AKBP Muhammad Slamet

Doa dan Berkat Uskup Menguatkan

Berkat doa dari Bapak Uskup, AKBP Muhammad Slamet berhasil mengungkap kasus pembunuhan pastor yang pelik. Bagaimana kisahya?

MASYARAKAT Flores khususnya dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada umumnya tentu masih mengingat betul kasus tewasnya Romo Faustin Sega, Pr seorang  pastor yang bertugas di Paroki Maunor, Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo yang sempat memicu kontroversi. Kasus ini sungguh menyita  perhatian berbagai pihak namun akhirnya kebenaran itupun muncul untuk mengatakan apa yang sebenarnya.

Jenazah Romo Faustin ditemukan di padang rumput Denah Biko, Kelurahan Olakile, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Pastor yang sangat diagungkan umat Katolik sebagai gembala umat itu terkapar tak bernyawa saat ditemukan pada Senin 13 Oktober 2008 silam.

Penemuan mayat pastor muda kelahiran Mauloo, Maumere, Kabupaten Sikka pada 15 Februari 1974 ini, sontak menjadi perbicangan. Keluarga di Maumere bersama pihak Gereja Katolik mendesak agar kasus ini segera diselesaikan dengan baik. Karena dugaan kuat, Faustin sang gembala itu meninggal secara tidak wajar karena selama ini dia tidak pernah mengeluh sedikit pun tentang kesehatannya.

Pihak kepolisian Polres Ngada yang saat itu dipimpin Kapolres Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Erdi Swahariyadi bekerja keras dan menyimpulkan kalau Romo Faustin meninggal secara wajar karena serangan jantung. Kesimpulan penyidik Polres Ngada itu tidak diterima keluarga dan pihak Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende.

AKBP Muhammad Selamet. (Foto: FBC/Bone Pukan)

AKBP Muhammad Slamet. (Foto: FBC/Bone Pukan)

Kapolda NTT saat itu, Brigjen Pol Bambang Soedi turun langsung ke Ngada dan melakuan supervise perkara. Kapolda berkesimpulan, tewasnya Romo Faustin itu bukan kematian yang wajar tetapi tidak wajar. Karena itu kapolda memerintahkan AKBP Muhammad Slamet yang saat itu menjabat sebagai Kasat Tipikor pada Ditreskril Polda NTT untuk memimpin tim melakukan penanganan kasus itu.

Slamet kelahiran Yogyakarta tahun l965 ini tanpa komentar langsung turun ke Flores. Atas nasihat istrinya, Reni Fernawati jika sebelum memulai tugas itu dia harus bertemu Uskup Agung Ende untuk meminta doa dan berkat sebelum memulai tugas ini.

“Saran dan nasihat istri saya laksanakan. Tim lainnya lebih dulu ke lapangan sementara saya harus datang ke Istana Keuskuan Agung Ende di Ndona untuk meminta doa dan berkat agar bisa menyelesaikan tugas berat mengusut tuntas kasus kematian pastor ini,” kata Slamet ketika berbincang dengan saya di ruang kerjanya selaku Direktur Reserse dan Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda NTT, baru-baru ini.

Slamet mengakui, usai meminta saran dan pendapat Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi, uskup kemudian membawanya  ke ruang doa pribadi Uskup dan di sana dia didoakan kemudian diberkati dengan pesan khusus: “Laksanakan tugas secara profesional dan ungkapkan kebenaran dalam peristiwa tewasnya Gembala Umat ini”.

Pesan uskup ini bagi Slamet menjadi semacam kekuatan maha dahsyat untuk segera mengungkapkan kasus ini. Ayah tiga orang anak, dua putri satu putra ini memulai tugasnya dengan penuh keberanian. Kegiatannya bersama tim di lapangan akhirnya harus “melawan” kesimpulan tim penyidik  Polres Ngada yang mengatakan Faustin meninggal secara wajar karena serangan jantung.

Karena Dendam
Kerja keras Slamet, cs mengungkapkan kalau Romo Faustin tewas dibunuh dengan motif balas dendam yang dilakukan oleh Rogasianus Wajah alias Anus dan Teresia Tawa. Anus dendam kepada Romo Faustin saat mengikuti kursus persiapan perkawinan di mana saat itu Romo Faustin meminta Anus untuk mendoakan doa Bapa Kami, namun Anus tidak bisa mendoakan doa itu. Kemudian Romo mengatakan, orang mau nikah tapi belum tahu doa. Kata-kata inilah yang memicu ketersinggunggan dan kemarahan Anus untuk mengakhiri nyawa Faustin.

Slamet yang kemudian diangkat menjadi Kapolres Ngada sejak Oktober 2009 hingga November 20ll semakin berani menyelesaikan kasus ini. Berbagai upaya dilakukan hingga terakhir mengantar kedua pelaku utama itu ke meja pesakitan di Pengadilan Negeri Bajawa. Sidang digelar secara maraton yang digelar di PN Bajawa mulai April 20l0 ini akhirnya memmvonis kedua pelaku itu dengan hukuman penjara seumur hidup.

Kedua terpidana kemudian melakukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Kupang dan hasilnya sangat mengejutkan. Keduanya dinyatakan tidak bersalah sehingga harus dibebaskan. Jaksa Penutut Umum (JPU) tidak menerima keputusan PT Kupang itu dan akhirnya mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Keputusan MA akhirnya memenjarakan keduanya selama 10 tahun.

Kasus kematian Romo Faustin yang penuh tantangan ini diakui Selamet sebagai sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Dia harus berani melawan hasil penyelidikan dan penyidikan institusinya sendiri yakni Polres Ngada.

“Bagi saya, doa dan berkat Bapak Uskup itu lah yang mengantar saya untuk menjalankan tugas ini dengan baik. Setelah kasus ini menjadi terang benderang, saya kembali ke Istana Keuskupan untuk melaporkannya. Demikian juga ketika saya dipercaya menjadi Kapolres Ngada, saya juga datang dan minta doa serta berkat Bapak Uskup,” pungkas Slamet. (*)

Penulis: Bonne Pukan
Editor: EC. Pudjiachirusanto

“Saya Diadili Media Massa”

Next Story »

Yulius Paru, Gagal Jadi PNS Sukses Sebagai Nelayan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *