Ritual Hogor Hini

Ekspresi Syukur pada Leluhur

Bagi petani garam di Kampung Nangalekong memberi makan kepada luluhur merupakan kewajiban. Seperti apa?

SIANG itu mentari tepat sepenggalah dan memancarkan teriknya saat saya memasuki Kampung Nangalekong, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. Padahal jarum jam sudah menunjukan pukul 14.00 wita, seharusnya terik mentari saatnya mereda. Menurut warga yang saya tanyai, ritual hogor gini yang akan digelar di kampung itu biasanya berlangsung pukul 15.00 wita atau 16.00 wita.

Mama Vero selaku tetua adat sedang meletakan makanan pada korak di depan tungku dalam pondok tempat masak garam saat digelar ritual hogor hini.( Foto: FBC/Ebed)

Mama Vero selaku tetua adat sedang meletakan makanan pada korak di depan tungku dalam pondok tempat masak garam saat digelar ritual hogor hini.( Foto: FBC/Ebed)

Petrus Blasius (34) Ketua RT menyebutkan, ritual itu sebagai ucapan rasa syukur yang diwujudkan para petani garam di Kampung Nangalekong dengan memberi persembahan kepada leluhur setiap tanggal 23 Desember. “Hogor hini merupakan wujud rasa syukur yang dilakukan dengan memberi makan nenek moyang dan makan bersama nenek moyang. Selain itu untuk mempersiapkan batin menyambut Natal, ” ujarnya.

Memasak garam bagi warga Nangalekong dan kampung garam di sebelah Timurnya, merupakan pekerjaan turun-temurun. Berbekal peralatan sederhana dan warisan leluhur, masyarakat Nangalekong tetap beraktivitas memasak garam, karena minimnya kualitas sumber daya manusia warganya. Hogor hini yang digelar pun dimaknai untuk menghormati leluhur yang telah mengajari mereka jadi petani garam.

“Ritual hogor hini juga dimaknai meminta restu leluhur agar dalam setahun memasak garam kita bisa mendapat rezeki yang baik, dan diberikan kesehatan. Selain itu agar dalam bermasyarakat juga tidak ada masalah dan kampung mereka terhindar dari malapetaka. Kita kalau bekerja sendiri tentu akan kesulitan. Untuk itu kita membutuhkan peran leluhur,“ tutur Piter, anak dari Anastasia dan Theodorus Manggo yang juga petani garam.

Tata Cara
Tepat pukul 16.15 wita, segala perlengkapan berupa daging ayam, nasi putih, tembakau, sirih pinang, telur ayam, beras kuning, minyak kelapa, kayu dan daun untuk mengoleskan minyak kelapa ditaruh di lida (nampan dari anyaman daun lontar) dipegang seorang lelaki.

Sementara seorang lelaki lainnya memegang karung berisi nanas, kelapa muda, dan arak (moke). Ritual dimulai dari rumah Veronika Nika (75) yang bertindak selaku tetua adat. Setelah mengecek segala perlengkapan, ritual dimulai dari pondok memasak garam di samping rumah Veronika.

Tiga buah kayu bakau atau bambu ditancapkan di tanah depan tungku memasak garam dengan wadah untuk memasak garam berupa drum bekas masih ditaruh di atas tungku. Di atas kedua kayu tersebut dipasang tempurung kelapa (korak ) sebesar telapak tangan. Dalam korak diletakan nasi, daging, telur ayam dan moke seadanya. Setelah meletakan makanan dan berdoa tetua adat mengambil abu hitam yang menempel di dasar (pantat) periuk dan mengoleskan pada wajah seluruh anggota keluarga yang berada di dalam rumah.

Sesudahnya, kembali tetua adat menyelupkan daun pada minyak kelapa dan sekali lagi mengoleskannya pada kepala, dahi dan dada seluruh anggota keluarga seraya membuat tanda salib. Kelapa muda yang sudah dipotong lelaki yang mendampingi tetua adat diserahkan kepada tetua adat selanjutnya tetua adat menyiramkannya di kepala orang yang memasak garam. Setelah itu kelapa diletakan terbalik (mulut ke bawah) pada sebuah kayu. Ritual ini biasa disebut lobat kabor kubar atau upacara pendinginan di kuwu -pondok untuk memasak garam-.

“Mama Veronika baru tahun ini kami tunjuk untuk buat ritual adat sebagai Selung Nara atau pengganti saudara. Kita ambil Mama Vero karena merupakan orang yang paling tua di kampung ini. Kata-kata adat selalu diucapkan Mama Vero di setiap pondok guna mengajak semua leluhur untuk mengikuti ritual ini serta memberi berkah bagi kami supaya setahun ke depan rezeki kami lebih baik, “ sebut Piter-panggilan Petrus Blasius.

Setelah mengadakan ritual di delapan pondok, Ivono Lasanto yang biasa disapa Pono yang bertugas memegang nampan berisi persembahan (lida ) berjalan di depan menuju mahe -altar tempat persembahan-.

Perlengkapan untuk persembahan di lada diambil tetua adat. Sirih pinang, tembakau, telur ayam diletakan di atas batu ceper. Makanan diletakan di atas korak di ujung tiga batang kayu depan batu ceper.Nanas dipotong lalu isinya diletakan di batu ceper serta moke disiram di batu ceper. Setelah tetua adat makan nasi, nanas, daging dan minum moke semua orang yang hadir di mahe dipersilahkan makan dan minum moke.

Kelapa muda dipotong, airnya dipakai tetua adat menyiram kepala semua yang hadir serta mengoleskan kembali minyak kelapa di kepala, dahi, dan dada seraya membuat tanda salib pada semua yang hadir seperti saat di pondok tempat masak garam.

Korban Hewan
Mama Vero dan Piter selaku ketua RT menyebutkan, mahe yang sekarang dulunya berada di sebelah Selatan kampung di sebuah pohon rimba besar. Dua bulan lalu, tutur Piter, mahe dipindah ke dekat pantai setelah pemerintah secara simbolis menyerahkan tanah yang sejak dahulu mereka tempati menjadi hak milik.

Piong yang diletakan di dalam korak di atas dua batang kayu serta kelapa muda di digantung di kayu satunya. (Foto: FBC/Ebed)

Piong yang diletakan di dalam korak di atas dua batang kayu serta kelapa muda di digantung di kayu satunya. (Foto: FBC/Ebed)

“Sebelum pindah mahe, kami buat ritual adat terlebih dahulu. Sama seperti ritual hogor hini, kami juga harus bunuh binatang, harus ada darah. Kalau ada uang cukup kami biasa pakai babi tapi kalau tidak ada uang kami cukup pakai ayam saja,“ jelas Mama Vero.

Hewan yang disembelih, ungkap Mama Vero, dagingnya dipakai untuk piong, memberi makan para leluhur dan diletakan di pondok maupun di mahe. Air kelapa muda dipakai untuk mendinginkan serta dimaknai untuk melindungi warga dari penyakit dan memperoleh rezeki yang lebih baik setahun ke depannya.

Ditambahkan Piter, mengoleskan abu hitam di wajah melambangkan, kerja memasak garam merupakan pekerjaan kotor. Hal ini sebut Piter terlihat dari tanah yang diambil di pantai untuk memasak garam serta proses memasak garam menggunakan kayu bakar membuat pemasak garam harus kepanasan, terkena asap dan abu. Setiap warga kampung dan orang yang mengikuti ritual ini, urainya, wajahnya harus dikotori dengan abu hitam tadi. Saat meliput ritual ini, saya juga ikut dibedaki abu hitam ini.

“ Saat ritual hogor hini tadi hanya dibuatkan ritual di delapan pondok tempat masak garam saja, karena mereka yang sampai sekarang masih aktif masak garam. Tapi pondok yang lainnya pun kalau setelah ritual digelar mau masak garam tidak menjadi persoalan. Walau hanya digelar di delapan pondok, itu sudah mewakili semua, “ sebut Mama Vero.

Di kampung Nangalekong, jelas Piter, terdapat 15 keluarga yang punya pondok dan memasak garam. Kalau dulu banyak yang masak garam tapi sekarang banyak yang sudah jarang melakukannya karena ketiadaan uang untuk beli kayu bakar.

Pantangan
Kelapa yang dipakai saat ritual hogor hini harus benar-benar kelapa muda yang tidak berisi. Proses untuk mengambilnya dari pohon pun seperti dikatakan Pono harus memperhatikan syarat yang ditentukan. Kelapa muda yang dipetik, beber Pono, ranting atau tangkainya tidak boleh terlepas dan tetap menempel pada kelapa. Kelapa yang dipetik harus dibawa turun sendiri oleh si pemanjat dan tidak boleh menyentuh tanah. Kelapa yang dipotong melingkar dekat mata, kulitnya harus tidak boleh terlepas.

Selain itu, ember atau jeriken yang dipakai untuk ambil air laut bisa dipakai juga untuk ambil air minum tapi tidak boleh ditendang atau menggunakan kaki untuk menggesernya. Selama memasak di pondok, tambah Pono, dilarang memakai kaki untuk memasukan kayu bakar ke tungku. Di dalam tungku tidak diperkenankan ada besi dan sejenisnya.

“ Selama masak garam juga tidak boleh berbahasa kasar, memaki atau omong jorok serta ribut dan memusuhi anggota keluarga atau tetangga. Kita sebenarnya berpantang selama dua bulan. Sekarang ekonomi sulit jadi targetnya setelah ritual hogor hini cuma satu minggu saja sudah bisa masak garam lagi. Bila pantangan dilanggar, rezeki akan surut serta kita akan terkena penyakit,“ sebutnya.

Warga Kampung Nangalekong yang terwadahi dalam satu RT, kata Piter, harus dilibatkan semua dalam ritual hogor hini, tapi belum ada kata sepakat dan membuat pertemuan. Hanya 15 keluarga pemasak garam saja yang dilibatkan penuh. Selama menyelenggarakan ritual, biasanya tidak turun hujan, cuma gerimis sebentar saja. Sebelum ritual bila tidak pernah hujan, beber Piter, dia akan minta orang yang baru datang atau orang luar yang datang ke Kampung Nangalekong untuk potong dahan di pohon rimba di Mahe. Warga Nangalekong yakin, setelah salah satu ranting pohon dipotong, satu dua jam sesudahnya akan turun hujan lebat.

“ Biasanya setelah ritual adat malamnya kami semua warga berkumpul dan makan bersama serta menari. Kali ini karena ekonomi sedang sulit, kami tidak buat pesta,”pungkas Piter. (*)

Penulis: Ebed de Rosary
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Liang Bua Lambungkan Arkeolog Indonesia

Next Story »

Kini Gua Jepang Itu Disulap Jadi Wisata Rohani

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *