Rumah Adat Korke Bale

Bermuaranya Suku-suku di Riangkemie

Sebagai penanda eksistensi komunitas suku-suku, korke bale menjadi tempat bermusyawarah anak suku di Desa Riangkemie untuk menyelesaikan sengketa, dan merancang masa depan

BAGI masyarakat Lamaholot–sebutan bagi suku-suku di Kabupaten Flores Timur, Lembata, dan Solor–, rumah adat (korke) penting sebagai penanda eksistensi sebuah suku atau komunitas suku di sebuah wilayah. Salah satu komunitas suku yang ada di Kabupaten Flores Timur berada di Desa Riangkemie, Kecamatan Ile Mandiri.

Rumah adat atau dalam bahasa Lamaholot disebut korkē berbentuk rumah panggung tanpa dinding yang ditopang dengan delapan buah tiang utama. Rumah adat ini dibangun melalui proses panjang dengan serangkaian ritual dimulai dari pemilihan bahan dan penebangan pohon sampai rumah adat tersebut selesai dikerjakan.

Pengerjaan bangunan rumah adat dilaksanakan pada siang hari dan di malam harinya masyarakat menjaganya sambil menari dan bernyanyi, mengisahkan asal usul dan berbagi kisah mitologi. Kegiatan ini berlangsung terus menerus sampai proses pengerjaan rumah adat selesai.

Korkē biasanya didirikan di tengah-tengah kampung dan dikelilingi rumah-rumah adat dari suku yang berperan dalam wilayah tersebut. Rumah adat korkē merupakan bangunan yang sangat penting dan sangat  disakralkan oleh masyarakat suku yang memilikinya.

Korke bale di Desa Riangkemie, Flores Timur. (Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Korke bale di Desa Riangkemie, Flores Timur. (Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Riangkamie

Desa Riangkemie yang dikenal masih memiliki tradisi ritual adat,  berjarak sekitar 20 kilometer dari kota Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Menempuh perjalanan ke arah Barat kota Larantuka hingga pertigaan jalan seberang jembatan Oka kita akan berbelok ke Utara menyusuri jalan aspal dengan kondisi jalan yang sebagiannya masih berlubang sana-sini.  Rumah adat yang dinamakan korke bale berada di tengah kampung persis di belakang poliklinik Desa Riangkemie.

Kepala Desa Riangkemie, Thomas Iryanto Lewar menceritakan kepada saya bahwa, korke bale dikenal juga dengan nama Si Ola, karena bapak Si Ola adalah orang yang membawa tempat ini dalam bentuk jadi dari suatu tempat  yang dinamakan Wulan.

Menurut Thomas, pekerjaan pembuatan koke bale penuh aroma mistik. Si Ola diharuskan membangun koke bale dalam waktu empat hari. Pekerjaan ini harus dilakukan untuk memenuhi permintaan Raja Lagadoni yang anaknya ingin dinikahinya.

“ Si Ola mampu menjawab tantangan raja membangun koke bale dalam waktu hanya empat hari. Semua ini dilakukan dengan dibantu kekuatan gaib sehingga koke ini merupakan hasil dari kerja tangan gaib termasuk motif Si Ola yang cuma ada di daerah sini. Dia harus membangun ini karena cinta dengan anaknya Raja Lagadoni, “ ujar Kades Thomas.

Koke bale yang ada sekarang, kata Thomas lagi, dibangun tahun 1913 saat warga Desa Riangkamie pindah ke lokasi yang sekarang. Sebelumnya, kampung lama berada di atas gunung dan masyarakat pindah ke tempat sekarang yang berada di bawah, setelah jalan dibuka oleh pemerintah kolonial Belanda.

Koke dipakai sebagai tempat bertemunya semua anak suku untuk baung boting atau musyawarah dalam merencanakan sesuatu seperti membuka kebun atau lainnya. Di bawah koke bale terdapat halaman yang dipakai selain untuk berkumpul juga menari dolo-dolo.

Diukir Rayap

Dikisahkan Ino Lian seorang kepala dusun yang ikut mendampingi Kades Thomas, tahap pertama membuat koke bale dilakukan dengan menyiapkan tiang atau rie oleh suku-suku yang ada di desa. Ada delapan tiang utama yang melambangkan delapan suku yang ada, dan berperan di desa ini yakni Koten, Kelen, Hurit, Maran, Mukin, Molan, Lian dan Beguir. Dikatakan Yoseph, suku yang sudah menyatu di dalam ini seperti Lewar, Welan, Kelen Nara Ebang, Blemang dan Weking dilibatkan.

Tiang bagian kanan, kata Ino, berasal dari kayu khusus yakni kayu kepapa yang disiapkan suku Koten. Semua kayu dan peralatan  yang dipakai membangun korke bale dibawa masuk ke desa dengan menggelar ritual adat terlebih dahulu.

Thomas Iryanto Lewar, Kades Riangkemie di depan koke bale. (Foto : FBC/Ebed de Rosary)

Thomas Iryanto Lewar, Kades Riangkemie di depan koke bale. (Foto : FBC/Ebed de Rosary)

“Kita semua menyiapkan atap yang namanya nuki yang berasal dari daun lontar, sementara bambu disiapkan secara gotong royong. Jika semuanya lengkap pada saat pembuatan, tiap malam harus ada yang jaga sampai pekerjaan selesai. Suku Molan Lango Biri yang membangun korke ini. Ukiran di tiang ini mereka yang ukir sebab mereka ketutunan dari Si Ola, “ jelasnya.

Ukiran di tiang namanya kenire Si Ola atau motif Si Ola. Di Flores ukiran motif ini hanya ada di rumah adat korke bale. Ukiran ini, kata Ino, tidak dihasilkan oleh tangan manusia tapi dibentuk oleh rayap dan ukiran ini hanya bisa dilakukan oleh keturunan dari Si Ola.

Ukiran di korke bale yang ada sekarang ini, tambah Ino, diukir oleh seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar tanpa belajar terlebih dahulu. Karena dia turunan dari Si Ola maka dengan sendirinya bisa melakukan itu.

Meterai di Dahi

Setelah pekerjaan pembangunan koke bale selesai, tutur  Thomas, saat upacara seremonialnya semua suku-suku diundang termasuk suku yang punya hubungan dengan desa ini tapi yang berada di luar desa. Raja dari Larantuka juga diundang.

“Sebelum dibuat ritual adat di koke bale, dibuat dulu adat di pinggir kampung yang disebut blakun. Upacara dilakukan dengan membuat sebuah sesajen sebagai isyarat kepada roh-roh jahat di mana mereka sudah kita berikan bagiannya berupa makanan sehingga mereka tidak masuk kampung lagi. Juga kita berikan keberanian kepada panglima perang waktu itu (zaman dahulu) dengan memberikan makan secara khusus,”sambung Thomas yang beribukan perempuan asal Pulau Semau, Kabupaten Kupang.

Setelah itu, urai Thomas, seremonial lanjutan digelar dengan menyembelih hewan korban. Ada beberapa pihak, dimulai oleh pihak pertama belake setelah itu pihak kedua Opu dan pihak ketiga Ema Bapa. Dan juga penghargaan khusus kepada raja yang datang.

Saat seremonial adat, ungkapnya, tokoh-tokoh adat akan makan sirih pinang bersama kemiri dan air liur mereka ditampung. Setiap orang yang ada di desa diberi tanda atau dimeteraikan (nilu) di dahi dan leher memakai tampungan air liur tersebut sebagai tanda kita diberikan kekuatan untuk menghindarkan diri dari penyakit dan gangguan lainnya. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Sa’o Nggua, Rumah Adat Etnis Lio

Next Story »

Usir Roh Jahat Kambing pun Disembelih

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *