Taufik Dari Nelayan Menjadi Petani

Bermimpi Penuhi Kebutuhan Sayur di Pulau Komodo

petani-taufik-01

Taufik sedang menyiangi rumput di kebunnya yang sudah ditanami. (Foto: FBC/Kornelius)

Karena kondisi tanah tandus dan gersang, kebutuhan warga Pulau Komodo akan sayuran didatangkan dari luar pulau. Seorang nelayan melihat hambatan ini sebagai peluang

BERBEDA dengan kebanyakan warga penghuni Pulau Komodo yang biasanya berprofesi sebagai nelayan, Taufik (45) lebih memilih sebagai petani. Saat saya temui di area kebun miliknya yang terletak di pinggiran Kampung Komodo, bapak enam anak ini bercerita panjang lebar perihal suka duka hidupnya sebagai nelayan tradisional yang dulu ia jalani kemudian beralih menjadi bercocok tanam.

Saat itu, Taufik bersama istri dan seorang anaknya sedang membersihkan kebunnya yang sudah berbagai jenis tanaman seperti jagung, sayur-sayuran, pepaya dan kacang-kacangan. “Kebun ini milik orang tua dari istri saya. Saya sendiri berasal dari Sape dan sudah empat tahun saya membuka kebun ini,” ujar Taufik membuka percakapan kami siang itu.

Sebelum pindah ke Komodo, ia dan keluarga menetap di Sape dan bekerja sebagai nelayan tradisional. Di kampung halamannya, sehari-hari ia melaut mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia memiliki sebuah bagang untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Buka Kebun dan Gali Sumur
Sejak berdomisili di Pulau Komodo ia memulai hidup baru dengan membuka kebun di atas tanah milik orang tua dari istri tercinta. Banyak warga Komodo heran ketika melihat Taufik membuka kebun yang sudah lama tidak digarap oleh keluarga istrinya. Maklum, saat itu lahan seluas hampir satu hektar itu dipenuhi semak belukar dan ditumbuhi pohon-pohon besar.

Namun, tekad Taufik sudah bulat. Ia terus bekerja keras membersihkan kebun tersebut. Ia mengaku tertarik untuk bertani ketimbang melaut karena ada peluang bisnis di wilayah itu. Ia melihat bahwa hampir semua orang Komodo adalah nelayan dan tidak ada orang yang berkebun sehingga segala kebutuhan hidup terutama sayur mayur harus didatangkan dari luar pulau. Ia pun bermimpi suatu hari nanti mampu memenuhi kebutuhan sayur mayur warga Pulau Komodo.

Taufik pun termotivasi untuk bekerja keras membuka kebun yang ditinggalkan oleh mertuanya. Namun, setelah lahan selesai dibersihkan ia dihadapkan pada persoalan air. Di kampung Komodo sulit mendapatkan sumber air. Apalagi air untuk menyiram tanaman.

petani-taufik-02

Taufik sedang menggali sumur untuk menyiram tanaman di kebunnya. (Foto: FBC/Kornelius)

Ia tidak putus asa. “Saya kemudian berpikir untuk menggali sumur. Saya yakin pasti ada air, meskipun daerah ini terkenal gersang dan panas,”tutur Taufik. Ia kemudian mulai menggali sebuah sumur di area ladang garapannya. Ia menggali dan terus menggali sampai akhirnya mendapatkan air di kedalaman sekitar delapan meter. Ia senang, usahanya tidak sia-sia.

Dengan sumur itu pula, Taufik mulai menanam berbagai jenis sayur-sayuran seperti bayam, kangkung, cabe, sawi, papaya dan kacang-kacangan. Namun pekerjaan belum selesai. Tantangan lain datang menghadang usahanya. Ia harus bekerja keras untuk mengatasi hama terutama babi hutan dan hewan liar lainnya yang sering masuk ke kebun dan merusak tanaman. Selain itu, ia juga harus berjuang keras melindungi tanaman dari serangan kambing peliharaan warga kampung. Ia tak kehilangan akal. Ia kemudian membuat pagar keliling kebun menggunakan kayu dan siang malam ia menjaga kebunnya agar tidak dirusak oleh binatang hutan.

Jerih payahnya mendatangkan hasil yang memuaskan. Kebun sayurnya menghasilkan pendapatan yang lumayan. Setiap minggu ia menjual hasil kebunnya itu kepada warga kampung dan bila stoknya banyak setiap dua minggu ia menjualnya ke Labuan Bajo. “Saya jual sayur di kampung ini tapi kalau sayurnya banyak, setiap dua minggu saya bawa untuk jual ke Labuan Bajo,”ujarnya bangga.

Ia mengaku setiap harinya mendapatkan uang Rp. 20.000-Rp 30.000. Meskipun, penghasilannya belum cukup memuaskan, namun ia mengaku usahanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan warga kampung.

Memasuki musim hujan, kini lahan kebunnya ditanami jagung, kacang-kacangan dan tanaman umur panjang. Dan, pada musim panas ia berencana lahan itu akan ditanami sayur-sayuran.

Soal profesi awalnya sebagai nelayan, Taufik mengaku belum memikirkannya lagi. “Saya belum berpikir untuk kembali menjadi nelayan. Saya mau urus kebun dulu. Saya minta pemerintah kalau bisa bantu saya traktor, mesin penyedot air, dan obat-obatan pembasmi hama,”pinta Taufik. Ia pun bertekad akan terus menggarap lahan kebunnya itu demi memenuhi kebutuhan keluarga dan warga sekitarnya.(*)

Penulis : Kornelius Rahalaka
Editor: EC. Pudjiachirusanto

Dari Biara Mengguncang Sastra Indonesia

Next Story »

Padagang Kaki Lima Bergelar Insinyur

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *