*Menelisik 'Ayam Kampus' di Kupang

Demi Nilai Tubuh pun Digadai

Kisah operasi tangkap tangan KPK terhadap Ahmad Fathanah bersama mahasiswi di kamar Hotel Le Meridien Jakarta, beberapa waktu lalu, membukakan mata betapa keberadaan ‘ayam kampus’ memang benar adanya. Yang mencengangkan pengguna jasanya termasuk para dosen laki-laki. Mereka membarter tubuh aduhai ‘ayam kampus’ dengan nilai akademis. Bagaimana kisahnya ?

BEREDARNYA ‘ayam kampus’ di kota-kota besar di Pulau Jawa menjadi sebuah catatan pilu bagi generasi muda penerus bangsa ini. Kisah itu ternyata bukan hanya terjadi di kota-kota besar saja, tetapi kini sudah mulai menjalar hingga kota-kota kecil di daerah.

Kupang yang menjadi ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata menyimpan kisah peredaran beberapa mahasiswi yang menjajakan tubuhnya kepada para pria berkantung tebal. Ternyata bisik-bisik tentang ‘ayam kampus’ bukanlah  isapan jempol belaka. Fenomena itu  sudah menjadi sebuah ‘kewajaran’ yang diperlihatkan dengan tanpa rasa malu.

Beberapa hari terakhir ini, saya mencoba menelisik ke beberapa hotel dan kampus di Kupang, untuk membuktikan: Apa benar kisah ‘ayam kampus’ yang sudah mulai merambah Kota Kupang ini. Tiga hari pertama penelusuran ini tidak membuahkan hasil, karena informasi tentang ‘ayam kampus’ itu tertutup begitu rapi.

ayam kampus-image

Ilustrasi

Hari ke empat, saya mengubah strategi penelusuran. Kebetulan seorang sopir taksi, sebut saja namanya Henky, yang biasa mangkal di sebuah hotel ternama di Kota Kupang masih kerabat dekat saya, yang sering bertemu dalam urusan-urusan keluarga. Dia dengan polos mengungkapkan kisah ‘ayam kampus’ itu.

Sungguh sangat mengejutkan, karena bukan hanya anak-anak kampus dengan julukan mahasiswi, tetapi praktik itu juga dilakukan siswi-siswi SMA. Henky mengawali perbicangan, kisah bermula ketika seorang cewek menelponnya untuk diantar ke hotel. Cewek itu adalah seorang mahasiswi pada sebuah perguruan tinggi di Kota Kupang. Saban hari dia selalu menjemputnya di komplek perguruan tinggi itu lantas mengantarnya ke hotel.

Terima Order
Hari  berikutnya saya penasaran ingin melihat dari dekat apa yang dikisahkan Henky tersebut. Apa dan bagaimana aksi ‘ayam kamus’ itu mencari klien pengguna jasanya atau bagaimana dia menerima orderan dari pria yang ingin mengencaninya.

Berkat sang sopir itu, saya akhirnya berhasil mengobrol dengan seorang mahasiswi yang berprofesi ganda tersebut. Mahasiswa dengan tinggi badan sekitar 170 cm berkulit putih dalam mobil taksi itu berceritera banyak tentang mengapa dia harus melakonkan jalan hidup seperti ini.

Alasan klasik yang dikemukakannya adalah karena faktor ekonomi. Dia mengaku ayahnya hanyalah seorang karyawan swasta dengan gaji yang pas-pasan. Sementara ibunya hanya seorang PNS berijazah SMA. Kehidupan rumah tangga dengan penghasilan kedua orang tua ini tidak cukup untuk membiayai dia bersama tiga saudaranya. Kakaknya juga seorang mahasiswa sedangkan dua adiknya sedang belajar di bangku SMA.

“Saya memang harus menempuh jalan ini, karena harus bisa membantu biaya pendidikan dan kebutuhan keluarga. Sekali dikencani, harganya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta,” kata perempuan berusia 20 tahun itu, sebut saja Desy.

Mahasiswa semester VI pada FKIP di sebuah perguruan tinggi di Kota Kupang ini mengakui, hampir setiap hari dia menerima orderan melalui para sopir taksi yang mangkal di hotel-hotel. Namun tidak semua orderan itu diterimanya karena dia harus membagi waktu untuk kuliah sehingga orderan itu hanya bisa diterima pada saat dia tidak kuliah atau pada malam hari.

Bebeda  dengan Desy, Tanti seorang pelajar SMA yang tinggal di kompleks perumahan BTN Kolhua ini mengakui, dia juga sering menerima orderan dari tamu di hotel. “Kalau ada orderan, saya bisa layani setelah keluar sekolah. Sore harus balik lagi ke rumah. Tapi kalau tidak ada orderan, saya biasa minta bantuan sopir untuk mencari orderan ,” kata Tanti.

Tanti yang juga diwawancarai dalam mobil taksi yang dikemudikan Henky ini mengaku ayahnya seorang pengusaha asal Bali dan ibunya seorang PNS asal Rote. Namun ayah dan ibunya sudah pisah sehingga dia tinggal bersama ayahnya serta dua saudaranya.

“Mama kawin lagi dengan lelaki lain sehingga kami tinggal bersama ayah sendiri. Kesepian menjadi alasan utama saya mencari kesenangan di luar rumah,” kata Tanti polos.

Baik Desy dan Tanti, keduaya mengakui banyak teman-teman di kampusnya juga di sekolah mereka yang melakukan perbuatan ini dengan banyak alasannya. Mereka menuturkan dengan sangat polos kalau sering bertemu teman-temannya di hotel atau di tempat kencan lainnya. Kendati demikian, mereka selalu selektif menerima dan melayani tamu.

Setelah mendapatkan informasi  cukup dari Desy dan Tanti, saya mencoba mengendus lebih dalam praktik ‘gila’ yang mencoreng dunia pendidikan tinggi ini. Secara kasat mata penampilan mahasiswi di Kupang yang mayoritas berasal dari kampung-kampung itu terlihat sungguh alim, sopan, dan terkesan jauh dari praktik kotor itu.

Langkah berikutnya, saya mulai melakukan pendekatan khusus dengan Henky yang memang sangat tahu pergerakan ayam kampus itu. Bukan hanya Henky, sopir taksi lain sebut saja Laus juga mengaku pernah mengantar para mahasiswi itu. Laus dan Henky menjemput mereka di kampus dan mengantarkan mereka ke hotel. Sopir taksi ini menunggu hingga mengantar kembali ke rumah atau tempat lain sesuai permintaan mereka.

Saya akhirnya sepakat dengan Laus dan Hengky untuk bisa bertemu dengan beberapa mahasiswi itu untuk sebuah wawancara. Memang bukan perkara mudah untuk mendapatkan informasi lengkap soal yang satu ini.

Henky dan Laus berhasil menggaet tiga mahasiswi untuk diwawancarai. Kesepakatan dilakukan untuk bertemu di sebuah rumah makan yang memang sangat aman. Tiga mahasiswi itu akhirnya berhasil saya wawancarai pada sebuah malam.

Saya memang harus merogoh kocek untuk mentraktir mereka makan di sebuah rumah makan di bilangan  Oesapa, Kupang, sambil terus diawasi kedua sopir yang juga makan tetapi di meja lainnya. Usai makan juga mereka harus diberi tip, belum lagi uang rokok untuk kedua sopir tersebut.

Tiga mahasiswa itu sebut saja, Maya (22), Novi (24) dan Erna (25) ini mengaku telah lama menjalani dunia yang satu ini. Mereka bertiga juga memiliki latar belakang keluarga yang berbeda satu sama lain. Novi dari keluarga broken home  dan tinggal di Kupang, Maya datang dari  Sumba,  dan Erna dari Flores. Ketiganya juga tidak kuliah di satu kampus, tetapi mereka sering bertemu di hotel dengan tujuan yang sama yakni melayai kebutuhan seks kaum pria melalui order yang didapatkan dari sopir taksi. Mereka bertiga terlihat akrab dan berbicara amat sangat lepas.

Berpakaian Sopan
Ketiganya memang berpenampilan menarik. Make up mereka tipis dan seadanya, dengan pakaian yang sopan. Celana jeans dan jaket membalut tubuhnya, sehingga tidak mudah terlihat sebagai perempuan murahan. Ternyata ketiganya memiliki kesamaan yakni mahkota keperawanan mereka direnggut pacar, dan lekaki bejat itu pergi begitu saja. Kisah cinta merek berakhir tragis, untung saja perbuatan kotor itu tidak mendatangkan bencana kehamilan.

Novi mengisahkan, dia penah berkenalan dengan seorang pengusaha dari Bali melalui Facebook dua tahun silam. Pertemanan di dunia maya ini berlanjut hingga keduanya janjian bertemu di Kupang. Di sebuah hotel di bilangan Pasir Panjang keduanya menjalin kasih tanpa status. Novi akhirnya jatuh dalam pelukan pengusaha Bali itu yang kemudian menghadiahinya satu unit sepeda motor Honda Revo setelah selama dua malam menggaulinya.

“Saya sangat kaget ketika dia meminta untuk bersama ke sebuah dealer sepeda motor. Sepeda motor dia bayar kontan dan langsung memberikannya kepada saya. Dia juga sering mengirimi saya uang dari Bali,” kata Novi yang mengaku masih terus berhubungan dengan sang bos tersebut.

Ketiganya sepertinya berlomba berkisah tentang pengalaman mereka di dunia yang satu ini. Tidak terasa, empat bungkus rokok  sudah ludes dihisap bersama malam. Namun kisah mereka sepertinya tidak berakhir.

Digauli Dosen
Erna dan Maya bahkan membuka rahasia bahwa mereka telah digauli beberapa dosen di kampusnya. Bukan hanya dosen muda yang belum beristri, tetapi juga dosen-dosen tua yang memang masih kuat ‘bermain’.

Keduanya bersemangat menceriterakan awal mereka bercinta dengan para dosen itu. Ketika usai ujian semester, Erna dan Maya yang berotak pas-pasan itu mendatangi dosen untuk menanyakan nilai ujian mereka. Jika nilainya jelek, mereka memberanikan diri meminta sang dosen untuk memperbaiki nilainya.

Beta (saya= bahasa Kupang) datang ke rumah dosen. Saya tanya nilai, kalau nilai saya merah, saya rayu sang dosen untuk memberikan nilai baik. Dosen sepertinya sedang mengharapkan sesuatu. Beta langsung bilang, kalau Bapa mau boleh juga. Eh ternyata dia ajak beta main. Jadi sudah to,” kata Maya polos tanpa malu.

Hal yang sama juga diakui Erna yang berkulit putih dan selalu tampil dengan make up tipis tapi memiliki daya tarik yang cukup. Erna mengaku, tidak semua dosen yang bisa seperti itu, tetapi mereka juga selalu mempelajari perangai sang dosen.

“Memang ada dosen yang nakal. Kalau mau sama mau bisa terjadi dan bayarannya nilai selalu baik,” kata Erna yang juga mengaku sering melayani dosen dan mendapatkan uang bukan hanya nilai akademis.

Ketika ditanya, apakah mereka ingin kembali ke jalan yang benar setelah tamat kuliah, baik Novi, Maya dan Erna sama-sama mengakui mereka hanya melakukan perbuatan ini selama kuliah. Dari perbuatan mereka itu, mereka sama sekali tidak memiliki kekurangan dalam memenuhi kebutuhan mereka seperti pakaian, dan kebutuhan lainnya. (*)

Penulis: Bonne Pukan
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Dana Bantuan Itu Tidak Semua Dibagikan

Next Story »

Mencari Tanah Kehidupan Kekal

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *