menangani rabies pada hewan,’’tanya dia. Pemikiran seperti ini, katanya lagi, sudah diserukan berulang-ulang, termasuk dalam konferensi global rabies di Seoul, Korea Selatan tahun 2011 lalu.

Sejak tahun 1997, urai Maria, sekitar 256 orang warga Flores dan Lembata meninggal dunia akibat rabies dan lebih dari 40 ribu orang digigit anjing. Untuk mengatasi hal ini, papar Maria, ada dua vaksin yang digunakan yakni vaksin untuk manusia dan hewan.

“Kalau kita mengalokasikan anggaran khusus untuk beli vaksin dan biaya untuk petugas vaksinasi di atas 80 persen angka kematian pada manusia menurun. Ini betolak dari pengalaman yang saya alami, “ ungkap doktor lulusan School of Veterinary and Biomedical Sciences, Murdoch University, Perth, Australia tahun 2000 ini lagi.

Harga satu dosis vaksin untuk hewan, katanya lagi, berkisar Rp 10 ribu sementara vaksinasi untuk manusia membutuhkan nilai hampir Rp 1 juta. Maria merasa perjuangan untuk memerangi penyakit rabies di daratan Flores dan Lembata belum maksimal. Ia terus menerus meminta perhatian seluruh aparat pemerintah daerah di Flores, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan LSM serta para relawan pejuang rabies untuk menyatukan tekad dan keseriusan supaya tidak ada lagi virus rabies menyebar dan menelan korban jiwa.

“Kendala kita sekarang adalah sosialisasi, komunikasi, iformasi dan edukasi kepada masyarakat. Karena petugas kita terbatas maka kita menggandeng gereja, agar sosialisasi dilakukan melalui gereja dan jauh lebih efektif,“ bebernya.

Hal terpenting terkait rabies adalah membangun kesadaran masyarakat. Membangun kesadaran masyarakat, tutur Maria, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Karena masalah ini sangat kompleks dan membutuhkan waktu serta pendekatan yang komprehensif. Rabies, menurutnya, merupakan penyakit berbasis lingkungan sehingga harus masyarakat sendiri yang mengambil peran.

Ketika ditanya apakah pemerintah daerah tidak mengalokasikan dana untuk itu, Maria menjelaskan, karena factor itulah dia dan beberapa koleganya menggagas KRFL, sehingga tidak ada pemikiran di pihak pemerintah atau yang mengatur keuangan bahwa ada ego sektoral dalam penanganan rabies ini.

“Bila ada pengusulan anggaran, tidak ada pemikiran di pihak pemerintah terkait adanya kepentingan tertentu. Sehingga ada orang lain yang menyerukan agar pemerintah lebih obyektif mengalokasikan anggaran. Kalau ada rabies di Lewoleba, orang akan menyebutnya Flores sehingga turis di Labuan Bajo juga ketakutan,“ tutur penerima penghargaan sebagai Tokoh Pejuang Pemberantasan Rabies oleh Kementerian Kesehatan tahun 2012 ini. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Next Story »

Semoga Ada Pertobatan Raya di Negeri Ini

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *