Bermula Kayu Terapung, Jadilah Musik Kampung

musik-kayu

Anggota kelompok Tawa Tana saat sedang beraksi. (Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Sebongkah kayu mengapung di laut. Terdampar di bibir Pantai Waiara. Diubah menjadi dua buah ukulele. Inilah cikal bakal sanggar musik kampung ‘Tawa Tana’, Waiara

AWALNYA kelompok ini bernama Ban Boler. Apa pun jenis musik yang kita mainkan dan seberapa besar pengetahuan kita tentang musik, namun yang pasti suatu saat kelak, kita akan kembali kepada musik kita sendiri yakni musik etnik.

Ina Nian Tanawawa, Ina Meteng Ami Gete. Amang Lero Wulang Reta, Amang Paok Ami Mosa ( Bumi yang kita pijak merupakan harapan besar bagi kita.Langit yang kita junjung memberi kita kesehatan )

Itulah sepenggal lagu berbahasa Sikka berjudul Ina Nian Tanawawa yang dinyanyikan sanggar musik kampung Tawa Tana, Waiara, saat festival Pantai Koka digelar, baru-baru ini, di Pantai Koka, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka. Syair lagu lawas ini dinyanyikan ketika menyambut rombongan Bupati Sikka saat hendak menuju panggung acara. Bupati dan Wakil Bupati Sikka bersama rombongan terlihat menari mengikuti irama lagu yang dilantunkan.

Lagu Ina Nian Tana Wawa kembali dipopulerkan oleh sanggar musik kampung Tawa Tana lewat sentuhan arensemen musik yang diperbaharui. Lewat album rekaman ulang, lagu daerah Sikka ini coba kembali dihidupkan. Dalam setiap pentas pun, lagu ini selalu diperdengarkan oleh sanggar ini.

Mulai Berguguran
Yohanes Fernandes Ketua Sanggar Tawa Tana, Waiara yang ditemui FBC usai pementasan mengatakan, sanggar Tawa Tana yang dibentuk tahun 2002 didirikan guna menggali kembali musik kampung Nian Sikka. Beberapa anak muda didukung orang tua merasa terpanggil melihat satu dua sanggar musik kampung yang masih tersisa di tengah gempuran grup – grup band yang tidak membawakan lagu – lagu daerah.

“Kalau dulu sebelum ada band, sanggar musik kampung jadi primadona. Setiap acara adat, perkawinan maupun sambut baru musik kampung selalu diperdengarkan. Grup musik kampung pun berkembang dan bisa menghidupi anggotanya,“ ujarnya.

Namun seiring menjamurnya band, organ tunggal dan alat musik lainnya, masyarakat mulai melupakan sanggar musik kampung. Satu persatu sanggar musik kampung sebut Yohanes mulai bubar karena tidak sanggup bersaing. Para personelnya pun mulai menekuni pekerjaan lain dan total meninggalkan sanggar yang dulunya, kata Yohanes, jadi pekerjaan utama anggotanya demi menafkahi keluarga.

“ Untuk di Sikka, kelompok atau grup musik beraliran etnik bisa dihitung dengan jari, mungkin dua atau tiga saja,” katanya sambil menyebut ‘Bunga Kelan’ sebuah grup musik etnik Sikka yang diasuh pemerintah daerah Sikka dan orkestra ‘Satu Sikka di Nita’ yang didominasi anak muda.

Dalam setiap pementasan Tawa Tana pun bukan hanya membawakan lagu daerah tapi bisa juga membawakan lagu pop, dangdut atau lainnya tergantung permintaan. Meski kami musik tradisonal, tutur Yohanes, kami bisa juga memainkan lagu – lagu lainnya dengan irama yang lebih modern.

Ban Boler
Herman, salah seorang pendiri sanggar musik etnik ini kepada FBC menyebutkan, Tawa Tana sebelum didirikan pada tahun 2002, dikisahkan Herman, suatu siang di tahun 1999, dirinya duduk di Pantai Waiara, Maumere. Seraya menatap laut, matanya tertuju pada sebongkah kayu yang terombang – ambing dihempas gelombang. Perlahan kayu itu mendekat dihempas arus, kemudian terdapampar di pesisir pantai.

“Kayu itu pun saya ambil dan saya sampaikan kepada guru musik saya, Stanislaus Nong yang merupakan salah satu pentolan musik etnik di Sikka bahwa saya akan membuat ukulele. Beliau mendukung, saya akhirnya membuat dua buah ukulele ( gitar kecil ) dari kayu tersebut,” ceritera Herman.

Ukulele itu, sebut Herman, dibuatnya sendiri karena dirinya sangat mencintai musik. Bermodalkan dua buah ukulele ini, dirinya mengajak beberapa teman yang mempunyai minat yang sama untuk membentuk grup musik. Akhirnya, lahirlah grup musik yang diberinya nama ‘ Ban Boler’.

“ Ban “ diambil dari kata bahasa Sikka “ Ba “ yang berarti mengalir dan “ Boler “ atau “ Baler “ yang berarti “ kembali atau balik ”. Ban Boler ungkap Herman memiliki makna merujuk pada saat awal dirinya menemukan sebatang kayu yang yang dibawa arus sungai dari darat ke laut dan kembali dihempas gelombang hingga terdampar di bibir pantai.

Makna kata ini yang selalu menginspirasi Herman dan teman – temannya dalam berkesenian dan mempopulerkan musik etnik seraya mengumandangkan lagu – lagu daerah Nian Tana Sikka. Apa pun jenis musik yang kita mainkan dan seberapa besar pengetahuan kita tentang musik, namun yang pasti, kata Herman, kita akan kembali kepada musik kita sendiri yakni musik etnik.

“ Dalam perjalanan, Ban Boler mengalami perpecahan. Banyak personelnya yang sibuk dan kami tidak kompak. Kami lalu membentuk lagi grup musik baru tapi tetap mengusung aliran musik yang sama, musik etnik ,“ sebutnya.

Bersama dengan mantan pentolan “ Ban Boler “ seperti Gen, Manis, Awa dan mengikutsertakan Pieter, seorang murid Stanislaus Nong. “ Tawa Tana “ sebuah grup musik etnik pun berdiri dan hingga sekarang tetap eksis dan berkeliling Nian Sikka unjuk kebolehan.

Ramai Ditanggap
Meski berada di pusaran persaingan dengan grup musik modern yang mempergunakan peralatan canggih, toh hal ini tidak membuat Tawa Tana ciut nyalinya. Pangsa pasar musik tradisional masih diminati masyarakat Kabupaten Sikka. Yohanes optimis selama mereka menjiwai musik etnik dan terus mengasah kemampuan, model kesenian yang diusung Tawa Tana bisa memberikan penghidupan bagi anggotanya.

“Kalau musim kemarau saat banyak dilaksanakan pesta nikah atau sambut baru kami sampai kewalahan menanggapi permintaan pentas. Terpaksa kami hanya bisa melayani satu dua permintaan saja dalam sehari. Kadang bisa ada lima sampai enam permintaan pentas dalam waktu yang bersamaaan sehingga terpaksa kami tolak yang pesan belakangan,“ kata Yohanes.

Selain panggilan pentas dari rumah ke rumah, Tawa Tana juga terlibat menghibur para wisatawan asing di Hotel Sea World dan hotel lainnya serta para tamu pemerintah yang berasal dari luar daerah. Tawa Tana juga selalu ditanggap pihak swasta dan LSM saat menggelar acara. Selain di Sikka, tambah Yohanes, Tawa Tana juga pernah manggung di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Kalau di Sikka hampir menyeluruh. Semua daerah sudah kami singgahi ucap Yohanes bangga. Pada tahun 2010 Tawa Tana ungkapnya mendapatkan kehormatan sebagai salah satu kelompok musik etnik dari Provinsi NTT yang turut mengambil bagian dalam acara Solo International Contemporary Ethnic Music (SIEM) di Solo, Jawa Tengah.

“Grup musik etnik tidak banyak diminati karena memikul tanggung jawab besar untuk menghidupkan kembali sejarah dan budaya yang bukan hanya nyaris punah tetapi juga yang sudah punah, dan itu jelas tidak mudah. Kami mencoba melakukan itu semampu kami, “imbuh Yohanes.

Untuk sekali pementasan, Tawa Tana meminta “ Uang Sirih Pinang “ atau tarif 1 juta hingga 1,5 juta rupiah. Penentuan tarif pun kadang disesuaikan dengan jarak tempat pementasan dan lamanya waktu pementasan.Kadang besarnya tarif, beber Yohanes, bisa dibicarakan terlebih dahulu.Sanggar juga ucapnya tidak ingin membebani masyarakat yang sangat merindukan penampilan mereka.

Melestarian Seni Budaya
Saat digelar Festifal Pantai Koka, Bupati, Wakil Bupati Sikka dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka merasa terkesan dengan penampilan grup musik ini. Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar sangat mengapresiasi kelompok musik ini yang bisa bertahan dan mempopulerkan musik etnik Sikka. Hal senada juga disampaikan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Sikka, Wilhelmus Sirilus, SSos. Dikatakan Sirilus, dirinya sengaja mengundang sanggar Tawa Tana agar pengunjung festival dan masyarakat Sikka bisa menghargai dan mengenal musik etnik Sikka. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

‘Randang Uma Rana’ Ritual Membuka Lahan Baru

Next Story »

Tarian Rangkuk Alu, Ajang Kaum Muda Mencari Jodoh

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *