‘Dona Ines’ Merajut Masa Depan Tenun Sikka

tenun-sikka

Maria Dua Eda da Gomes anggota kelompok Dona Ines sedang mengikat motif (pete perung). ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Selain demi melestarikan warisan budaya leluhur, membuat tenun ikat yang diwarikan turun-temurun bisa menafkahi hidup. Sekelompok perempuan Sikka yang berhimpun dalam ‘Dona Ines’ mengenalkan Sikka kepada wisatawan lewat selembar tenun ikat

MENENUN bagi kaum perempuan di Kabupaten Sikka merupakan keterampilan yang wajib dimiliki. Tak heran, hampir semua pelosok desa di Kabupaten Sikka, kegiatan menenun dengan mudah kita temui. Menenun dilakukan baik secara perorangan di rumah-rumah maupun secara berkelompok. Di kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, aktivitas menenun juga masih kita jumpai di rumah-rumah penduduk.

Kain tenun, bagi masyarakat Sikka wajib dibawa saat ada kematian maupun perkawinan. Anggota keluarga yang berduka, datang ke rumah duka selalu membawanya untuk diberikan kepada keluarga yang sedang berduka. Saat perkawinan pun, kain tenun diberikan kepada keluarga pengantin perempuan kepada keluarga pengantin laki-laki saat antar belis (mahar perkawinan ).

Menenun pun bisa dilakukan untuk mencari nafkah. Kain tenun dijual kepada wisatawan maupun kepada warga masyarakat Sikka yang membutuhkan. Sadar akan potensi ini, kelompok perempuan ‘Dona Ines’ di Desa Sikka bergabung dan bersatu menjual kain tenun dan aksesoris dari kerang yang diproduksinya.

“Kami ada lima kelompok perempuan di desa ini yang sudah terbentuk sejak tahun 2012. Kami awalnya berjualan sendiri-sendiri namun akhirnya kami semua sepakat bergabung menjadi sebuah kelompok besar dan setiap hari berjualan di samping Gereja Tua Sikka, “ ujar Margaretha Alexa (42) kepada FBC, baru-baru ini.

Dikatakan Alexa, awalnya mereka berjualan kain tenun sendiri-sendiri. Saat ada kunjungan wisatawan, ujarnya, mereka berlarian mengejar para wisatawan guna menawarkan kain tenun mereka. Ketidakteraturan ini membuat banyak wisatawan yang tidak merasa nyaman dan urung membelinya. Bila tidak ada kelompok, mereka juga sulit mendapatkan bantuan. Kejadian inilah yang membuat 50 orang sepakat membentuk 5 kelompok dan bergabung dalam sebuah kelompok besar.

Tergantung Wisatawan
Saat disambangi FBC pagi itu, kelompok ini sedang menunggu pembeli. Sepinya tamu saat itu membuat kelompok dua yang mendapat kebagian jatah menjual, sudah dua belas hari tak ada selembar kain tenun yang dijual. Meski begitu, para ibu-ibu ini terlihat tetap semangat.

Lokasi tempat menggelar dagangan dan memamerkan proses menenun tidak terlalu luas. Berada persis di sebelah Selatan, di bawah tangga masuk halaman Gereja Tua Sikka dan berdampingan dengan makam Raja Sikka. Lahan seluas100 meter persegi ini dijadikan pangkalan rutin mengais rejeki dari wisatawan yang mengunjungi Gereja Tua dan Lepo Gete (Istana Raja)

Rineldis Epifania (59) Ketua Kelompok Dona Ines menuturkan, di Desa Sikka sebenarnya ada 15 kelompok tenun. Lima kelompok, sebut Epifania, terbentuk tahun 2012 sementara 10 kelompok lainnya terbentuk tahun 2013. Kelima kelompok yang tergabung dalam kelompok ‘Dona Ines’ rutin menempati lokasi di sekitar Lepo Gete sedangkan 10 kelompok lainnya tidak.

Masing-masing kelompok beranggotakan 10 orang. Kelima kelompok tersebut juga dinamai sesuai motif kain tenun yang jadi andalan kelompok tersebut. Kelompok satu bernama Mawarani yang diketuai Maria Anselmia sedangkan kelompok dua bernama Manuagi yang diketuai Maria Dua Eda da Gomes. Kelompok tiga dinamakan Medan Wedeng Werang yang diketuai Edoksia Sima, kelompok empat Nape Wungung diketuai Maria Rosari dan kelompok terakhir dengan ketua Putri Finansi bernama Naga Lalang.

“Biasanya setiap kelompok dibagi setiap hari memamerkan kain tenunnya, tapi kalau belum ada yang terjual berarti kelompok tersebut tetap memamerkan kain tenun sampai ada yang beli.Ini sudah jadi kesepakatan bersama seluruh anggota dalam pertemuan,“ kata Epifania.

Semua kelompok, jelas Epifania, menempati lokasi di sekitar Lepo Gete Hasil penjualan disisihkan juga untuk uang kas kelompok. Wisatawan ramai berkunjung saat seminggu jelang Paskah dan juga di bulan Juni hingga Oktober. Selepas itu, ungkap Epifania, jarang sekali ada kunjungan wisatawan. Saat turun hujan, kain tenun dipajang di kolong rumah panggung Lepo Gete dan para perempuan anggota kelompok berteduh di atas terasnya.

“ Tidak semua yang berkunjung ke Gereja Tua dan Lepo Gete membeli kain tenun (sarung) yang kami jual. Biasanya usai mengunjungi gereja tua, kami tawarkan mereka guna melihat kain tenun kami. Siapa tahu mereka bisa membelinya. Tapi semua itu tergantung wisatawan, “ ucapnya.

Kain-kain tenun terlihat dipajang dengan meletakannya pada bambu-bambu pagar yang ada di sekeling tempat tersebut. Ada juga yang ditaruh di meja. Setiap sudut dipasang tiga tingkat bambu panjang sehingga memudahkan kain-kain tenun tersebut diletakan di sana.

Memamerkan Proses
Kelompok ini tidak sekedar menjual tenun. Mereka juga menawarkan pertunjukan proses menenun kain. Biasanya kegiatan ini sering diminta para wisatawan untuk bisa mengetahui secara jelas proses terjadinya selembar kain tenun. Tarif yang dikenakan untuk memperlihatkan proses ini dikutip sebesar Rp100 ribu.

Pohon kapas yang ada di sekitar tempat tersebut terlihat berbuah dan beberapa buahnya mulai mengering. Dijelaskan Alexa, juru bicara kelompok, kapas yang sudah kering diambil dan bijinya dikeluarkan memakai alat tradisional yang disebut Ngeung. Agneta Agnes (63) terlihat sedang memasukan kapas ke dalam celah di antara dua kayu bulat sementara tangan satunya memutar pegangan di samping alat tersebut.

Ngeung berfungsi untuk memisahkan biji kapas. Satu alat punya dua fungsi di mana kapas yang sudah dibersihkan akan keluar di bagian depan sementara yang ada bijinya akan keluar di belakang, “ jelas Alexa.

Kapas pun dihaluskan. Dua perempuan dengan batang kayu bulat sepanjang sekitar 1 meter dan diameter 2 sentimeter terlihat memukulkan kapas yang diletakan di atas tikar (tutu). Di bawah tikar ditaruh tumpukan daun pisang kering sehingga saat dipukul tikar akan membal. Dipukul oleh dua orang, jelas Alexa, supaya kapas bisa rata dan halus hingga ke ujungnya.

Setelah itu kapas dibentuk bulatan panjang memakai lidi atau kayu dengan maksud supaya dapat dipintal dan jadi benang larinya satu arah saja (ogo). Hasil gulungan satu persatu mulai diuraikan jadi benang, memakai alat pintal (jata kapa). Setelah perentangan benang, urai Alexa, proses pembuatan kain tenun dilanjutkan dengan membuat pola atau motif gambar. Setiap ibu-ibu di kelompok ini, terangnya, mempunyai buku pegangan masing-masing. Sehingga jika hendak mengikat motif mereka akan mengikuti contoh di dalam buku tersebut.

“Ikat pakai tali daun gebang (tebuk ) supaya saat dicelup motifnya tetap dalam ikatan. Yang tidak diikat bagian luar yang akan dikasih warna, dimana kalau dibuka bagian yang diikat akan terbentuk pola atau gambar. Ikat pakai daung gebang supaya tidak licin dan bergeser. Prosesnya butuh waktu sekitar dua minggu, “ urainya.

Selanjutnya benang tersebut diberi pewarna dengan dicelupkan ke dalam tembikar yang sudah diberi pewarna alami. Proses warna merah, beber Alexa, berasal dari akar pohon mengkudu yang dihaluskan dan dicampur air soda dari abu kayu bakar (kayu asam atau kayu kesambi). Adonan lantas diaduk merata bersama daun lobak. Benang putih pun dicelupkan ke dalamnya. Prosesnya bertahap. Satu bulan dikasih warna setelah itu disimpan, dikasih warna dan disimpan lagi dan dilakukan terus menerus. Butuh waktu sampai tiga tahun hingga dasar warna merah sampai berubah jadi coklat, baru dibuka ikatan motif dan diluruskan atau dirapikan dalam alat pemidang yang disebut daong.

“Proses pembuatan warnanya butuh waktu lama karena pemberian warna secara bertahap dan disimpan supaya warnanya semakin lama semakin melekat. Daun nila direndam di tembikar dicampur air dingin dan kapur sirih untuk kasih warna biru. Prosesnya sama seperti warna coklat tadi hingga sampai warna biru berubah jadi warna hitam. Proses pemberian warna alami lama, dicuci juga tidak luntur,“ paparnya.

Sesudahnya benang diikat satu persatu (sipe), supaya kalau ditenun motifnya dalam satu posisi, tidak lari kiri kanan atau bengkok dan sudah menyatu. Sipe, lanjut Alexa, bisa dilakukan selama dua hari. Setelahnya benang tersebut ditenun. Ada banyak proses menenun yang lebih rinci, ungkapnya, namun yang ditampilkan disini merupakan proses menenun secara umum saja.

Motif Tradisional
Setiap kelompok di ‘Dona Ines’ menghasilkan sarung motif khusus untuk dijual. Setiap motif sarung memiliki arti tradisi budaya. Terdapat 38 motif yang dikembangkan di kelompok ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 23 motif merupakan motif tradisional yang diwariskan turun temurun sementara sisanya merupakan motif modern hasil kreasi kelompok.

Motif tradisional seperti diungkapkan Epifania selaku ketua kelompok terdiri atas Mawarani, Manuagi, Nagalalang, Nape Wungung, Oko Kirek, Rembing dan Moko. Selain itu juga terdapat motif Medan Wedeng Werang, Jarang Ata Biang, Selepa, Dama, Kapa Wuang, Kelang Kobar, Medan Taling, Medan Turang, Geda Ata Wuang dan Pote Sere. Sementara motif modern di antaranya Bunga, Laba – Laba, Puto, dan lainnya.

Dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Sikka dan membeli kain tenun hasil produksi mereka, sebut Epifania, wisatawan asing lebih menyukai kain tenun pewarna alami yang lebih gelap sementara wisatawan dari Jawa lebih menyukai warna cerah.

“Kami selalu kasih tahu ke wisatawan, kalau pewarna kimia warnanya cerah, kalau pewarna alami warnanya agak buram. Ada benang kapas dan benang pabrik juga. Kalau pakai kapas prosesnya agak lama, “ katanya.

Untuk selembar kain tenun pewarna alami memakai kapas sepanjang 1,5 meter dan lebar 40 sentimeter dilepas dengan harga Rp 2 juta. Sementara memakai benang pabrik dan menggunakan pewarna alami dijual seharga Rp 1,5 juta. Jika memakai benang pabrik dan pewarna kimia, selembar kain tenun dilego dengan harga Rp 300 ribu. Kelompok ini juga menerima pesanan kain dalam jumlah banyak.

Pemasaran dan modal jadi alasan klasik yang menyebabkan kelompok ini ibarat pepatah “ hidup enggan mati tak mau ”. Tahun 2012 berdiri, ungkap Maria Dua Eda da Gomes ketua kelompok Manuagi, saat ditanyai FBC, kelompok Dona Ines mendapat bantuan dari Dinas Pariwisata Sikka sebesar Rp 75 juta. Tiap kelompok, sebut Dua Eda, mendapat Rp 4 juta. Tahap kedua lanjutnya, kembali mendapat dana Rp 100 juta yang disalurkan lewat desa tapi tidak jelas pembagian dananya. Kelompok Dona Ines pun, kata Dua Eda, hanya memasarkan kain tenun di samping Gereja Tua Sikka dan Lepo Gete saja.

“Kami belum pernah jual ke tempat lain tapi kalau di dalam keluarga anggota kelompok yang butuh mereka bisa beli. Kami butuh modal sebagai penguat untuk mengembangkan kelompok tenun ikat, “ pungkasnya.

Selain kain tenun, kelompok tersebut juga membuat aksesoris dari kerang seperti gelang, kalung, anting dan rosario. Kerang-kerang tersebut dipilih di pesisir Pantai Desa Sikka. Harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu untuk sebuah rosario. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Uwi Ai Nuabosi, Makanan Lokal Khas Ende

Next Story »

Ketika Ruh Menyatu dengan Leluhur

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *